Dinamika kehidupan beragama di era kontemporer sering kali terjebak pada dua kutub ekstrem: formalisme tekstual yang kaku atau spiritualitas bebas yang tercerabut dari akar syariat. Di tengah arus modernitas yang serba cepat ini, umat Islam memerlukan sebuah pendekatan yang utuh, integratif, dan membumi. Kebutuhan mendesak akan pemahaman keagamaan yang komprehensif inilah yang mengemuka dalam gelaran Pengajian Rutin Ranting Muhammadiyah Balun Srikaton, Cepu yang diselenggarakan pada Jumat, 18 September 2026, bertempat di Masjid TK ABA 1, Balun Srikaton Gang 1, Cepu.
Ustaz Zaenal Arifin, S.Ag., M.M. memaparkan materi tausiyah yang mencerahkan. Beliau mengupas tuntas bagaimana ibadah seorang Muslim tidak boleh hanya dipandang sebagai rutinitas mekanis, melainkan harus didekati melalui tiga pilar epistemologi yaitu Bayani, Burhani, dan Irfani. Artikel ini akan membedah secara mendalam esensi dari ketiga pendekatan tersebut, membawanya ke dalam ranah refleksi praktis yang ramah pembaca, sarat makna, dan relevan dengan tantangan hidup sehari-hari.
Menemukan Kembali Esensi Beragama yang Utuh
Masjid TK ABA 1 di Balun Srikaton sore itu dipadati oleh jamaah yang antusias mengikuti pengajian rutin. Suasana kebersamaan yang hangat mencerminkan denyut nadi masyarakat yang haus akan siraman rohani yang tidak hanya menyentuh emosi, tetapi juga mencerdaskan akal dan mengokohkan teks keagamaan. Ustaz Zaenal Arifin, S.Ag., M.M. menegaskan bahwa kualitas beragama seseorang sangat ditentukan oleh sejauh mana ia mampu memadukan pemahaman tekstual, nalar rasional, dan kedalaman penghayatan batin.
Selama ini, banyak orang beribadah hanya berdasarkan tradisi turun-temurun (taklid) tanpa memahami hikmah di baliknya. Akibatnya, ibadah kerap kehilangan daya transformatif untuk mengubah perilaku sosial ke arah yang lebih baik. Melalui kerangka epistemologi Bayani, Burhani, dan Irfani, Ustaz Zaenal mengajak jamaah untuk merombak cara pandang beragama menjadi jauh lebih holistik, bermakna, dan berdampak nyata bagi peradaban.
Dimensi Bayani: Meneguhkan Akar Teks dan Fikih Ibadah
Pilar pertama dalam bangunan epistemologi beragama adalah Bayani, sebuah pendekatan yang berpusat pada teks (nash) Al-Qur'an dan Hadis, serta tata cara formal (kaifiyah) peribadatan. Dalam konteks ibadah mahdhah seperti salat, puasa, dan bersuci, pendekatan Bayani memegang peranan mutlak sebagai legitimasi hukum dan pedoman autentik.
Ustaz Zaenal menjelaskan bahwa dalam fikih ibadah, setiap pergerakan dan tata cara memiliki rujukan tekstual yang jelas. Sebagai contoh konkret, beliau menguraikan tata cara berwudu yang termaktub dalam Surah Al-Maidah ayat 6. Secara gramatikal bahasa Arab, terdapat perbedaan perlakuan antara anggota tubuh yang dibasuh dan yang diusap.
Wajah dan tangan menggunakan kata kerja basuh (wujuhukum dan aidakum ilal marafiq).
Kepala menggunakan kata kerja usap (wamsahu biruusikum).
Perdebatan fikih kerap muncul pada frasa wa arjulakum ila al-ka'bain (dan kaki sampai mata kaki), apakah kakinya harus dibasuh atau cukup diusap. Perbedaan ini berakar pada perbedaan harakat bacaan (qira'at) yang merujuk pada tata bahasanya.
Penjelasan tekstual semacam ini menunjukkan betapa pendekatan Bayani menuntut ketelitian akademik yang tinggi terhadap teks. Kendati demikian, Ustaz Zaenal mengingatkan bahwa pendekatan Bayani tidak boleh berhenti pada tataran teks semata. Jika seseorang beribadah hanya menghafal teks tanpa mengerti maksud dan konteksnya, ibadah tersebut berisiko menjadi kaku dan hampa makna. Oleh karena itu, diperlukan jembatan menuju pilar berikutnya, yakni Burhani.
