BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Kajian Ahad Pagi: Menjaga Kemurnian Tauhid demi Meraih Kebahagiaan Hakiki

Kajian Ahad Pagi: Menjaga Kemurnian Tauhid demi Meraih Kebahagiaan Hakiki

Kuliah Ahad Pagi PCM Cepu bedah pentingnya menjaga kemurnian tauhid sebagai kunci meraih ketenangan jiwa dan kebahagiaan hakiki.
Table of contents
×
Ustaz Muhammad Saifuddin menyampaikan materi Kuliah Ahad Pagi PCM Cepu di Masjid Al-Hikmah
Ketua PDM Blora Ustaz Muhammad Saifuddin, M.Pd.I. menyampaikan tausiyah tentang pentingnya menjaga kemurnian tauhid dalam Kajian Umum Kuliah Ahad Pagi di Masjid Al-Hikmah, Kompleks Muhammadiyah Cepu, Ahad (27/9/2026).

Di Kompleks Muhammadiyah Cepu, Ahad, 27 September 2026, para jamaah memadati Masjid Al-Hikmah untuk menghadiri agenda rutin yang dinanti-nantikan, yakni Kajian Umum Kuliah Ahad Pagi. Kali ini, kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi (MTPI) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu menghadirkan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Blora, Ustaz Muhammad Saifuddin, M.Pd.I.

Kajian kali ini mengangkat tema esensial yang menyentuh urat nadi kehidupan beragama setiap Muslim, yaitu tentang bagaimana tauhid tidak sekadar menjadi pengakuan lisan, melainkan poros sentral yang menggerakkan seluruh lini kesadaran, ketenangan batin, serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Di tengah derasnya arus modernitas dan kompleksitas problem sosial hari ini, penyegaran spiritual semacam ini menjadi kompas moral yang amat krusial bagi umat.

Paradoks Keimanan: Mengakui Allah di Lisan, Berbeda dalam Praktik

Dalam pemaparannya, Ustaz Saifuddin memberikan sebuah refleksi mendalam mengenai paradoks yang kerap melanda kehidupan manusia modern. Secara teologis dan sosiologis, hampir mustahil menemukan manusia yang secara terbuka menolak keberadaan Sang Pencipta. Manusia, secara fitrah, mengakui bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang menguasai alam semesta.

Namun, problem pelik justru muncul ketika keyakinan teologis tersebut diuji dalam ruang-ruang praksis kehidupan sehari-hari. Sering kali, pengakuan tauhid yang diikrarkan melalui lisan mengalami pergeseran ketika berhadapan dengan kepentingan duniawi, hawa nafsu, dan orientasi materialistik.

"Mengakui bahwa Allah sebagai satu-satunya Tuhan adalah landasan awal yang mutlak, tetapi dalam praktiknya, sering kali tarikan dunia membuat arah kompas kehidupan manusia menjadi berbeda," ungkap Ustaz Saifuddin di hadapan ratusan jamaah yang memadati Masjid Al-Hikmah.

Fenomena inilah yang kemudian melahirkan manusia-manusia yang mengalami alienasi spiritual. Mereka merasa telah beragama secara mapan, namun jiwanya rapuh, gamang, dan kehilangan arah ketika badai kehidupan menerpa. Agama, dalam pandangan Islam, tidak dihadirkan sekadar sebagai doktrin teoretis di atas kertas, tetapi sebagai sistem nilai yang menyeluruh yang mengatur seluruh tatanan hidup manusia.

Tauhid yang Murni sebagai Akar Kebahagiaan Hakiki

Pertanyaan mendasar yang kemudian dilemparkan kepada jamaah adalah: Apakah mungkin seseorang bisa hidup bahagia jika tauhidnya tidak murni?

Secara tegas, penceramah menyampaikan bahwa kebahagiaan sejati tidak akan pernah lahir dari fondasi tauhid yang setengah-setengah atau tercemar oleh orientasi selain Allah. Manusia mungkin saja mengecap kesenangan ragawi, kemewahan harta, atau popularitas sosial, tetapi jika tauhidnya rapuh, semua itu hanyalah ilusi kebahagiaan yang semu.

Kira-kira, bisakah seseorang merasakan ketenangan hakiki jika hatinya masih menggantungkan harapan kepada selain Allah? Jawabannya tentu saja sulit. Indikator kebahagiaan yang tampak di permukaan sering kali berbanding terbalik dengan kondisi batin yang sebenarnya. Orang yang tauhidnya belum murni akan senantiasa hidup dalam kecemasan, ketakutan kehilangan, dan kekhawatiran yang tak bertepi.

Agama Islam mengatur seluruh aturan hidup manusia bukan untuk membatasi kebebasan, melainkan agar hidup manusia berada dalam koridor kebahagiaan yang sejati. Ketika tauhid seseorang telah mencapai tingkat kemurnian, maka setiap langkah, keputusan, dan amal perbuatan akan selaras dengan kehendak Ilahi. Di sinilah letak transformasi spiritual yang mengubah beban hidup menjadi ladang ketenangan.

