BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Jangan Hanya Semangat Berhaji, Bekal Ilmu Jadi Penentu Kesempurnaan Ibadah

Jangan Hanya Semangat Berhaji, Bekal Ilmu Jadi Penentu Kesempurnaan Ibadah

Table of contents
×
Kesiapan finansial sering kali membuat calon jemaah haji merasa sudah siap sepenuhnya untuk berangkat ke Tanah Suci. Namun, Ketua KBIHU Muhammadiyah Cepu, Drs. H. Mariya, M. Pd., mengingatkan jemaah agar tidak terjebak dalam fenomena "asal berangkat". Beliau menegaskan bahwa ibadah haji menuntut pemahaman ilmu yang mendalam, bukan sekadar ketebalan dompet.

Ustadz Mariya menyoroti pergeseran motivasi sebagian masyarakat. Banyak orang yang begitu bersemangat mendaftar haji, namun abai terhadap persiapan batin dan pengetahuan. "Pesan kita kepada para jemaah, calon jemaah haji itu ya jangan hanya semangat untuk beribadah haji karena punya uang," ujar Drs. H. Mariya, M. Pd.

Menurutnya, pemenuhan aspek finansial hanyalah syarat administratif untuk mendapatkan porsi keberangkatan, bukan jaminan keabsahan ibadah di hadapan Allah SWT.

Fenomena 'Asal Berangkat': Ibadah Haji Bukan Sekadar Mampu Bayar
Sebagian calon jamaah haji mungkin merasa bahwa segala urusan di Arab Saudi nanti dapat diserahkan sepenuhnya kepada petugas atau pembimbing kloter. Namun, pola pikir ini dinilai tidak tepat dan berpotensi merugikan jemaah itu sendiri saat menghadapi jutaan manusia dari berbagai belahan dunia.

Ustadz Mariya menjelaskan bahwa esensi ibadah haji memerlukan ketahanan fisik, mental, dan yang terpenting adalah kemandirian yang berbasis ilmu. Uang melimpah tidak akan bisa menggantikan pemahaman personal jemaah mengenai apa yang harus mereka lakukan saat wukuf di Arafah atau tawaf di Kakbah. Kesiapan finansial harus berjalan selaras dengan kesiapan ilmu.

Informasi Pendaftaran:


Risiko Fatal Berhaji Tanpa Bekal Ilmu
Melaksanakan rukun Islam kelima tanpa bekal pengetahuan yang memadai bukan sekadar membuat jemaah kebingungan nantinya. Ustadz Mariya mengingatkan adanya konsekuensi teologis yang sangat fatal bagi mereka yang malas belajar. Ibadah yang dikerjakan tanpa dasar syariat yang jelas berisiko menjadi sia-sia.

"Ibadah yang tidak didasari dengan ilmu tentu ibadah yang tidak sempurna atau bahkan bisa tertolak ibadahnya karena tidak memiliki ilmu," ujar Drs. H. Mariya, M. Pd.

Pernyataan ini menjadi alarm keras bagi seluruh calon jemaah haji. Risiko ibadah haji tertolak tentu menjadi kerugian terbesar, mengingat jemaah sudah mengorbankan waktu tunggu yang lama serta biaya yang tidak sedikit. 

Keharusan Belajar dan Mengikuti Tuntunan
Agar terhindar dari risiko ibadah yang tidak sah, belajar menjadi satu-satunya jalan yang harus ditempuh jemaah. Sifat ibadah haji yang penuh dengan detail ritual mengharuskan jemaah memahami setiap dasar hukum dari amalan yang mereka kerjakan.

"Apabila seorang ingin melakukan ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah ya tentu harus belajar," ujar Drs. H. Mariya, M. Pd.

Beliau menambahkan bahwa seluruh bimbingan di KBIHU Muhammadiyah Cepu selalu merujuk pada dalil-dalil yang sahih. Jemaah dibekali pengetahuan untuk beribadah berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, bukan sekadar ikut-ikutan tradisi atau perilaku jemaah lain.

Melalui pembelajaran manasik haji yang intensif, jemaah dilatih untuk menguasai rukun, wajib, hingga sunnah haji secara mandiri. Dengan demikian, nantinya jamaah dapat menjalankan seluruh prosesi ibadah dengan penuh keyakinan dan kedamaian hati.

0Comments