BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Kajian Ahad Pagi PCM Cepu: Sebuah Otokritik tentang Passion dalam Beragama

Kajian Ahad Pagi PCM Cepu: Sebuah Otokritik tentang Passion dalam Beragama

Kajian Ahad Pagi PCM Cepu ulas otokritik passion beragama: beda hobi vs passion, fenomena rombongan pengajian, hingga refleksi ibadah.
Table of contents
×
Ustadz Mokh Fathoni menyampaikan materi Kajian Ahad Pagi PCM Cepu tentang otokritik passion dalam beragama
Ustadz Drs. Mokh Fathoni, M.M. memberikan pencerahan dalam Kuliah Ahad Pagi PCM Cepu di Masjid Al-Hikmah Komplek Muhammadiyah Cepu, membedah pentingnya menginternalisasi passion dalam beribadah.

Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi (MTPI) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu kembali menyelenggarakan agenda rutin Kajian Umum Kuliah Ahad Pagi yang bertempat di Masjid Al-Hikmah Komplek Muhammadiyah Cepu pada Ahad, 23 Agustus 2026. Kajian yang dihadiri oleh jamaah dari berbagai wilayah Cepu dan sekitarnya ini menghadirkan penceramah utama, Ustadz Drs. Mokh Fathoni, M.M. Dalam pemaparan materi ceramahnya, beliau mengangkat topik sosial-keagamaan yang sangat relevan, tajam, dan penuh daya gugah, yakni membedah dinamika antusiasme masyarakat, perilaku hobisme, serta makna hakiki dari sebuah passion dalam kehidupan spiritual maupun sosial.

Melalui narasi yang lugas dan dekat dengan realitas sehari-hari, Ustadz Mokh Fathoni mengajak para jamaah untuk merefleksikan kembali motivasi terdalam di balik aktivitas keagamaan dan kebiasaan hidup sehari-hari. Pemaparan beliau tidak hanya menjadi bahan renungan bagi individu, tetapi juga kritik sosial yang konstruktif terhadap fenomena keberagamaan kontemporer yang kerap berpuas diri pada aspek formalitas permukaan semata.

Fenomena Rombongan Bus Pengajian: Kehadiran Fisik versus Penyerapan Esensi Ilmu

Dalam pembukaan ceramahnya, Ustadz Drs. Mokh Fathoni, M.M. menyoroti sebuah fenomena sosial-keagamaan yang amat menarik dan marak terjadi di tengah umat muslim belakangan ini. Beliau mengangkat fenomena antusiasme masyarakat yang rela menyewa bus dan berangkat berombongan menuju luar kota untuk menghadiri sebuah pengajian yang menghadirkan penceramah tersohor.

Secara kasat mata, fenomena ini menampilkan potret keagamaan yang sangat menggembirakan. Keterlibatan masyarakat dalam jumlah besar, keceriaan selama perjalanan bersama di dalam armada bus, hingga riuh rendah suasana di lokasi acara memberikan kesan betapa tingginya antusiasme umat terhadap kajian-kajian agama. Semangat kebersamaan yang terjalin dalam ukhuwah islamiyah tampak terpancar kuat dari cara jamaah saling mengajak, berkumpul, dan memadati lokasi pengajian.

Namun, di balik fenomena visual yang tampak semarak tersebut, Ustadz Mokh Fathoni memberikan catatan kritis yang sangat tajam dan mendasar. Beliau mengamati bahwa dalam praktiknya, antusiasme besar tersebut kerap kali mengalami pergeseran makna dan tujuan utama. Ketika tiba di lokasi pengajian, kehadiran jamaah kerap bergeser menjadi sekadar kegiatan berfoto-foto tanpa benar-benar menyerap atau memahami isi materi pengajian yang disampaikan.

Praktik di lapangan menunjukkan bahwa dorongan untuk menunjukkan partisipasi secara simbolis dan eksistensi sosial di media sosial atau lingkungan sekitar kerap kali lebih mendominasi. Jamaah sibuk mengabadikan momen, sementara penceramah di atas panggung sedang menguraikan kedalaman tafsir dan hukum-hukum agama.

Dampak langsung dari pergeseran fokus ini sangat merugikan jamaah itu sendiri. Esensi utama dari mendatangi majelis ilmu, yakni mendengarkan paparan materi dengan saksama, memahami argumentasi syariat, menginternalisasi nilai-nilai keimanan, serta menyerap petunjuk untuk perbaikan akhlak, justru terabaikan. Jamaah memang hadir secara fisik di tempat pengajian, tetapi secara mental dan spiritual mereka tidak sepenuhnya hadir untuk menyerap ilmu.

