BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Tanya Tarjih PRM Nglanjuk: Menghidupkan Kembali Esensi Salat

Tanya Tarjih PRM Nglanjuk: Menghidupkan Kembali Esensi Salat

Kajian Tanya Tarjih PRM Nglanjuk membahas esensi salat, keragaman doa sujud, dan pentingnya meneladani sunnah Rasulullah.
Table of contents
×
Suasana Kajian Tanya Tarjih PRM Nglanjuk tentang esensi salat di Musholla Darussalam
Kajian Tanya Tarjih PRM Nglanjuk di serambi Musholla Darussalam, Nglanjuk, Cepu, Rabu (16/9/2026).

Di serambi Musholla Darussalam, Nglanjuk, 16 September 2026 ba’da Maghrib, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Nglanjuk kembali menggelar agenda kajian yang dinanti-nantikan: Kajian Tanya Tarjih. Bersama Ustaz Moh Al-Amin, S.Kom. dan Ustadz Helmi Gunawan, M.Pd., majelis ini tidak sekadar menjadi rutinitas ritual tahunan, melainkan sebuah ruang dialektika intelektual dan spiritual yang membedah akar ibadah harian kita hingga ke detail-detail substansialnya.

Di tengah deru modernitas yang menuntut segalanya berjalan cepat, ibadah salat kerap kali direduksi menjadi sekadar kewajiban mekanis penggugur kewajiban yang dilakukan terburu-buru. Padahal, salat adalah tiang agama, mikraj-nya kaum mukmin, sekaligus cerminan kualitas spiritual seseorang. Melalui ulasan mendalam dalam Kajian Tanya Tarjih PRM Nglanjuk ini, mari kita menilik kembali berbagai dimensi krusial ibadah salat, mulai dari refleksi psikologis manusia terhadap hal-hal instan, dinamika fikih gerakan dan bacaan, hingga doa-doa tersembunyi yang sering kali terlewatkan oleh kesibukan kita sehari-hari.

Jebakan Kenikmatan Instan dan Hakikat Hidup Manusia

Diskursus dalam majelis Tanya Tarjih malam itu dibuka dengan sebuah renungan filosofis yang menohok kesadaran kita sebagai manusia. Mengutip penafsiran terhadap Surat Al-A’la ayat 16–17, para peserta kajian Tanya Tarjih membedah akar psikologis mengapa manusia sering kali terjebak dalam orientasi duniawi yang semu.

“Disayangkan sekali, manusia itu mendahulukan dunianya, padahal akhirat itu jauh lebih kekal dan lebih baik,” ulas Ustaz Amin dalam kajian tersebut. Mengapa fenomena ini terus berulang dari generasi ke generasi? Jawabannya terletak pada kecenderungan psikologis dasar manusia: kita senantiasa mendambakan segala sesuatu secara instan (instant gratification).

Coba bayangkan sebuah ilustrasi sederhana yang begitu dekat dengan keseharian kita: bagaimana jika keutamaan 27 derajat pahala salat berjemaah dikonversi langsung secara instan menjadi notifikasi saldo rekening yang masuk sebesar 27 juta rupiah di gawai kita? Jika ganjaran ukhrawi itu berwujud materi yang bisa kita dapatkan seketika, hampir dapat dipastikan manusia akan meninggalkan segala kesibukan duniawinya dan berbondong-bondong memenuhi saf terdepan demi mengincar imbalan tersebut.

Namun, sunatullah kehidupan tidak berjalan demikian. Ibadah memerlukan proses, keistikamahan, dan kesabaran melawan hawa nafsu. Sifat manusia yang malas melalui proses panjang dan ingin segera menikmati hasil instan inilah yang sering kali mereduksi kekhusyukan salat. Kita ingin cepat selesai, ingin lekas beranjak, tanpa meresapi bahwa setiap gerakan dan bacaan dalam salat adalah investasi abadi di hadapan Sang Pencipta. Melalui pengingat tajam ini, jamaah di Musholla Darussalam diajak untuk mereset ulang niat dan orientasi batin tatkala menghadap kiblat.

Keragaman Doa Sujud dan Kekhusyukan di Antara Dua Sujud

Aspek berikutnya yang dibahas dalam Kajian Tanya Tarjih PRM Nglanjuk adalah kekayaan variasi bacaan doa ketika sujud dan duduk di antara dua sujud. Sering kali, umat Islam terjebak pada satu hafalan monoton sejak masa kanak-kanak tanpa mengetahui bahwa Rasulullah SAW mengajarkan beberapa variasi doa yang sah dan bersumber dari hadis-hadis authetik.

