Mohammad Nur Rianto Al Arif
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah Jum'at rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SwT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam hubungan kita dengan Allah, tetapi juga tercermin dalam hubungan kita dengan sesama manusia. Salah satu wujud ketakwaan yang sangat penting adalah menjaga persaudaraan, memperkuat ukhuwah, dan membangun harmoni di tengah keberagaman yang Allah ciptakan.
Allah SwT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS Al-Hujurat: 13)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman merupakan kehendak Allah. Perbedaan suku, bangsa, bahasa, budaya, bahkan pilihan sosial dalam kehidupan bukanlah alasan untuk saling merendahkan atau bermusuhan. Sebaliknya, keberagaman adalah sarana untuk saling mengenal, bekerja sama, dan memperkuat persaudaraan kemanusiaan.
Indonesia adalah salah satu contoh nyata bangsa yang dibangun di atas fondasi kebhinekaan. Lebih dari 17 ribu pulau, ratusan suku bangsa, bahasa daerah, dan berbagai tradisi hidup berdampingan dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Kebhinekaan bukan sekadar fakta sosial, melainkan modal besar yang harus dijaga dan dirawat.
Namun, kita juga menyaksikan bahwa perbedaan sering kali dijadikan alat untuk memecah belah masyarakat. Media sosial kerap dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, hoaks, dan provokasi yang mengadu domba sesama anak bangsa. Perbedaan pandangan politik, pilihan organisasi, maupun latar belakang sosial sering kali menjadi pemicu permusuhan.
Padahal Rasulullah saw mengajarkan kepada kita pentingnya menjaga persaudaraan. Beliau bersabda:
لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Artinya: “Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
(HR Bukhari dan Muslim)
KHUTBAH KEDUA
Jamaah Jum'at yang berbahagia,
Islam mengajarkan berbagai bentuk persaudaraan. Pertama, ukhuwah Islamiyah, yaitu persaudaraan sesama Muslim. Kedua, ukhuwah wathaniyah, yaitu persaudaraan sebangsa dan setanah air. Ketiga, ukhuwah insaniyah atau basyariyah, yaitu persaudaraan sesama manusia.
Ketiga bentuk persaudaraan tersebut harus berjalan beriringan. Seorang Muslim yang baik bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga menjadi sumber kedamaian bagi lingkungannya. Rasulullah saw. bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam konteks kebhinekaan Indonesia, semangat persaudaraan dapat diwujudkan dengan menghormati perbedaan, menjaga etika bermedia sosial, menghindari penyebaran berita bohong, serta membangun kerja sama dalam berbagai bidang kemaslahatan. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai perbedaan tersebut merusak persaudaraan.
Muhammadiyah sejak awal berdirinya telah memberikan teladan tentang pentingnya dakwah yang mencerahkan, memajukan pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial untuk seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan suku, agama, maupun golongan. Spirit Islam Berkemajuan mengajarkan bahwa umat Islam harus menjadi perekat persatuan dan pelopor perdamaian.
Semoga Allah menjadikan kita pribadi-pribadi yang mampu merajut persaudaraan dalam bingkai kebhinekaan, menjaga persatuan bangsa, serta mewariskan Indonesia yang damai dan berkemajuan kepada generasi mendatang.
Doa
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَاحْفَظْ شَعْبَهَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ قَادَتَنَا وَعُلَمَاءَنَا، وَأَمِّرْنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.
Mohammad Nur Rianto Al Arif,
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah / Ketua PDM Jakarta Timur

0Comments