BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Kajian Ahad Pagi PCM Cepu: Mencari Anugerah Allah dengan Menjaga Hati dan Lisan

Kajian Ahad Pagi PCM Cepu: Mencari Anugerah Allah dengan Menjaga Hati dan Lisan

Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu kembali menyelenggarakan Kajian Ahad Pagi di Masjid Al-Hikmah Cepu pada
Table of contents
×

 

Cepu, 20 September 2026 — Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu kembali menyelenggarakan Kajian Ahad Pagi di Masjid Al-Hikmah Cepu pada Ahad, 20 September 2026. Kajian menghadirkan Ustadz Drs. H. Ali Maghfur, M.Pd. sebagai pemateri dengan tema “Mencari Anugerah Allah dengan Menjaga Hati dan Lisan.”

Kajian tersebut mengajak jamaah untuk memahami bahwa anugerah Allah tidak hanya berupa kenikmatan duniawi, tetapi juga kebahagiaan akhirat. Salah satu jalan untuk meraih anugerah tersebut adalah dengan menjaga hati dan lisan, karena keduanya memiliki pengaruh besar terhadap pikiran, perkataan, perbuatan, dan kualitas keimanan seseorang.

Mencari Anugerah Allah

Dalam kajiannya, Ustadz Ali Maghfur mengawali pembahasan dengan firman Allah dalam QS. Al-Qasas ayat 77:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِي ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."

Ayat tersebut memberikan keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Seorang muslim diperintahkan untuk mengejar kebahagiaan akhirat, tetapi tetap tidak melupakan kebutuhan dan kebahagiaan dunia. Kenikmatan yang diperoleh hendaknya digunakan untuk berbuat baik dan memberikan manfaat kepada sesama.

Menjaga Lisan sebagai Upaya Menjaga Hati

Salah satu pembahasan utama kajian adalah hifzhul lisan, yaitu menjaga lisan. Ustadz Ali Maghfur menjelaskan bahwa perkataan seseorang tidak berdiri sendiri. Apa yang keluar dari lisan sering kali merupakan cerminan dari apa yang ada di dalam hati dan pikiran.

Karena itu, menjaga lisan menjadi salah satu bentuk tanggung jawab seorang muslim untuk menjaga dirinya dari berbagai penyakit hati, seperti ghibah, namimah, fitnah, prasangka buruk, dan kebiasaan mencari kesalahan orang lain.

Terlebih pada era media sosial, perkataan tidak hanya disampaikan secara langsung. Tulisan, komentar, unggahan, dan pesan di media sosial juga merupakan bentuk komunikasi yang harus dipertanggungjawabkan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ ٧٠ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ۝ ٧١

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia memperoleh kemenangan yang besar."
(QS. Al-Ahzab: 70–71)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa perkataan yang benar dan baik memiliki hubungan erat dengan perbaikan amal dan pengampunan dosa.

Menjauhi Prasangka, Mencari Kesalahan, dan Ghibah

Umat Islam juga diperintahkan untuk menjaga hubungan sosial dengan menjauhi prasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjing.

Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ ۝ ١٢

"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."
(QS. Al-Hujurat: 12)

Hati adalah Sumber Kebaikan

Ustadz Ali Maghfur menekankan bahwa hati merupakan salah satu kunci utama kehidupan manusia. Hati yang baik akan mendorong lahirnya perkataan dan perbuatan yang baik.

Allah berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ ٨٨ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ۝ ٨٩

"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."
(QS. Asy-Syu'ara: 88–89)

Hati yang bersih atau qalbun salim merupakan hati yang terbebas dari berbagai penyakit, seperti syirik, dengki, hasad, dan dendam.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Berkata Baik atau Diam

Menjaga lisan juga merupakan cerminan keimanan kepada Allah dan hari akhir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan “berkata baik atau diam” menjadi sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berkomunikasi melalui media sosial.

Halal, Haram, dan Perkara Syubhat

Materi kajian juga mengingatkan jamaah untuk berhati-hati terhadap perkara yang belum jelas statusnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ...

"Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak orang..."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Menjauhi perkara syubhat merupakan upaya menjaga agama dan kehormatan diri. Dalam hadis yang sama, Rasulullah ﷺ kembali menegaskan pentingnya menjaga hati.

Berdoa untuk Kebaikan Dunia dan Akhirat

Allah mengajarkan kepada manusia agar memohon kebaikan dunia dan akhirat. Dalam QS. Al-A'raf ayat 156, terdapat doa:

وَٱكْتُبْ لَنَا فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي ٱلْءَاخِرَةِ إِنَّا هُدْنَآ إِلَيْكَ

"Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada-Mu."

Rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Dalam ayat tersebut juga disebutkan bahwa rahmat Allah ditetapkan bagi orang-orang yang bertakwa, menunaikan zakat, dan beriman kepada ayat-ayat-Nya.

