Cepu, Senin, 31 Agustus 2026 — RS PKU Muhammadiyah Cepu kembali menyelenggarakan kegiatan kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang bertempat di Aula RS PKU Muhammadiyah Cepu. Kajian kali ini menghadirkan Ustadz Nur Sahlul Mubarok, S.H.I., M.Pd. sebagai pemateri dengan pembahasan mengenai “Akhlak Rasulullah ﷺ yang Harus Kita Teladani.”
Dalam kajian tersebut, disampaikan bahwa Rasulullah ﷺ bukan hanya diutus untuk menyampaikan wahyu, tetapi juga menjadi teladan terbaik bagi umat manusia dalam membangun kehidupan yang berlandaskan akhlak mulia. Oleh karena itu, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ harus diwujudkan dengan berusaha mengikuti dan menghidupkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Allah SWT berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Allah SWT juga berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Dua ayat tersebut menjadi dasar bahwa Rasulullah ﷺ merupakan contoh utama bagi umat Islam dalam membangun kepribadian, hubungan sosial, kehidupan keluarga, maupun dalam menjalankan pekerjaan dan tanggung jawab.
Kejujuran sebagai Dasar Akhlak
Salah satu akhlak utama Rasulullah ﷺ adalah kejujuran. Bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau telah dikenal oleh masyarakat dengan gelar Al-Amin, yaitu orang yang dapat dipercaya.
Kejujuran Rasulullah ﷺ terlihat bukan hanya dalam perkataan, tetapi juga dalam seluruh perilaku dan tanggung jawab beliau. Kejujuran harus menjadi prinsip dalam kehidupan seorang muslim, termasuk dalam menjalankan pekerjaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang senantiasa berkata benar sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kejujuran dapat diwujudkan dengan berkata benar, tidak memanipulasi informasi, jujur dalam menjalankan tugas, serta berani mengakui kesalahan.
Meneladani Kesabaran Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan luar biasa dalam hal kesabaran. Dalam perjalanan dakwahnya, beliau menghadapi hinaan, penolakan, dan berbagai bentuk perlakuan buruk.
Salah satu peristiwa yang menjadi pelajaran besar adalah ketika Rasulullah ﷺ berdakwah ke Thaif. Beliau mendapatkan penolakan dan perlakuan yang menyakitkan. Namun, Rasulullah ﷺ tidak memilih jalan balas dendam. Beliau justru berharap agar keturunan mereka kelak mendapatkan hidayah dan menjadi orang-orang yang beriman.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa seorang muslim harus mampu mengendalikan diri dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Barang siapa berusaha untuk bersabar, maka Allah akan menjadikannya sabar. Dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kesabaran merupakan kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan mengendalikan diri sambil tetap berikhtiar dan berada di jalan Allah SWT.
Kasih Sayang kepada Sesama
Akhlak Rasulullah ﷺ juga dipenuhi dengan kasih sayang. Beliau menyayangi keluarga, anak-anak, orang miskin, orang tua, dan masyarakat secara luas.
Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kasih sayang tidak cukup hanya menjadi perasaan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata, seperti membantu orang yang membutuhkan, berbicara dengan lembut, menghormati sesama, serta tidak menyakiti orang lain. Dalam lingkungan pelayanan kesehatan, nilai kasih sayang menjadi bagian penting dalam memberikan pelayanan yang ramah, tulus, dan penuh kepedulian.
Tawadhu', Semakin Tinggi Kedudukan Semakin Rendah Hati
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang memiliki kedudukan sangat mulia. Namun, kemuliaan tersebut tidak menjadikan beliau sombong. Beliau tetap hidup sederhana, dekat dengan masyarakat, dan membantu keluarganya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim)
Tawadhu' berarti menyadari bahwa semua kelebihan yang dimiliki manusia pada hakikatnya merupakan karunia Allah. Sikap rendah hati juga diwujudkan dengan menghormati orang lain, mau menerima nasihat, tidak merasa paling hebat, serta tidak mencari pujian dalam melakukan kebaikan.
Menjadi Pribadi yang Pemaaf
Akhlak Rasulullah ﷺ yang juga sangat luar biasa adalah sifat pemaaf. Ketika beliau memiliki kesempatan untuk membalas perlakuan orang-orang yang dahulu memusuhinya, Rasulullah ﷺ justru memilih memberikan maaf.
Sikap pemaaf bukan berarti membenarkan kesalahan atau membiarkan kezaliman. Namun, memaafkan menunjukkan kemampuan seseorang untuk mengendalikan hawa nafsu dan tidak melampaui batas dalam membalas kesalahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
“Allah tidak menambah kepada seorang hamba karena sifat pemaafnya kecuali kemuliaan.”
(HR. Muslim)
Sikap pemaaf dapat menghadirkan ketenangan hati, menghilangkan dendam, serta memperbaiki hubungan dengan sesama.
Amanah dalam Menjalankan Tugas dan Tanggung Jawab
Materi kajian juga menekankan pentingnya sifat amanah. Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pribadi yang sangat dapat dipercaya. Amanah tidak hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga meliputi jabatan, pekerjaan, ilmu, waktu, tugas, rahasia, dan seluruh tanggung jawab yang dipercayakan kepada seseorang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَىٰ مَنِ ائْتَمَنَكَ، وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu, dan janganlah engkau mengkhianati orang yang mengkhianatimu.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Dalam kehidupan dan dunia kerja, amanah dapat diwujudkan dengan menjalankan tugas secara sungguh-sungguh, menggunakan jabatan secara benar, menjaga rahasia, tidak menyalahgunakan kepercayaan, dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Allah SWT juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa: 58)
Amanah bukan hanya merupakan tuntutan profesional, tetapi juga bagian dari keimanan dan akhlak seorang muslim.
Akhlak Rasulullah sebagai Pedoman Kehidupan
Melalui kajian AIK ini, seluruh peserta diajak untuk menjadikan Rasulullah ﷺ bukan hanya sebagai sosok yang dikagumi, tetapi sebagai teladan yang benar-benar diikuti dalam kehidupan.
Kejujuran, kesabaran, kasih sayang, tawadhu', sifat pemaaf, dan amanah merupakan akhlak yang sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam menjalankan tugas dan pekerjaan.
Bagi seluruh karyawan dan civitas RS PKU Muhammadiyah Cepu, nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam membangun pelayanan yang tidak hanya profesional, tetapi juga memiliki nilai keislaman, kepedulian, dan kemanusiaan.
Kajian AIK yang disampaikan oleh Ustadz Nur Sahlul Mubarok, S.H.I., M.Pd. ini diharapkan dapat menjadi penguat bagi seluruh peserta untuk terus memperbaiki diri dan menjadikan akhlak Rasulullah ﷺ sebagai bagian dari karakter dan perilaku sehari-hari.
Karena kecintaan kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya diwujudkan dengan sering menyebut nama beliau, tetapi dengan berusaha mengikuti dan menghidupkan akhlak mulia beliau dalam setiap aspek kehidupan.

0Comments