Cepu – Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu kembali menyelenggarakan Kajian Ahad Pagi pada Ahad, 13 September 2026, bertempat di Masjid Al-Hikmah Cepu. Kajian menghadirkan Ustadz Armin Nurhartanto, M.Pd.I. sebagai pemateri.
Dalam kajian tersebut, Ustadz Armin menyampaikan materi tentang pentingnya memanfaatkan umur dengan amal kebaikan. Menurut beliau, manusia yang paling beruntung bukan sekadar mereka yang diberikan umur panjang, tetapi mereka yang panjang umurnya dan semakin baik amalnya.
Sebaliknya, seseorang dapat menjadi orang yang merugi apabila diberikan umur panjang tetapi tidak memanfaatkannya untuk meningkatkan keimanan, ibadah, dan amal saleh.
Panjang Umur yang Diiringi Amal Saleh
Ustadz Armin mengingatkan jamaah bahwa usia merupakan amanah dari Allah SWT. Bertambahnya umur seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbanyak kebaikan, memperbaiki diri, serta memberikan manfaat bagi sesama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruk manusia adalah orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa ukuran keberuntungan dalam kehidupan bukan semata-mata usia, kesehatan, kekayaan, ataupun kedudukan. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan selama kesempatan hidup itu diberikan Allah SWT.
Kemudahan Zaman Harus Melahirkan Kebaikan
Dalam kajian, Ustadz Armin juga menyoroti kehidupan manusia pada zaman sekarang yang semakin dimudahkan dalam berbagai aspek. Informasi, ilmu pengetahuan, komunikasi, dan berbagai fasilitas dapat diperoleh dengan cepat.
Namun, kemudahan tersebut harus dimanfaatkan secara bijak. Kemajuan teknologi jangan sampai hanya digunakan untuk hiburan dan kesenangan, tetapi juga menjadi sarana untuk menambah ilmu, memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, dan menyebarkan manfaat.
Kemudahan mendapatkan informasi seharusnya membuat seseorang semakin mudah belajar agama. Kemudahan berkomunikasi seharusnya menjadi sarana mempererat silaturahmi. Demikian pula berbagai fasilitas kehidupan hendaknya semakin mendorong manusia untuk bersyukur dan berbuat kebaikan.
Segala Amal Bergantung pada Niat
Salah satu hadis penting yang turut disampaikan adalah hadis tentang niat. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kualitas amal tidak hanya dilihat dari bentuk lahiriahnya, tetapi juga dari niat yang melatarbelakanginya. Amal yang baik hendaknya dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah SWT.
Istiqamah adalah Keistimewaan
Materi berikutnya yang ditekankan adalah pentingnya istiqamah. Menurut Ustadz Armin, seseorang yang mampu terus-menerus berada dalam kebaikan adalah pribadi yang istimewa.
Istiqamah bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami kelemahan. Istiqamah berarti ketika mengalami kekurangan dan kesalahan, ia kembali memperbaiki diri dan terus melangkah menuju kebaikan.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.’”
(QS. Fussilat: 30)
Sehatnya Hati Bergantung pada Baiknya Amal
Ustadz Armin juga mengingatkan bahwa kesehatan hati tidak dapat dipisahkan dari kualitas amal seseorang. Hati yang sehat akan mendorong manusia mencintai kebaikan, menjauhi kemaksiatan, serta senantiasa berusaha mendekat kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. Asy-Syu'ara: 88–89)
Karena itu, memperbaiki hati harus berjalan bersama dengan memperbaiki amal. Semakin baik amal seseorang, semakin besar pula harapan hatinya terjaga dalam kebaikan.
Jangan Terlalu Nyaman di Zona Nyaman
Untuk menggambarkan pentingnya bergerak dan berusaha, Ustadz Armin menyampaikan pesan yang dinisbatkan dalam syair kepada Imam Syafi'i tentang pentingnya tidak terlalu nyaman dalam keadaan yang stagnan.
Maknanya, manusia tidak boleh berhenti bergerak hanya karena telah merasa nyaman. Kehidupan membutuhkan ikhtiar, perjuangan, pembelajaran, dan kesediaan menghadapi rasa lelah.
Sebagaimana air yang tidak mengalir dapat mengalami kerusakan, manusia yang terlalu lama berdiam diri dalam kemalasan juga dapat mengalami kemunduran dalam semangat dan kualitas dirinya.
Karena itu, bercakap lelah dalam kebaikan justru dapat menjadi bagian dari kenikmatan hidup. Ada kebahagiaan yang lahir setelah seseorang bersungguh-sungguh dalam belajar, bekerja, beribadah, berdakwah, dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Sarapan Gratis untuk Jamaah
Usai kajian, kegiatan dilanjutkan dengan sarapan gratis bagi jamaah. Kegiatan tersebut dikelola oleh Pimpinan Cabang Aisyiyah Cepu bersama Lazismu KLC Cepu.
Sarapan bersama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suasana kebersamaan jamaah. Selain menambah keakraban, kegiatan ini menjadi wujud semangat berbagi dan kepedulian sosial setelah jamaah mengikuti kajian.
Menjadikan Umur sebagai Ladang Amal
Kajian Ahad pagi ini memberikan pesan penting bahwa umur bukan sekadar angka, tetapi merupakan kesempatan yang terus berkurang. Setiap hari yang berlalu membawa manusia semakin dekat kepada akhir kehidupan.
Oleh karena itu, selama Allah SWT masih memberikan kesehatan, kesempatan, dan umur, hendaknya digunakan untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki niat, menjaga istiqamah, serta memberikan manfaat bagi sesama.
Panjang umur akan menjadi keberuntungan apabila panjang pula amal kebaikan yang menyertainya. Sebaliknya, umur yang panjang tanpa peningkatan iman dan amal dapat menjadi kerugian.
Semoga Allah SWT memberikan keberkahan pada usia, meneguhkan hati dalam istiqamah, menerima amal kebaikan, dan menjadikan setiap sisa umur sebagai jalan menuju ridha-Nya. Aamiin.
0Comments