Cepu, 10 September 2026 — Pemuda Muhammadiyah Cepu kembali melaksanakan kajian rutin pekanan pada Kamis malam, 10 September 2026, bertempat di Masjid Al-Hikmah Cepu. Kajian menghadirkan Ustaz Helmi Gunawan, S.Pd., M.Pd. sebagai pemateri.
Kajian berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan diikuti oleh para pemuda serta jamaah yang hadir. Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar Pemuda Muhammadiyah Cepu dalam meningkatkan pemahaman keislaman sekaligus membangun semangat generasi muda untuk terus belajar, beramal, dan memperbaiki diri.
Mengawali Kajian dengan Surah Al-Ahzab Ayat 72
Dalam penyampaian materi, Ustaz Helmi mengawali pembahasan dengan Surah Al-Ahzab ayat 72 yang berbicara mengenai amanah.
Allah SWT berfirman:
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh."
(QS. Al-Ahzab: 72)
Ustaz Helmi menjelaskan bahwa ayat tersebut memberikan gambaran betapa beratnya amanah yang diterima manusia. Langit, bumi, dan gunung tidak mampu menerima amanah tersebut karena merasa khawatir tidak dapat menunaikannya dengan baik.
Kata asyfaqna dalam ayat tersebut mengandung makna rasa khawatir atau takut apabila tidak mampu menunaikan amanah. Sementara syafaqah juga memiliki makna kekhawatiran yang lahir karena adanya rasa sayang.
Menurut Ustaz Helmi, manusia seharusnya memiliki rasa takut dan hati-hati dalam menjalankan amanah. Sebab, amanah bukan sesuatu yang ringan untuk dipertanggungjawabkan.
Berbuat Baik Mendapat Pahala, Berbuat Dosa Mendapat Siksa
Lebih lanjut disampaikan bahwa kandungan amanah tersebut pada dasarnya berkaitan dengan konsekuensi perbuatan manusia. Berbuat baik mendapatkan pahala, sedangkan berbuat dosa mendapatkan siksa.
Namun, realitas kehidupan menunjukkan bahwa sebagian manusia menginginkan kebebasan untuk melakukan apa saja, baik maupun buruk, tetapi berharap semuanya tetap mendapatkan pahala. Padahal, Allah SWT telah memberikan aturan yang jelas mengenai konsekuensi amal perbuatan.
Karena itu, kehidupan harus dipahami sebagai sebuah amanah. Hidup ini amanah, baik ketika mendapatkan keadaan yang menyenangkan maupun ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan.
Setiap keadaan harus dihadapi dengan iman, kesabaran, dan amal saleh.
Dunia Tempat Beramal, Akhirat Tempat Pembalasan
Dalam kajian tersebut juga disampaikan ungkapan:
الدُّنْيَا دَارُ الْعَمَلِ لَا دَارُ الْجَزَاءِ، وَالْآخِرَةُ دَارُ الْجَزَاءِ لَا دَارُ الْعَمَلِ
"Dunia adalah tempat beramal, bukan tempat mendapatkan balasan. Sedangkan akhirat adalah tempat mendapatkan balasan dan bukan lagi tempat beramal."
Pesan tersebut mengajak para pemuda untuk memahami bahwa kehidupan dunia merupakan kesempatan yang Allah berikan untuk berbuat dan mengumpulkan amal saleh. Adapun balasan atas amal tersebut akan diterima di akhirat.
Ustaz Helmi juga mengajak jamaah untuk memaknai perjalanan waktu dengan ungkapan:
"Yesterday was history, today is a gift (present), tomorrow is a mystery."
Hari kemarin adalah sejarah yang telah berlalu. Hari ini adalah pemberian atau kesempatan yang harus disyukuri, sedangkan hari esok masih menjadi misteri.
Hal tersebut juga dapat direnungkan melalui ungkapan:
أَمْسِي أَجَلٌ لَمْ يَرْجِعْ، وَالْيَوْمُ عَمَلٌ، وَغَدًا أَمَلٌ
"Kemarin adalah waktu yang telah berlalu dan tidak akan kembali, hari ini adalah kesempatan untuk beramal, sedangkan esok adalah harapan."
Karena itu, kesempatan yang ada pada hari ini jangan disia-siakan.
Menghayati Istighfar dan Memperbanyak Taubat
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Helmi juga menganjurkan kepada anak-anak dan generasi muda untuk menghafalkan Surah Al-Qiyamah kemudian dilanjutkan dengan menghafalkan dan memahami Sayyidul Istighfar.
Anjuran tersebut bukan sekadar untuk menghafal secara lisan, tetapi juga agar setiap orang memahami dan menghayati maknanya.
Manusia memiliki banyak kekurangan dan tidak terlepas dari dosa. Di sisi lain, amal ketaatan yang dilakukan sering kali masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan berbagai nikmat Allah SWT yang diterima setiap hari.
Meskipun demikian, Allah SWT tetap menyempurnakan nikmat-Nya kepada manusia. Karena itu, sikap yang seharusnya muncul adalah memperbanyak rasa syukur, memohon ampun, dan terus memperbaiki kualitas amal.
Memperbanyak taubat dan istighfar menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang muslim agar tidak terlena dengan kehidupan dunia dan senantiasa menyadari keterbatasan dirinya.
Uswah, Tsiqah, Ikram, Tha'ah dan Barakah
Pada bagian akhir kajian, Ustaz Helmi mengajak para pemuda untuk mengingat dan menghubungkan beberapa nilai penting dalam kehidupan, yaitu:
Uswah – Tsiqah – Ikram – Tha'ah – Barakah.
Uswah berarti keteladanan. Seorang pemuda hendaknya mampu menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Tsiqah berarti kepercayaan. Kepercayaan harus dibangun melalui kejujuran, tanggung jawab, dan konsistensi dalam menjalankan amanah.
Ikram berarti memuliakan atau menghormati. Nilai ini perlu diwujudkan dengan menghormati orang tua, guru, sesama muslim, serta orang-orang di sekitar.
Tha'ah berarti ketaatan, terutama ketaatan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Sedangkan barakah adalah keberkahan yang diharapkan hadir dalam kehidupan ketika seseorang menjalankan amanah dengan benar, berbuat baik, serta senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kajian pekanan Pemuda Muhammadiyah Cepu tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan bukan sekadar perjalanan untuk menikmati dunia, melainkan kesempatan untuk menunaikan amanah dan memperbanyak amal saleh.
Pemuda sebagai generasi penerus dakwah diharapkan mampu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, memperkuat ibadah, memperbanyak taubat, serta menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya. Sebab dunia adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat mempertanggungjawabkan seluruh amal yang telah dilakukan.
0Comments