Menjaga Diri hingga Husnul Khatimah

Kajian juga mengingatkan pentingnya menjaga keislaman sampai akhir kehidupan. Allah mengabadikan wasiat Nabi Ibrahim dan Nabi Ya'qub kepada anak-anak mereka:

يَٰبَنِيَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

"Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim."
(QS. Al-Baqarah: 132)

Pesan tersebut mengingatkan pentingnya istiqamah dalam Islam hingga akhir hayat.

Setiap Ucapan Dicatat

Lisan memang kecil, tetapi dampaknya sangat besar. Allah berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat."
(QS. Qaf: 18)

Ayat ini menjadi pengingat agar setiap muslim berpikir sebelum berbicara. Jangan sampai sebuah perkataan yang dianggap ringan justru menjadi sebab munculnya dosa dan permusuhan.

Taubat Sebelum Datangnya Kematian

Ustadz Ali Maghfur juga menyampaikan pentingnya segera bertaubat dan tidak menunda-nunda kebaikan.

Allah berfirman:

وَلَيْسَتِ ٱلتَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّئَاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ ٱلْـَٰٔنَ...

"Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, barulah ia mengatakan, 'Sesungguhnya saya bertobat sekarang'..."
(QS. An-Nisa: 18)

Karena itu, kesempatan hidup harus digunakan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan membersihkan hati.

Menjaga Lisan Menjadi Jalan Menuju Surga

Rasulullah ﷺ memberikan perhatian besar terhadap penjagaan lisan. Beliau bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

"Barang siapa menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisannya) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluannya), niscaya aku menjamin surga baginya."
(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap pengendalian lisan dan penjagaan kehormatan diri.

Jalan Menuju Surga Firdaus

Materi kajian kemudian menguraikan karakter orang-orang beriman sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Mu'minun ayat 1–11.

Allah menyebut beberapa karakter tersebut, di antaranya:

  1. Beriman kepada Allah.

  2. Khusyuk dalam salat.

  3. Menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna.

  4. Menunaikan zakat.

  5. Menjaga kehormatan diri.

  6. Memelihara amanah dan janji.

  7. Memelihara salat.

Allah menegaskan:

أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْوَٰرِثُونَ ۝ ١٠ ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ ۝ ١١

"Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya."
(QS. Al-Mu'minun: 10–11)

Memahami Takdir Allah

Dalam kehidupan, manusia juga akan menghadapi berbagai ujian dan musibah. Al-Qur'an menjelaskan bahwa berbagai kejadian tersebut berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah.

Allah berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي ٱلْأَرْضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

"Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah."
(QS. Al-Hadid: 22)

Allah juga berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
(QS. At-Taghabun: 11)

Keimanan kepada takdir bukan berarti manusia pasif. Seorang muslim tetap berikhtiar, berdoa, dan beramal, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Kesimpulan Kajian

Dari berbagai ayat dan hadis yang disampaikan, terdapat sejumlah pesan penting yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, senantiasa membangun husnuzan dan berprasangka baik.

Kedua, membiasakan diri bertutur kata yang baik, karena perkataan yang baik dapat menjadi jalan datangnya kebaikan dan ampunan Allah.

Ketiga, menjauhi perkara yang dapat mematikan hati, seperti menggunjing, membicarakan aib orang lain, mencari kesalahan, dan menyebarkan prasangka buruk.

Keempat, apabila tidak mampu mengatakan sesuatu yang baik, maka diam merupakan pilihan yang lebih selamat.

Dengan menjaga hati dan lisan, seseorang akan lebih mampu menjaga pikiran dan perbuatannya dari berbagai perkara tercela.

Mencari Anugerah Allah dengan Memperbaiki Diri

Kajian Ahad Pagi tersebut memberikan pesan bahwa anugerah Allah dapat diraih melalui kehidupan yang dipenuhi keimanan, ketakwaan, amal saleh, serta akhlak yang baik.

Kebahagiaan akhirat merupakan anugerah Allah, namun manusia juga tidak diperintahkan meninggalkan kebahagiaan dunia. Sebaliknya, kenikmatan dunia hendaknya menjadi sarana untuk berbuat baik dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Pada akhirnya, menjaga hati dan lisan bukan sekadar persoalan etika berbicara, tetapi merupakan bagian dari upaya menjaga keimanan dan keselamatan diri.

Kajian ditutup dengan doa:

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ لِسَانِيْ عَامِرًا بِذِكْرِكَ وَقَلْبِيْ بِخَشْيَتِكَ

"Ya Allah, jadikanlah lisanku penuh dengan zikir kepada-Mu dan hatiku dengan rasa takut kepada-Mu."

Serta doa:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ

"Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlak yang paling baik kecuali Engkau."
(HR. Muslim)

Semoga kajian ini menjadi pengingat bagi seluruh jamaah untuk senantiasa membersihkan hati, menjaga lisan, memperbaiki amal, dan terus mencari anugerah Allah di dunia maupun kebahagiaan di akhirat.



0Comments