Dimensi Burhani: Membaca Rasionalitas, Hikmah, dan Logika
Jika Bayani berfokus pada teks, maka Burhani mengandalkan nalar, logika, rasionalitas, serta pengamatan empiris terhadap hikmah di balik syariat. Pendekatan ini mengajak akal sehat untuk merenungkan mengapa suatu perintah agama diturunkan dan apa dampak positifnya bagi kehidupan manusia.
Dalam pengajian tersebut, Ustaz Zaenal memberikan contoh yang sangat membumi mengenai logika ibadah puasa Ramadan dan amalan sedekah. Ketika seseorang melaksanakan puasa Ramadan, ia tidak hanya menjalankan kewajiban fikih (Bayani), tetapi juga memahami manfaat kesehatan fisik, pengendalian hawa nafsu, dan empati sosial terhadap kaum fakir miskin (Burhani).
Lebih lanjut, beliau membedah logika ekonomi Ilahi dalam pelipatan ganda pahala sedekah, sebagaimana diilustrasikan dalam Surah Al-Baqarah ayat 261. Allah SWT mengumpamakan orang yang berinfak di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, di mana pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Secara matematis rasional, satu sedekah dapat dilipatgandakan oleh Allah hingga 700 kali lipat.
Nalar Burhani juga menuntun kita untuk merefleksikan nilai nikmat material dan non-material. Penceramah membagikan ilustrasi nyata yang sangat menyentuh: betapa mahalnya nikmat kesehatan fisik. Beliau menceritakan kisah seorang pasien paska-operasi yang harus mengenakan selang kateter dan membawa kantung penampung urine ke mana-mana karena saluran pembuangannya terganggu. Ada pula kisah seseorang yang harus bergantung pada alat pacu jantung berukuran besar layaknya kotak pendingin kecil yang harus dibawa ke mana pun ia melangkah.
Ilustrasi ini menyadarkan akal sehat kita bahwa kenikmatan tubuh yang sehat, organ vital yang berfungsi normal tanpa alat bantu, adalah bentuk pelipatan ganda nikmat material dan non-material yang nilainya jauh melampaui kalkulasi angka finansial biasa. Ketika Allah melipatgandakan rezeki dan kesehatan kita, hitungannya bukan lagi 1 banding 700, melainkan anugerah luar biasa yang tidak ternilai harganya.
Keluasan dan kebijaksanaan Allah dalam melipatgandakan amal ini ditegaskan melalui rangkaian Asmaul Husna di penghujung ayat-ayat infak, seperti Wasiun Alim (Maha Luas lagi Maha Mengetahui) dan Azizun Hakim (Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana). Nama-nama agung ini mengajarkan kepada rasionalitas kita bahwa Allah memiliki kekayaan tanpa batas dan perhitungan yang sangat adil, sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk merasa ragu atau takut miskin ketika mendermakan hartanya di jalan kebaikan.
Dimensi Irfani: Menyelami Kedalaman Spiritual dan Asmaul Husna
Pilar ketiga yang menjadi mahkota dalam bangunan ibadah holistik adalah Irfani, yakni pendekatan berbasis pengalaman batin (dzauq), intuisi spiritual, serta internalisasi nilai-nilai ketuhanan dalam jiwa manusia. Pendekatan ini membawa seseorang melampaui batas formalitas teks dan logika rasional, masuk ke dalam wilayah cinta kasih yang murni (mahabbah) dan kesadaran kehadiran Allah (ihsan).
Dalam pemaparannya, Ustaz Zaenal menekankan pentingnya mengamalkan Asmaul Husna tidak sekadar dengan menghafalnya di luar kepala, melainkan dengan meresapi makna dan meneladani sifat-sifat mulia tersebut dalam batasan kapasitas kemanusiaan. Sebagai contoh, sifat Ar-Rahim (Maha Penyayang) milik Allah memang mutlak milik-Nya, namun seorang hamba dianjurkan untuk meneladaninya dengan menyebarkan kasih sayang kepada sesama makhluk di muka bumi.
Ustaz Zaenal mengutip sebuah hadis Nabi yang penuh kesejukan:
"Berikanlah kasih sayang kepada siapa saja yang ada di muka bumi, niscaya Zat yang ada di langit akan memberikan kasih sayang-Nya pula kepadamu."
Pesan spiritual ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang berorientasi sebagai rahmatan lil 'alamin. Kasih sayang harus disebarkan kepada seluruh manusia tanpa batas diskriminasi suku, ras, atau golongan. Ketika seseorang menebarkan rahmat di bumi, gelombang spiritual tersebut akan menarik curahan kasih sayang ilahi dari langit.