Ketika sujud, bacaan utama yang paling populer tentu adalah Subhana rabbiyal a’la. Namun, terdapat pula riwayat sahih dari Aisyah RA yang mengajarkan bacaan alternatif yang indah, yakni Subbuhun qudusun rabbul malaikati war ruh. Kebebasan memilih di antara ragam dalil ini menunjukkan betapa dinamisnya ajaran Nabi, asalkan dilafalkan dengan penuh penghayatan batin.

Demikian pula pada saat duduk di antara dua sujud, terdapat variasi doa yang diajarkan, mulai dari bacaan ringkas lima unsur hingga delapan unsur doa yang komprehensif. Susunan doa yang paling populer dan mudah dihafal mencakup permohonan ampunan, rahmat, petunjuk, kesehatan, dan rezeki:

  • Rabbifirli (Ya Allah, ampunilah dosaku)
  • Warhamni (Sayangilah aku)
  • Wajburni (Tutuplah kekurangan-kekurangan/cideraku)
  • Warfa'ni (Angkatlah derajatku)
  • Wahdini (Berilah aku petunjuk)
  • Wa'afini (Berilah aku kesehatan)
  • Warzuqni (Berilah aku rezeki)

Ustaz Amin menekankan agar bacaan-bacaan ini tidak dilafalkan secara mekanis layaknya robot tanpa makna. Memahami arti di balik setiap kata, seperti memohon ampunan atas dosa-dosa yang menumpuk dan meminta kesehatan lahir-batin, akan mentransformasikan salat menjadi dialog transenden yang menyembuhkan jiwa dari kegelisahan duniawi.

Menata Bacaan Tasyahud: Ketulusan Tuntunan Nabi dan ‘Sayidina’

Masuk pada pembahasan mengenai bacaan tasyahud (tahiyat), majelis tarjih malam itu mengupas tuntas struktur kalimat tahiyat serta polemik kultural yang kerap hidup di tengah masyarakat, salah satunya adalah penambahan kata "sayidina" dalam pelafalan salawat.

Dari sudut pandang hadis sahih yang dikaji oleh tarjih Muhammadiyah, bacaan tahiyat awal bermula dengan redaksi At-tahiyyatu lillah... di mana kata lillah diletakkan di awal kalimat, berbeda dengan sebagian tradisi mazhab lain yang menempatkan frasa lillah pada posisi berbeda. Namun, substansi terpenting dalam tasyahud adalah kewajiban membaca salawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam rumusan bacaan salawat, frasa Allahumma salli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad menempatkan penyebutan keluarga Nabi (ali Muhammad) sebagai bagian dari ajaran yang diajarkan Rasulullah. Hal ini menegaskan bahwa kecintaan kepada keluarga Nabi adalah bagian dari keimanan, namun tetap harus proporsional sesuai tuntunan sunnah yang sahih.

Lantas, bagaimana dengan penambahan kata "Sayidina" (wahai junjunganku) dalam bacaan tasyahud? Berdasarkan penelusuran teks hadis-hadis Nabi yang otentik, penambahan kata "sayidina" di dalam salat tidak ditemukan dalam riwayat yang bersumber langsung dari Nabi SAW.

Kendati demikian, di tengah masyarakat, penambahan kata tersebut kadung mendarah daging karena diajarkan sejak bangku sekolah dasar dengan alasan bentuk penghormatan yang maksimal kepada Nabi. 

Dalam kajian tersebut, disampaikan juga pesan yang arif namun tegas, “Di luar salat, memanggil atau menyebut 'Sayidina' tentu tidak ada masalah sebagai bentuk penghormatan. Namun, di dalam salat, hendaknya kita kembali kepada tuntunan teks hadis yang murni yang diajarkan oleh Nabi secara langsun.” Selanjutnya, Ustaz Amin mengajak para guru madrasah dan jamaah untuk secara perlahan meluruskan praktik-praktik ibadah agar kian mendekati keotentikan sunnah.

Menghidupkan Salat, Menata Masa Depan Umat

Kajian Tanya Tarjih PRM Nglanjuk di Musholla Darussalam malam itu membuktikan bahwa majelis ilmu di tingkat ranting memiliki daya gugah yang luar biasa. Dari renungan filosofis mengenai sifat instan manusia hingga detail teknis gerakan salat, doa sujud, dan bacaan tasyahud, para jamaah diajak untuk tidak sekadar beribadah secara turun-temurun tanpa ilmu (taklid buta), melainkan menghidupkan salat dengan kesadaran intelektual dan spiritual yang matang.


Semoga catatan dari kajian Tanya Tarjih di Cepu ini mampu menginspirasi umat Islam di berbagai penjuru untuk terus mengevaluasi, merawat, dan menyempurnakan kualitas salat harian kita, menjadikannya perisai kokoh di tengah badai kehidupan modern, serta investasi terindah menuju ke abadian akhirat.

0Comments