BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Menjawab Tudingan tentang Ka’bah: Benarkah Umat Islam Menyembah Batu?

Menjawab Tudingan tentang Ka’bah: Benarkah Umat Islam Menyembah Batu?

Table of contents
×
Tudingan yang menyebut umat Islam menyembah batu karena menghadap ke Ka’bah saat salat kembali diluruskan secara tegas. Miskonsepsi teologis yang kerap dilontarkan pihak luar ini dijawab dengan argumen logis menggunakan fakta lapangan terkait perlakuan terhadap bangunan suci tersebut. Umat Islam menegaskan bahwa Ka'bah murni berfungsi sebagai kiblat pemersatu arah ibadah, bukan sebagai objek sembahan atau berhala modern.

Penjelasan teologis ini disampaikan langsung oleh Ustadz H. Muhammad Al Amin, S.Kom., M.Pd. dalam Kajian Umum Kuliah Ahad Pagi di Masjid Al-Hikmah Cepu, Blora, pada 21 Juni 2026. Beliau dengan lugas merespons adanya pandangan sinis yang menyamakan penghormatan fisik terhadap Ka'bah dengan praktik penyembahan berhala pada masa jahiliyah.

Beliau menceritakan bahwa misinformasi ini masih sering bergulir di tengah masyarakat luas, termasuk dalam dialog antarumat beragama. Beberapa pihak mengklaim bahwa umat Islam bersikap kontradiktif karena menolak berhala tetapi tetap bersujud menghadap sebuah bangunan batu berbentuk kubus di Kota Makkah.

"Kalau Ka'bah itu sesembahan, kenapa Ka'bah itu diinjak-injak sama orang?" ujar Ustadz H. Muhammad Al Amin, S.Kom., M.Pd. di hadapan ratusan jemaah yang memadati ruang utama masjid.

Fakta Penggantian Kiswah
Untuk mematahkan tudingan umat Islam menyembah batu, Ustadz Al Amin menunjukkan bukti visual otentik mengenai prosesi penggantian kelambu Ka'bah atau yang dikenal sebagai kiswah. Setiap memasuki tanggal 1 Muharram, para petugas teknis terekam menaiki struktur bangunan Ka'bah tanpa keraguan atau ketakutan spiritual apa pun. Mereka berdiri, berjalan, dan berpijak langsung di atas dinding bangunan suci tersebut demi memasang kain sutra penutup yang baru.

Secara logika universal, tidak ada satu pun pemeluk agama di dunia yang akan tega atau berani menginjak-injak objek yang mereka tuhankan atau sembah. Tindakan berkala para petugas di Makkah tersebut menjadi bukti fisik paling nyata bahwa bangunan Ka'bah bukanlah zat yang disembah oleh umat Muslim saat menunaikan ibadah salat.

"Ganti kiswah kemarin tanggal 1 Muharram tuh Ka'bah diinjak-injak Pak. Seandainya itu sesembahan, enggak mungkin diinjak-injak," kata Ustadz Al Amin memperkuat argumentasinya sambil menunjukkan dokumentasi visual di Masjidil Haram melalui layar presentasi.

Pernyataan Tegas Umar bin Khattab Soal Hajar Aswad
Selain persoalan fisik bangunan Ka'bah, batu hitam Hajar Aswad yang tertanam di salah satu sudut dindingnya juga sering memicu kesalahpahaman serupa. Banyak pengamat luar mengira bahwa ritual mencium atau melambaikan tangan ke arah Hajar Aswad saat tawaf merupakan bentuk pengultusan makhluk terhadap benda mati.

Menjawab keraguan tersebut, Ustadz Al Amin mengutip pernyataan historis yang sangat masyhur dari Khalifah kedua Islam, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Ucapan Umar tersebut menjadi batas teologis yang sangat kokoh untuk membedakan antara ibadah tauhid murni dan ritual paganisme.

Dalam catatan sejarah sahih, Umar bin Khattab pernah berdiri tegak di depan Hajar Aswad lalu berbicara dengan lantang demi mendidik umat Islam yang baru masuk agama tauhid agar tidak salah paham.

"Seandainya Rasulullah enggak mencium kamu, saya enggak akan mencium kamu," ucap Ustadz Al Amin menirukan perkataan tegas Umar bin Khattab terhadap batu hitam tersebut.

Kalimat pendek dari sahabat Nabi tersebut membuktikan bahwa tindakan menghormati Hajar Aswad murni dilakukan atas dasar ittiba' atau mengikuti sunah dan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Batu tersebut sama sekali tidak memiliki kekuatan magis, tidak bisa mendatangkan mudarat, dan tidak menyimpan sifat ketuhanan apa pun yang mewajibkan manusia tunduk kepadanya.

Fungsi Ka'bah Sebagai Kiblat Pemersatu
Ustadz Al Amin kembali menggarisbawahi bahwa posisi Ka'bah mutlak berperan sebagai garis koordinat atau kiblat pemersatu global. Ketika jutaan Muslim dari berbagai benua menghadapkan wajah ke arah yang persis sama, hal itu adalah simbol persatuan komando dan ketaatan mutlak terhadap perintah Allah SWT, bukan penyembahan materi fisik bangunan.

Edukasi akidah seperti ini dinilai sangat krusial, terutama bagi generasi muda Muslim yang aktif di ekosistem digital. Pemahaman yang mendalam akan menjaga mereka dari berbagai narasi keliru, disinformasi keagamaan, serta hoaks teologis yang sengaja disebarkan pihak tertentu di media sosial untuk menggoyahkan keimanan.

"Jadi sekali lagi, kita tidak menyembah kepada batu tapi hanya kepada Allah," tutur Ustadz Al Amin dengan nada mantap sebelum melanjutkan materi kajian berikutnya mengenai kemuliaan bulan Muharram.

Melalui penjelasan yang jernih dan berbasis fakta lapangan ini, jemaah diharapkan memiliki bekal argumen yang rasional dan kuat. Ka'bah akan terus berdiri tegak sebagai pusat spiritual dunia Islam, menjadi bukti nyata ibadah tauhid yang bersih dari segala bentuk syirik dan penyembahan benda mati.

0Comments