Lebih jauh, pendekatan Irfani mengajarkan etika batin dalam beramal, khususnya dalam menjaga kemurnian niat bersedekah. Merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 273, Allah mengingatkan bahwa perkataan yang baik (qaulun ma'rufun) dan pemberian maaf (magfirah) jauh lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan tindakan menyakiti hati penerima (tadzba'uha bil-adza).
Terkadang, orang yang memberi merasa posisinya lebih tinggi hingga kerap melontarkan kata-kata yang menyinggung perasaan, sementara pihak yang diberi merasa risih. Al-Qur'an menegaskan bahwa sedekah yang diciderai dengan kejengkelan atau kesombongan justru merusak nilai pahalanya. Oleh karena itu, kebersihan hati, keikhlasan total, dan sikap saling menghormati antara pemberi dan penerima adalah esensi dari spiritualitas Irfani.
Ustaz Zaenal juga mengingatkan konsep investasi akhirat yang sangat menenangkan jiwa: ketika kita berinfak, hakikatnya kita sedang "titip" harta dan pahala kepada Allah SWT (wallahu wasiun alim). Titipan yang dititipkan kepada Zat Yang Maha Kaya, Maha Luas, dan Maha Mengetahui dijamin tidak akan pernah hilang, tidak akan pernah rusak, dan tidak akan pernah berkurang sedikit pun. Kelak, titipan tersebut akan dikembalikan dalam bentuk ganjaran yang berlipat ganda di akhirat kelak.
Integrasi Ketiga Pilar dalam Keseharian
Membumikan pemahaman Bayani, Burhani, dan Irfani secara bersamaan melahirkan profil Muslim yang utuh dan seimbang. Seseorang yang hanya mengandalkan Bayani tanpa Burhani dan Irfani berpotensi menjadi manusia yang kaku, mudah menyalahkan pihak lain yang berbeda tata cara fikih, serta kurang peka terhadap hikmah sosial. Sebaliknya, orang yang mengandalkan rasio semata tanpa teks dan spiritualitas akan kehilangan pegangan ontologis dan kedalaman batin.
Ustaz Zaenal mengajak seluruh jamaah Pengajian Ranting Balun Srikaton untuk mengaplikasikan integrasi ini dalam amalan harian mereka. Sebagai contoh praktis, beliau menyoroti adab berdoa dan berzikir setelah melaksanakan salat fardhu. Seringkali, fenomena yang terjadi di masyarakat menunjukkan jamaah langsung beranjak pergi begitu salam diucapkan, seolah terburu-buru oleh urusan duniawi.
Padahal, momentum seusai salat adalah waktu yang sangat berharga untuk bermunajat, meluruskan niat, dan memohon kemudahan hidup kepada Allah SWT. Dengan menggabungkan ketepatan tata cara salat (Bayani), pemahaman mendalam tentang makna doa (Burhani), serta kehadiran hati dan penghayatan Asmaul Husna (Irfani), doa-doa yang dipanjatkan akan menjadi energi spiritual yang menggerakkan kesalehan individu sekaligus kesalehan sosial.
Merajut Peradaban Islami dari Masjid Ranting
Pengajian Rutin Pimpinan Ranting Balun Srikaton, Cepu, yang dihelat di Masjid TK ABA 1 pada Jumat sore tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa pencerahan umat tidak harus dimulai dari mimbar-mimbar megah di perkotaan besar. Dari masjid tingkat ranting di sebuah sudut Cepu, gagasan besar tentang integrasi ilmu, akal, dan spiritualitas telah disampaikan.
Melalui sinergi Bayani yang menjaga keautentikan teks ibadah, Burhani yang menajamkan nalar rasional dan hikmah empiris, serta Irfani yang melembutkan hati melalui penghayatan Asmaul Husna dan kasih sayang universal, umat Islam diajak untuk terus memperbaiki kualitas ibadah dan akhlak mereka.
Mari kita jadikan momentum pengajian ini sebagai refleksi diri untuk tidak pernah berhenti memohon petunjuk kepada Allah SWT, menjaga keikhlasan dalam setiap langkah kebaikan, serta menebarkan rahmat dan kedamaian di muka bumi. Semoga ikhtiar kecil dari ranting-ranting Muhammadiyah ini mampu menjelma menjadi suluh pencerahan bagi kemajuan umat dan bangsa.

0Comments