Menjadi pendidik di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah bukanlah sekadar memenuhi jam mengajar atau menuntaskan kewajiban administratif bulanan. Lebih dari itu, profesi ini adalah panggilan ikhlas, manifestasi ibadah, sekaligus ruang penyemaian nilai-nilai peradaban Islam yang berkemajuan.
Semangat itulah yang mengemuka dalam agenda Pembinaan Guru Muhammadiyah yang digelar oleh Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu. Berlokasi di Aula SMK Muhammadiyah 2 Cepu (SMK MUDA Cepu) pada Sabtu (19/9/2026), kegiatan ini dihadiri oleh ratusan guru dan tenaga kependidikan dari berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan se-Kecamatan Cepu.
Hadir sebagai pemateri utama, Sopyan, S.H.I. dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Blora. Dalam pemaparannya, Sopyan membedah hakikat peran guru dalam mengemban amanah pendidikan Islam era modern.
Meluruskan Niat: Fondasi Utama Khidmat
Di hadapan para pendidik, Sopyan mengawali pembinaannya dengan menekankan pentingnya meluruskan niat. Menurutnya, niat adalah kompas utama yang membedakan antara pekerjaan formalistis dan pengabdian yang bernilai spiritual.
“Ketika niat mendidik ditegakkan sebagai bagian dari ibadah, maka setiap keringat dan lelah para guru akan berubah menjadi nilai pahala serta keberkahan. Mendidik bukan lagi sekadar ladang mencari nafkah, melainkan ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa dan menata masa depan generasi,” tegasnya.
Adaptif dan Relevan di Tengah Laju Zaman
Pesan kedua yang disoroti adalah urgensi peningkatan kapasitas dan kompetensi diri. Dunia pendidikan bergerak dinamis dengan pergeseran teknologi yang begitu cepat. Guru Muhammadiyah dituntut untuk tidak berpuas diri dengan zona nyaman pengetahuan masa lalu.
Kapasitas intelektual, literasi digital, hingga pendekatan pembelajaran yang inovatif harus terus diasah. Pendidik yang bernilai adalah mereka yang senantiasa membuka diri untuk belajar, sehingga mampu menghadirkan proses belajar-mengajar yang bermutu, relevan, dan menginspirasi peserta didik.
Pemurnian Akidah dan Kembali kepada Al-Qur'an-As-Sunnah
Landasan epistemologis pendidikan Muhammadiyah terletak pada kekuatan tauhid. Oleh karena itu, pesan ketiga dan keempat Sopyan menyasar pada aspek spiritualitas dasar: memurnikan akidah serta menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai rujukan utama.
Akidah yang lurus dan kokoh menjadi benteng pendidik dalam mengarungi arus zaman yang makin kompleks. Dengan memegang teguh pedoman Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang shahih, guru Muhammadiyah diharapkan mampu mentransfer pemikiran yang murni, adil, serta jauh dari penyimpangan paham kepada murid-muridnya.
Menebar Rahmat bagi Semesta
Sebagai pamungkas, Sopyan mengajak seluruh guru untuk mengejawantahkan Islam sebagai rahmatan lil 'alamīn dalam kehidupan sehari-hari. Ruang kelas dan lingkungan sekolah harus menjadi oase yang menyejukkan, ramah, dan penuh dengan teladan kebaikan.
Sikap saling menghargai, kepedulian sosial, serta kedisiplinan yang dicontohkan secara nyata oleh seorang guru akan berdampak jauh lebih dalam ketimbang sekadar teori di papan tulis. Guru adalah cermin, dan keteladanan adalah bahasa paling fasih dalam mendidik.
Merawat Sinergi Pendidikan Berkemajuan
Melalui pembinaan berkala ini, Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Cepu menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi serta merawat kualitas para pendidik. Konsolidasi pemikiran ini menjadi bahan bakar spiritual agar para guru tidak kehilangan arah di tengah rutinitas harian.
Sinergi yang kokoh antarguru dan lembaga pendidikan di bawah naungan Muhammadiyah diharapkan makin solid. Pada akhirnya, dari ruang-ruang kelas sekolah Muhammadiyah di Cepu inilah, akan lahir generasi penerus yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, dan siap memberi manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat.
Sumber: https://www.smkmudacepu.sch.id/2026/09/pembinaan-majelis-dikdasmen-dan-pnf-pcm.html

0Comments