Arus modernitas dan lanskap informasi yang bergerak cepat menuntut ruang dakwah Islam untuk terus bertransformasi. Menjawab tantangan era disrupsi, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu menggelar agenda strategis bertajuk Pembekalan Mubaligh dan Dai pada Ahad, 11 Oktober 2026. Berlokasi di Aula SMK Muhammadiyah 2 Cepu, perhelatan ini mengusung tema besar "Ketarjihan dan Dakwah Digital" guna memperkuat kompetensi para syiar keagamaan di akar rumput.
Kegiatan yang dihadiri oleh para jajaran mubaligh dan dai se-Cabang Cepu ini dirancang sebagai wadah konsolidasi ideologis sekaligus teknologis. Melalui perpaduan pemahaman prinsip tarjih dan pemanfaatan media modern, Muhammadiyah Cepu menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar menjadi penonton di ruang siber, melainkan penggerak literasi keagamaan yang mencerahkan.
Respons Adaptif dan Strategi Kelembagaan PCM Cepu
Ketua PCM Cepu, Drs. Mokh Fathoni, M.M., dalam sambutan pembukanya menekankan pentingnya kesadaran kolektif para mubaligh terhadap pergeseran media komunikasi publik. Menurutnya, dakwah tidak lagi bisa dibatasi oleh ruang fisik masjid atau mimbar konvensional semata, melainkan harus merambah ekosistem digital yang dihuni oleh ragam lapisan masyarakat.
"Perkembangan teknologi adalah realitas yang harus dikelola dengan bijak. Mubaligh Muhammadiyah dituntut untuk adaptif serta mampu mengelola platform media sosial secara multiperspektif, tanpa kehilangan pijakan etika dan kaidah keislaman," tegas Mokh Fathoni.
Beliau menggarisbawahi bahwa pemanfaatan media digital bukan sekadar gaya hidup, melainkan instrumen dakwah yang membutuhkan kecermatan taktis. Kehadiran dakwah berkemajuan di ranah digital menjadi kunci penting agar nilai-nilai Islam yang ramah, rasional, dan mencerahkan dapat menjangkau generasi muda secara lebih luas dan berkelanjutan.
Membedah Ketarjihan di Tengah Disrupsi Kecerdasan Buatan
Memasuki sesi kajian utama, narasumber Ustaz Lukman Hakim, Lc., M.A., membedah secara mendalam posisi ketarjihan Muhammadiyah saat berhadapan dengan dinamika zaman kontemporer. Di hadapan para peserta, beliau menyoroti hadirnya fenomena disrupsi teknologi, termasuk maraknya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam pencarian informasi keagamaan.
Lukman Hakim memaparkan bahwa keunggalan metodologi tarjih Muhammadiyah terletak pada kedalaman riset (takhrij), keterbukaan epistemologis, serta ketelitian metodologis. Dalam merespons kebiasaan masyarakat modern yang cenderung menyerap informasi secara serba instan dari algoritma digital, dai Muhammadiyah memiliki peran vital sebagai penyaring (filter) sekaligus pemandu keilmuan yang teruji.
Lebih jauh, pembahasan mencakup integrasi metodologi dakwah kontemporer yang tetap berpijak pada prinsip purifikasi (pemurnian akidah dan ibadah) serta dinamisasi (pengembangan muamalah duniawiyah). Fleksibilitas media modern harus dipadukan dengan keteguhan manhaj agar pesan Islam yang disampaikan tetap otentik, substantif, dan terhindar dari pemahaman yang dangkal.
Syiar Berkemajuan
Rangkaian acara yang berlangsung khidmat tersebut memancarkan optimisme baru bagi gerak dakwah Muhammadiyah di Kecamatan Cepu. Pelaksanaan pembekalan ini diharapkan menjadi batu pijakan awal lahirnya para dai digital yang berwawasan luas, mahir menggunakan instrumen teknologi, namun tetap kokoh memegang sanad dan manhaj tarjih.
Sinergi antara kebijakan kelembagaan pimpinan dan pemahaman metodologis yang tepat memberikan gambaran utuh bahwa persyarikatan terus bergerak dinamis. Melalui pembekalan ini, PCM Cepu membuktikan komitmennya dalam merawat nilai-nilai keislaman sekaligus menjawab panggilan zaman demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

0Comments