Goncangan Jiwa dan Bahaya Syirik

Salah satu poin paling krusial yang dibedah dalam Kuliah Ahad Pagi tersebut adalah dampak psikologis dan spiritual dari penyimpangan ajaran agama, khususnya bahaya perbuatan syirik. Syirik, dalam spektrum pemahaman yang luas, bukan hanya menyembah berhala fisik seperti di masa jahiliah kuno, tetapi juga segala bentuk ketergantungan hati yang menduakan Allah, baik itu harta, jabatan, pujian manusia, maupun kekuatan selain-Nya.

Ketika seseorang melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama, apalagi yang bersentuhan dengan wilayah kesyirikan, maka secara otomatis akan terjadi disintegrasi psikologis di dalam batinnya. Muhammad Saifuddin menjelaskan bahwa di dalam lubuk hati yang paling dalam, orang yang menyimpang dari tauhid murni akan mengalami apa yang disebut sebagai split atau keterbelahan jiwa.

"Ketika seseorang melakukan hal-hal yang dilarang agama, apalagi terjebak dalam perbuatan syirik, itu sebenarnya dalam batinnya akan terjadi kegoncangan yang luar biasa. Jiwanya tidak akan pernah merasa pas dan selaras," tegasnya.

Kegoncangan batin ini merupakan alarm fitrah manusia. Hati nurani tidak bisa dibohongi. Sekuat apa pun seseorang mencoba merasionalkan pelanggaran atau penyimpangan akidah yang dilakukannya, dimensi spiritual di dalam dirinya akan terus meneriakkan kegelisahan. Jiwa yang sehat adalah jiwa yang bertauhid secara lurus, di mana orientasi hidupnya hanya tertuju kepada keridaan Allah SWT.

Memahami Ibadah Khusus dan Ibadah Umum dalam Bingkai Tarjih

Melanjutkan uraiannya, penceramah mengajak jamaah untuk memahami bangunan keislaman dari sudut pandang manhaj tarjih yang dikembangkan di lingkungan Muhammadiyah. Dalam pemahaman ini, ruang lingkup ibadah dalam Islam terbagi secara komprehensif ke dalam dua kategori besar: ibadah khashshah (khusus) dan ibadah ‘ammah (umum).

Ibadah khashshah mencakup rukun Islam dan ritual vertikal yang ketat tata caranya berdasarkan sunnah Rasulullah SAW, seperti salat, zakat, puasa, dan haji. Ibadah jenis ini berfungsi sebagai pengisi baterai spiritual sekaligus penegak pilar keislaman seseorang. Tanpa penegakan ibadah khusus yang disiplin, bangunan keislaman seseorang akan kehilangan tiang penyangganya.

Di sisi lain, terdapat pula ibadah ‘ammah (umum), yaitu seluruh aktivitas kebaikan duniawi yang diniatkan semata-mata mencari keridaan Allah SWT. Bekerja dengan jujur, belajar dengan sungguh-sungguh, berdakwah bil-lisan maupun bil-qalam, menebar manfaat bagi sesama, memajukan ekonomi umat, hingga mengelola urusan kebangsaan dan kemanusiaan, semuanya bernilai ibadah di hadapan Allah apabila dilandasi oleh tauhid yang lurus.

Kombinasi harmonis antara ibadah khashshah dan ‘ammah inilah yang melahirkan profil Muslim berkemajuan, di mana seorang hamba taat secara ritual sekaligus produktif dan transformatif dalam amal sosial kemasyarakatan.

Seluruh rangkaian rukun Islam, mulai dari syahadat hingga ibadah haji, merupakan satu kesatuan sistemik yang dirancang oleh Sang Pencipta untuk mengantarkan umat manusia pada keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat.


Kajian Umum Kuliah Ahad Pagi yang diselenggarakan oleh MTPI PCM Cepu ini berhasil memberikan pencerahan bernas bagi para jamaah yang hadir. Antusiasme warga Muhammadiyah Cepu dan sekitarnya menunjukkan bahwa haus akan ilmu agama yang mendalam, mencerahkan, dan aplikatif tetap menjadi kebutuhan utama masyarakat di tengah dinamika zaman yang kian menantang.

Melalui forum-forum pencerahan seperti ini, diharapkan kesadaran tauhid umat tidak berhenti pada batas hafalan teoretis semata, melainkan menjelma menjadi energi positif yang mewujud dalam etos kerja, integritas moral, keharmonisan keluarga, dan kepedulian sosial yang nyata. Sebab, pada akhirnya, hanya dengan tauhid yang murnilah manusia dapat menemukan pelabuhan kebahagiaan yang sejati, sebuah ketenangan jiwa yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan duniawi.

0Comments