Momentum Sholat Idul Adha 1447 H di Lapangan Ronggolawe, Cepu, Kabupaten Blora, menjadi ruang refleksi penting mengenai kepemimpinan. Khatib Ustadz Drs. Mokh. Fathoni, MM mengajak para pemangku kebijakan dan masyarakat untuk memperkuat etika komunikasi serta menekan ego di era digital.
Di hadapan ribuan jemaah, Ustadz Mokh. Fathoni menggarisbawahi bahwa kemampuan menyampaikan pesan secara tepat sangat menentukan keberhasilan sebuah informasi publik.
Refleksi Gaya Komunikasi Publik
Dalam khutbah tersebut, Fathoni memberikan perhatian khusus pada pentingnya bobot substansi dalam setiap pernyataan yang dikeluarkan oleh seorang pimpinan. Ia mencontohkan beberapa ungkapan yang sempat viral di media sosial, seperti usulan penggunaan daun pisang saat harga plastik naik, atau imbauan mematikan kompor segera setelah masakan matang di kala harga LPG melonjak.
Refleksi lain yang ia angkat adalah viralnya respons mengenai penataan posisi duduk penumpang perempuan pasca-kecelakaan transportasi massal yang fatal. Fathoni menilai, pendekatan komunikasi yang kurang matang dalam merespons krisis cenderung rentan memicu kesalahpahaman dan memicu reaksi negatif.
"Dari ungkapan atau kalimat contoh di atas, akhirnya kalimat tersebut tidak bisa memberikan transmisi nilai, karena memang tidak bernilai dan tidak memberikan etika kerja, malah menjadi bahan guyonan di medsos," ujar Ustadz Mokh. Fathoni di hadapan jemaah.
Menurutnya, setiap pemimpin perlu melakukan evaluasi mandiri dalam memilih diksi agar pesan yang disampaikan benar-benar membawa kemaslahatan.
Meneladani Komunikasi Dialogis Nabi Ibrahim
Sebagai solusi, Fathoni mengajak jemaah untuk meneladani gaya komunikasi Nabi Ibrahim AS yang diabadikan dalam Al-Qur'an Surat As-Saffat ayat 102. Ketika menerima perintah yang sangat berat terkait putranya, Nabi Ibrahim tidak menggunakan instruksi satu arah yang keras layaknya seorang penguasa kepada bawahannya.
Nabi Ibrahim justru menggunakan pendekatan dialogis dari hati ke hati dan meminta pandangan dari Nabi Ismail dengan kalimat penuh adab. Pola komunikasi dua arah ini dinilai berhasil karena melibatkan pertimbangan akal budi dan kesiapan mental anak.
Fathoni menekankan bahwa tantangan terbesar di era modern saat ini adalah kecenderungan menuruti hawa nafsu dan keegoisan diri dalam berbicara, sehingga nurani sering kali terabaikan.
"Saat amarah dipelihara, gengsi dipertahankan, dan keinginan dipaksakan, hati menjadi gelap, lalu nurani kehilangan suara," tutur Mokh. Fathoni.
Pentingnya Menurunkan Ego Demi Kemaslahatan
Lebih lanjut, khutbah tersebut mengingatkan bahwa sikap merasa paling benar dan enggan menerima nasihat merupakan bentuk kesombongan yang merusak hubungan sosial. Di era digital, keputusan atau ucapan yang hanya didasari oleh emosi sesaat sering kali menyisakan dampak sosial yang fatal.
Fathoni berpesan agar masyarakat, khususnya para pimpinan, mampu membaca kesiapan hati dan pikiran audiens sebelum menyampaikan sebuah nasehat atau kebijakan. Langkah tersebut dinilai efektif untuk mencegah munculnya penyesalan di kemudian hari akibat ucapan yang terburu-buru.
"Mengapa dulu aku begitu keras? Namun penyesalan selalu datang belakangan," tegas Mokh. Fathoni menggambarkan refleksi batin yang sering terlambat muncul.
Harapan Kepemimpinan yang Peka dan Adil
Agenda ibadah Idul Adha yang dipimpin oleh Imam Ustadz Zaenal Arifin, S.Ag.MM ini ditutup dengan harapan besar bagi masa depan generasi penerus bangsa, dengan doa memohon agar bangsa Indonesia senantiasa dianugerahi pemimpin yang amanah, adil, dan bertakwa.
Fathoni juga mendoakan agar para pimpinan diberikan kepekaan hati terhadap kebutuhan masyarakat luas. Akhirnya, khutbah ditutup dengan doa khusus untuk kedamaian, kedekatan persaudaraan, dan keberkahan terutama bagi seluruh masyarakat di wilayah Cepu dan sekitarnya.
0Comments