BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Kajian Ahad Pagi PCM Cepu: Membangun Kebiasaan Kecil Menuju Perubahan Besar dalam Islam

Kajian Ahad Pagi PCM Cepu: Membangun Kebiasaan Kecil Menuju Perubahan Besar dalam Islam

Dalam pemaparannya, Ustadz Dr. Aang Kunaepi menjelaskan bahwa atomic habit adalah kebiasaan kecil dan sederhana yang dilakukan secara terus-menerus da
Table of contents
×
Cepu – Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu kembali menyelenggarakan kajian Ahad pagi pada Ahad, 14 Juni 2026, bertempat di Masjid Al-Hikmah Cepu. Kajian yang dihadiri oleh jamaah dari berbagai kalangan ini menghadirkan pemateri Ustadz Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., yang menyampaikan materi bertema "Atomic Habit dalam Perspektif Islam: Kebiasaan Kecil yang Mengantarkan pada Kemuliaan". Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Lazismu KLC Cepu.

Kajian diawali dengan ajakan kepada seluruh jamaah untuk menyadari bahwa perubahan besar dalam kehidupan tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Justru, kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara istiqamah dapat membawa dampak luar biasa bagi kualitas diri seorang Muslim.

Atomic Habit: Kebiasaan Kecil yang Konsisten

Dalam pemaparannya, Ustadz Dr. Aang Kunaepi menjelaskan bahwa atomic habit adalah kebiasaan kecil dan sederhana yang dilakukan secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari hingga menjadi bagian dari karakter seseorang.

Beliau menjelaskan bahwa proses terbentuknya sebuah kebiasaan dimulai dari langkah yang ringan dan mudah dilakukan.

Beberapa prinsip dalam membangun kebiasaan antara lain:

  • Memulai dari hal yang kecil.
  • Dilakukan secara konsisten.
  • Tidak membebani diri dengan target yang terlalu berat.
  • Mengulanginya hingga menjadi kebiasaan yang menetap.

Menurut beliau, ketika seseorang merasa bahwa suatu amalan itu mudah dilakukan, maka ia akan terdorong untuk mengulanginya. Sebaliknya, apabila seseorang langsung memaksakan diri pada tingkatan yang berat, sering kali muncul rasa enggan untuk melanjutkan.

Dalam Islam, konsep ini sangat dekat dengan nilai istiqamah, yaitu melakukan amal secara terus-menerus meskipun sedikit.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa keberlangsungan amal lebih utama daripada semangat sesaat yang kemudian terputus.

Jangan Menjadi Orang yang Meninggalkan Kebiasaan Baiknya

Dalam kajian tersebut, Ustadz Dr. Aang juga menyampaikan hadis Rasulullah ﷺ yang menjadi pelajaran penting agar seorang Muslim menjaga kebiasaan baik yang telah dibangunnya.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abdullah bin Umar:

يَا عَبْدَ اللَّهِ، لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

"Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dahulu ia biasa mengerjakan salat malam, namun kemudian ia meninggalkan salat malam itu."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga konsistensi dalam beribadah. Kebiasaan baik yang telah dibangun hendaknya dipertahankan agar tidak hilang begitu saja.

Ciri-Ciri Orang yang Rugi dan Sengsara

Dalam kesempatan tersebut, pemateri juga mengingatkan tentang beberapa sikap yang dapat menjadikan seseorang termasuk golongan yang merugi dalam hidupnya.

1. Melupakan dosa-dosa masa lalu

Seseorang merasa aman seolah-olah dosanya telah hilang, padahal seluruh amal manusia tercatat dengan sempurna di sisi Allah.

Allah SWT berfirman:

وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

"Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan itu ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun."
(QS. Al-Kahfi: 49)

Kesadaran akan dosa seharusnya melahirkan taubat dan memperbanyak istighfar.

2. Selalu memandang kehidupan dunia kepada orang yang lebih tinggi

Ketika seseorang terus membandingkan urusan dunianya dengan orang yang lebih kaya atau lebih beruntung, ia mudah terjerumus dalam rasa kurang dan tidak bersyukur.

Rasulullah ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

"Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian."
(HR. Muslim)

3. Mengingat-ingat kebaikan masa lalu

Seseorang merasa bangga terhadap amal-amal yang pernah dilakukan, padahal belum tentu amal tersebut diterima oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

"Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Ma'idah: 27)

Karena itu, seorang mukmin hendaknya senantiasa berharap amalnya diterima sekaligus merasa khawatir jika amal tersebut belum memenuhi syarat keikhlasan dan ketakwaan.

4. Memandang kehidupan akhirat kepada orang yang lebih rendah

Dalam urusan akhirat, seorang Muslim hendaknya melihat kepada orang-orang yang lebih saleh agar termotivasi meningkatkan kualitas ibadah dan amal kebaikannya.

Memulai dari Langkah Kecil Menuju Istiqamah

Di akhir kajian, Ustadz Dr. Aang Kunaepi mengajak jamaah untuk mulai membangun kebiasaan baik dari hal-hal sederhana, seperti:

  • Membaca Al-Qur'an beberapa ayat setiap hari.
  • Menjaga salat berjamaah tepat waktu.
  • Membiasakan dzikir pagi dan petang.
  • Bersedekah meskipun sedikit.
  • Membiasakan istighfar dan doa setiap hari.

Menurut beliau, kebiasaan kecil yang dilakukan secara istiqamah akan membentuk karakter, memperkuat iman, dan mengantarkan seseorang kepada perubahan besar yang diridhai Allah SWT.

Kajian Ahad pagi berlangsung dengan penuh antusiasme dan menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang mukmin bukan ditentukan oleh besarnya langkah yang sesekali dilakukan, tetapi oleh konsistensi dalam menjaga amal-amal kecil yang dicintai Allah.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam kebaikan, mampu menjaga kebiasaan baik hingga akhir hayat, serta senantiasa memperbaiki diri dari hari ke hari.

"Perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah karena Allah SWT."

 




0Comments