BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Memecahkan Problema Pribadi, Umat, dan Bangsa dengan Berpegang Teguh kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah

Memecahkan Problema Pribadi, Umat, dan Bangsa dengan Berpegang Teguh kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah

Kajian Ahad Pagi pada Ahad, 5 Juli 2026 M / 20 Muharram 1448 H di Masjid Al Hikmah Cepu. Kegiatan yang rutin digelar setiap Ahad pagi ini diawali deng
Table of contents
×

Cepu, 5 Juli 2026 – Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu kembali menyelenggarakan Kajian Ahad Pagi pada Ahad, 5 Juli 2026 M / 20 Muharram 1448 H di Masjid Al Hikmah Cepu. Kegiatan yang rutin digelar setiap Ahad pagi ini diawali dengan tahsin Al-Qur'an yang dipandu oleh Ustadz Zaenal Arifin, S.Ag., M.M., sebagai upaya meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur'an jamaah sebelum mengikuti kajian utama.

Kajian kali ini menghadirkan Ustadz Drs. H. Ali Maghfur, M.Pd. yang menyampaikan materi bertajuk "Memecahkan Problema Pribadi, Umat, dan Bangsa". Kegiatan berlangsung dengan penuh antusias dan mendapat dukungan penuh dari LAZISMU Kantor Layanan Cepu, sehingga pelaksanaan kajian berjalan dengan baik dan lancar.

Problema Kehidupan adalah Sunnatullah

Dalam mukadimahnya, pemateri mengajak jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala karena ketakwaan merupakan kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.

Beliau menjelaskan bahwa perbedaan pendapat dalam kehidupan manusia merupakan bagian dari sunnatullah. Allah Ta'ala berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ ۝ إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ

"Sekiranya Tuhanmu menghendaki, niscaya Dia menjadikan manusia satu umat saja, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu." (QS. Hud: 118–119)

Namun demikian, beliau menegaskan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi sebab perpecahan. Perbedaan harus disikapi dengan ilmu, akhlak, dan persaudaraan.

Pandai Berbicara tetapi Tidak Mengamalkan

Salah satu problema yang banyak terjadi saat ini adalah seseorang pandai berbicara namun tidak mengamalkan apa yang disampaikannya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Shaff: 2–3)

Beliau mengingatkan bahwa dakwah yang paling efektif adalah keteladanan. Seorang muslim hendaknya menjadi contoh dalam ibadah, akhlak, dan kehidupan sehari-hari.

Menyelesaikan Perselisihan dengan Syariat

Menurut pemateri, berbagai persoalan umat hanya dapat diselesaikan apabila umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang benar berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Beliau mengutip hadis Rasulullah ﷺ:

"Bagaimana pendapatmu jika aku melaksanakan salat wajib, berpuasa Ramadan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, apakah aku masuk surga?" Rasulullah menjawab, "Ya." (HR. Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya istiqamah dalam menjalankan syariat Islam secara benar.

Menjaga Lisan di Era Media Sosial

Pembahasan berikutnya menyoroti fenomena media sosial yang sering menjadi sumber fitnah, permusuhan, dan penyebaran informasi yang tidak benar.

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. Al-Ahzab: 70–71)

Beliau mengingatkan agar umat Islam bijak menggunakan media sosial serta menjaga lisan maupun tulisan agar selalu membawa manfaat.

Memahami Maqashid Syariah

Kajian juga mengulas pentingnya memahami tujuan disyariatkannya berbagai ibadah (Maqashid Syariah).

Di antaranya:

  • Wudu bertujuan menyucikan diri.
  • Salat mencegah perbuatan keji dan mungkar.
  • Puasa membentuk ketakwaan.
  • Zakat menyucikan harta dan jiwa.
  • Haji menghadirkan berbagai kemaslahatan bagi umat.

Dengan memahami hikmah syariat, ibadah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi mampu membentuk karakter seorang muslim.

Amar Makruf Nahi Mungkar

Ustadz Ali Maghfur menegaskan bahwa setiap muslim memiliki kewajiban untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Allah berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104)

Beliau juga mengutip hadis Rasulullah ﷺ:

"Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim)

Jangan Menyembunyikan Kebenaran

Pemateri mengingatkan pentingnya menyampaikan ilmu dan kebenaran kepada masyarakat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ...

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan keterangan dan petunjuk yang telah Kami turunkan... mereka dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh semua makhluk yang dapat melaknat." (QS. Al-Baqarah: 159)

Karena itu, dakwah merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab.

Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

Dalam kehidupan bermasyarakat, persatuan hanya dapat diwujudkan apabila seluruh umat menaati Allah dan Rasul-Nya.

Allah berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا

"Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu." (QS. Al-Anfal: 46)

Penutup

Menutup kajiannya, Ustadz Drs. H. Ali Maghfur, M.Pd. menyampaikan bahwa solusi berbagai persoalan pribadi, umat, dan bangsa adalah dengan memperkuat akidah, melaksanakan syariat Islam secara benar, serta menghiasi kehidupan dengan akhlak mulia. Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Beliau juga mengutip firman Allah:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

"Sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi." (QS. Al-A'raf: 96)

Kajian Ahad Pagi ditutup dengan doa bersama. Para jamaah berharap kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi PCM Cepu ini terus menjadi sarana memperkuat pemahaman keislaman, mempererat ukhuwah, serta membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan. Dukungan penuh dari LAZISMU Kantor Layanan Cepu menjadi bagian penting dalam keberlangsungan dakwah dan pembinaan umat di wilayah Cepu dan sekitarnya.


0Comments