Megalrejo, 10 September 2026 — Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Megalrejo kembali menyelenggarakan kajian rutin bulanan dengan menghadirkan Ustadz H. M. Al Amin, S.Kom., M.Pd. sebagai pemateri. Kajian yang berlangsung di lingkungan Ranting Muhammadiyah Megalrejo tersebut mengangkat tema “Maulid Nabi”, dengan pembahasan mengenai makna mencintai Rasulullah ﷺ dan bagaimana kecintaan tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kajiannya, Ustadz H. M. Al Amin mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada ungkapan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, tetapi membuktikannya melalui mengikuti tuntunan, akhlak, dan sunnah Rasulullah.
Sejarah Peringatan Maulid Nabi
Pada awal kajian, beliau menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Pendapat yang populer di masyarakat menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ lahir pada 12 Rabiul Awal. Namun, para ulama dan ahli sejarah berbeda pendapat mengenai tanggal pastinya.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa tradisi peringatan Maulid Nabi dalam bentuk perayaan khusus berkembang beberapa abad setelah masa Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Salah satu dinasti yang dikenal mengadakan peringatan kelahiran adalah Dinasti Fatimiyah di Mesir, yang juga memiliki berbagai peringatan terkait keluarga dan penguasa.
Dari pembahasan tersebut, jamaah diajak untuk memahami bahwa yang paling penting bukan sekadar memperdebatkan bentuk peringatan, tetapi bagaimana kecintaan kepada Rasulullah ﷺ benar-benar diwujudkan melalui amal yang memiliki dasar dan keteladanan yang jelas.
Memperbanyak Shalawat sebagai Wujud Cinta kepada Rasulullah
Salah satu bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak shalawat.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
Ayat ini menunjukkan kedudukan shalawat kepada Nabi ﷺ sebagai amalan yang diperintahkan Allah SWT kepada orang-orang beriman.
Ustadz H. M. Al Amin menyampaikan bahwa shalawat merupakan salah satu amalan yang mudah dilakukan oleh setiap muslim. Bahkan dalam shalat wajib, umat Islam telah membaca shalawat dalam tasyahhud, sehingga setiap hari seorang muslim memiliki kesempatan untuk senantiasa bershalawat kepada Rasulullah ﷺ.
Beliau juga mengingatkan agar umat Islam memperbanyak shalawat, khususnya pada hari Jumat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ
“Sesungguhnya hari yang paling utama di antara hari-hari kalian adalah hari Jumat. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian akan disampaikan kepadaku.”
(HR. Abu Dawud)
Cinta kepada Rasulullah Harus Dibuktikan dengan Keteladanan
Dalam kajian tersebut, Ustadz H. M. Al Amin menekankan bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya dengan ucapan. Kecintaan yang sebenarnya harus melahirkan kemauan untuk mengikuti apa yang beliau tuntunkan.
Allah SWT berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat tersebut memberikan pesan penting bahwa bukti kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ittiba', yaitu mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.
Karena itu, momentum Maulid Nabi semestinya menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi: sudah sejauh mana akhlak dan kehidupan kita meneladani Rasulullah ﷺ?
Meneladani Akhlak Rasulullah ﷺ
Ustadz H. M. Al Amin kemudian menguraikan beberapa sifat Rasulullah ﷺ yang patut menjadi teladan bagi umat Islam.
1. Tidak Berkata dan Berbuat Keji
Rasulullah ﷺ merupakan sosok yang menjaga lisan dan perbuatannya. Beliau tidak membiasakan perkataan buruk, keji, maupun menyakiti orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.”
(HR. Tirmidzi)
Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ harus terlihat dari bagaimana seorang muslim menjaga ucapan, terutama dalam kehidupan bermasyarakat dan bermedia sosial.
2. Tidak Gemar Berteriak dan Bersikap Kasar
Rasulullah ﷺ memiliki akhlak yang lembut dan tidak suka berperilaku kasar. Allah SWT menggambarkan kelembutan beliau:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)
Akhlak tersebut mengajarkan pentingnya keramahan, kesabaran, dan kelembutan dalam berinteraksi dengan orang lain.
3. Tidak Membalas Keburukan dengan Keburukan
Rasulullah ﷺ memberikan teladan dalam menghadapi orang yang menyakiti beliau. Beliau tidak menjadikan keburukan orang lain sebagai alasan untuk membalas dengan keburukan.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik.”
(QS. Fussilat: 34)
Sikap memaafkan dan berlapang dada merupakan bagian penting dari akhlak Rasulullah ﷺ yang perlu diteladani.
4. Gemar Bersedekah dan Dermawan
Rasulullah ﷺ merupakan pribadi yang sangat dermawan. Harta tidak hanya dinikmati untuk kepentingan pribadi, tetapi juga digunakan untuk membantu dan memberikan manfaat kepada sesama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”
(HR. Muslim)
Semangat berbagi hendaknya menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim, baik melalui sedekah, infak, membantu sesama, maupun amal sosial.
5. Tidak Meninggalkan Shalat
Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ juga harus diwujudkan dengan menjaga shalat. Shalat merupakan ibadah utama yang harus senantiasa dijaga oleh seorang muslim.
Allah SWT berfirman:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Peliharalah semua shalat dan shalat wustha. Dan laksanakanlah shalat karena Allah dengan khusyuk.”
(QS. Al-Baqarah: 238)
Meneladani Rasulullah ﷺ berarti berusaha menjadikan shalat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan.
6. Senantiasa Tawadhu
Meskipun memiliki kedudukan yang sangat mulia, Rasulullah ﷺ tetap merupakan pribadi yang rendah hati. Beliau tidak menjadikan kemuliaannya sebagai alasan untuk menyombongkan diri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim)
Tawadhu mengajarkan seorang muslim untuk tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain, tetap menghormati sesama, dan menyadari bahwa seluruh kelebihan yang dimiliki merupakan karunia Allah SWT.
Maulid sebagai Momentum Muhasabah
Pada akhir kajian, jamaah diajak menjadikan momentum pembahasan Maulid Nabi sebagai sarana muhasabah dan perbaikan diri.
Memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ merupakan amal yang baik, tetapi kecintaan kepada beliau hendaknya tidak berhenti pada lisan. Cinta tersebut harus diwujudkan dalam perilaku: menjaga shalat, berkata baik, menjauhi perbuatan keji, bersikap lembut, mudah memaafkan, gemar berbagi, serta senantiasa rendah hati.
Dengan demikian, semangat mencintai Rasulullah ﷺ akan benar-benar memberikan perubahan dalam kehidupan.
Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ, tetapi menjadi momentum untuk menghadirkan kembali keteladanan beliau dalam kehidupan. Semakin mencintai Rasulullah, semakin kuat pula keinginan untuk mengikuti akhlak dan tuntunan beliau.
Kajian bulanan Ranting Muhammadiyah Megalrejo tersebut diharapkan dapat memperkuat kecintaan jamaah kepada Rasulullah ﷺ sekaligus mendorong lahirnya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, istiqamah dalam ibadah, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
0Comments