BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Sering Sulit Berkata 'Tidak'? Kenali Konsep 'Healthy Selfishness' dan Batasannya dalam Islam

Sering Sulit Berkata 'Tidak'? Kenali Konsep 'Healthy Selfishness' dan Batasannya dalam Islam

Table of contents
×

Pernahkah Anda merasa lelah secara mental karena selalu mendahulukan kepentingan orang lain? Banyak orang mengorbankan kebahagiaan diri sendiri hanya demi menyenangkan semua pihak. Istilah populernya, people pleaser. Menjaga batasan diri sangat penting untuk melindungi kesehatan mental.

Khatib Ustadz Drs. Mokh. Fathoni, MM mengulas konsep psikologi modern ini secara mendalam. Beliau menyampaikannya dalam khutbah Sholat Idul Adha 1447 H di Lapangan Ronggolawe, Cepu, Blora, pada Rabu (27/5/2026) kemarin. Menariknya, Ustadz Fathoni mengawinkan teori psikologi tentang healthy selfishness (egoisme sehat) dengan nilai-nilai luhur Al-Qur'an.

Apa Itu Healthy Selfishness bagi Kesehatan Mental?
Dalam psikologi modern, ada sebuah konsep yang bernama healthy selfishness atau keegoisan yang sehat. Konsep ini merujuk pada kemampuan seseorang untuk menjaga dan merawat dirinya sendiri. Egoisme yang sehat ini melatih kita untuk berani berkata "tidak" ketika situasi memang melampaui kapasitas diri.

Ustadz Fathoni menjelaskan bahwa memiliki sifat egois yang sehat justru membawa dampak positif bagi kehidupan. Sifat ini efektif untuk menjaga kesehatan mental kita dari tekanan luar. Selain itu, konsep ini mendorong seseorang untuk terus mengembangkan potensi diri.

Ketika diri kita berkembang dengan baik, kita akan menjadi pribadi yang jauh lebih bermanfaat bagi orang lain. Batasan diri yang kuat juga akan melindungi kita. Seseorang tidak akan mudah memanfaatkan kebaikan kita untuk keuntungan sepihak mereka.

Tantangan Ego di Era Digital dan Batas Bahayanya
Meskipun egoisme sehat itu penting, manusia harus tetap waspada dalam mengelola ego mereka. Tantangan ini terasa semakin nyata di era digital. Saat ini, mayoritas orang cenderung mendahulukan egonya masing-masing saat berinteraksi di dunia maya. Dampak sosial dari fenomena ini berakibat fatal dan merugikan banyak pihak.

Ego sering kali menyamar sebagai sebuah keberanian. Padahal, hakikat dari ego yang tidak terkontrol adalah bisikan kesombongan yang membuat manusia merasa paling benar. Ketika ego telah menguasai hati, seseorang akan menunjukkan gelagat yang buruk. Mereka menjadi sulit menerima nasihat, mudah tersinggung, dan selalu ingin dipahami tanpa mau memahami orang lain.

Dampak dari keegoisan yang keliru ini sangat merusak hubungan sosial. Banyak hubungan persahabatan hancur hanya karena seseorang terlalu ingin menang dalam perdebatan. Banyak pula keluarga yang retak karena masing-masing pihak enggan mengalah dan terlalu mempertahankan harga diri. Penyesalan selalu datang belakangan ketika suasana telah dingin dan orang-orang terdekat memilih menjauh.

Islam melarang keras perilaku sombong tersebut. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Isra’ ayat 37. Ayat ini mengingatkan manusia agar tidak berjalan di bumi dengan sombong, karena manusia tidak akan mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung. Dalam pandangan Islam, hati yang lembut jauh lebih mulia daripada jiwa yang keras dan penuh kesombongan.

Belajar Mengatur Ego Lewat Teladan Kaum Ansar
Al-Qur'an memberikan solusi dan mengajarkan keseimbangan yang indah dalam mengatur ego manusia. Keseimbangan tersebut tertuang jelas dalam Surat Al-Hasyr ayat 9. Ayat ini mengisahkan keluhuran sikap kaum Ansar di Madinah ketika menyambut kaum Muhajirin yang berhijrah dari Mekah.

Kaum Ansar menerima saudaranya dengan penuh cinta dan jalinan persaudaraan sejati. Mereka membantu kaum Muhajirin dengan memberikan harta benda dan berbagai fasilitas tanpa mengharapkan balasan. Hebatnya, kaum Ansar rela mengutamakan kepentingan kaum Muhajirin di atas kepentingan mereka sendiri. Mereka mengesampingkan ego meskipun keluarga mereka sendiri sebenarnya sedang memerlukan fasilitas tersebut.

Ustadz Fathoni menegaskan bahwa kaum Ansar adalah contoh nyata dari manusia yang paling beruntung. Mereka meraih keberuntungan karena berhasil melawan ego negatif. Mereka sukses menjaga diri dari sifat kikir dan hawa nafsu pribadi. Alhasil, mereka berhasil tumbuh menjadi pribadi yang mulia dan bermartabat.

Menyeimbangkan Hak Diri dan Kepedulian Sosial
Menerapkan healthy selfishness untuk menjaga kesehatan mental dan berani berkata "tidak" adalah hal yang sepenuhnya valid. Namun, jangan sampai niat melindungi diri ini bergeser menjadi sifat kikir dan kesombongan yang merusak hubungan dengan sesama.

Kita perlu mencontoh metode penyelarasan jiwa ini agar tidak terjerumus pada sifat mementingkan diri sendiri secara ekstrem. Mari kita latih diri untuk menyeimbangkan hak pribadi dan kepedulian sosial, agar kita menjadi pribadi tangguh yang senantiasa beruntung di dunia dan akhirat.

0Comments