Kondisi ini menciptakan kesenjangan yang lebar antara besarnya pengorbanan material, waktu, dan tenaga yang dikeluarkan untuk perjalanan dengan nilai spiritual yang berhasil dibawa pulang. Perjalanan menuntut ilmu yang seharusnya menjadi media transformasi rohani dan pencerahan intelektual bergeser makna menjadi agenda rekreasi spiritual atau wisata keagamaan yang hampa dari pemahaman substansial.

Fenomena Perburuan Batu Akik: Cermin Kegigihan dan Daya Tahan 

Untuk memperdalam analisisnya mengenai dorongan perilaku manusia, Ustadz Mokh Fathoni tidak hanya berhenti pada fenomena pengajian. Beliau kemudian menghadirkan sebuah komparasi sosial yang sangat kontras namun memiliki benang merah yang sama, yaitu perilaku masyarakat yang gemar berburu batu akik dari satu tempat ke tempat lain secara gigih.

Beliau menyoroti bagaimana masyarakat yang memiliki kegandrungan terhadap batu akik sanggup memperlihatkan tingkat kegigihan yang pantang menyerah. Para pencinta batu akik rela mengarungi perjalanan panjang, melintasi berbagai kota, memasuki pelosok pedesaan, hingga mendaki perbukitan hanya untuk melacak keaslian atau keberadaan suatu jenis batu akik yang bernilai tinggi.

Mereka tidak ragu-ragu mengalokasikan anggaran keuangan yang tidak sedikit, mengorbankan waktu istirahat bersama keluarga, serta mengerahkan energi fisik secara maksimal demi memuaskan dahaga pencarian mereka terhadap batu tersebut. Perilaku berburu batu akik dari satu tempat ke tempat lain ini menunjukkan bentuk daya tahan (endurance), ketekunan, dan fokus yang luar biasa.

Para pemburu batu akik tidak mudah menyerah oleh keterbatasan sarana, cuaca ekstrem, atau keletihan fisik. Setiap rintangan dalam proses perburuan justru dipandang sebagai tantangan yang menambah kepuasan saat batu yang diimpikan berhasil didapatkan. Melalui analogi ini, Ustadz Mokh Fathoni ingin menunjukkan betapa dahsyatnya energi dan daya juang yang sanggup dikeluarkan oleh seorang manusia ketika dirinya digerakkan oleh dorongan internal yang kuat.

Membedah Hirarki Motivasi: Perbedaan Mendasar Antara Hobi dan Passion

Melalui dua contoh konkret di atas, rombongan pengajian dan pemburu batu akik, Ustadz Mokh Fathoni membawa jamaah pada pembahasan filosofis mengenai perbandingan antara hobi dan passion. Beliau secara tegas menegaskan bahwa passion diletakkan pada posisi dan tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada sekadar hobi.

Secara konseptual dan praktis, hobi diartikan sebagai aktivitas pengisi waktu luang yang dilakukan seseorang untuk mencari hiburan, kesenangan sementara, atau pelepasan dari kejenuhan rutinitas kerja sehari-hari. Karakteristik utama dari hobi adalah sifatnya yang bergantung pada kenyamanan, ketersediaan waktu, dan kondisi emosional yang mendukung. Ketika aktivitas hobi mulai menuntut pengorbanan yang berat, menimbulkan rasa lelah yang berlebihan, atau berbenturan dengan hambatan yang cukup besar, seseorang cenderung akan menunda atau menghentikannya tanpa merasa kehilangan yang mendalam. Keterikatan jiwa dalam sebuah hobi berada pada tingkat permukaan.

Sebaliknya, passion berada pada tingkatan spiritual dan psikologis yang jauh lebih tinggi. Passion bukan sekadar aktivitas pengisi waktu kosong atau pencari kesenangan dangkal, melainkan gairah jiwa, dorongan internal yang menggelora, semangat pantang padam, serta rasa cinta mendalam terhadap suatu bidang atau aktivitas tertentu. Ketika seseorang melakukan sesuatu berdasarkan passion, aktivitas tersebut tidak lagi diperlakukan sebagai beban kerja atau pilihan di waktu senggang, melainkan dihayati sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas dan panggilan hidupnya.

Passion melahirkan kesetiaan pada proses, daya tahan melampaui batas lelah, serta kerelaan untuk berkorban tanpa menghitung-hitung keuntungan finansial atau kenyamanan fisik. Orang yang digerakkan oleh passion tidak membutuhkan dorongan luar atau pengawasan orang lain; gairah, semangat, dan rasa cinta di dalam dadanya sudah cukup menjadi bahan bakar yang terus menyala untuk menggerakkan seluruh potensi dirinya.

Sebuah Analogi: Menggosok Batu Hingga Pukul 12 Malam

Guna memberikan gambaran visual yang nyata dan membekas di benak para jamaah Kuliah Ahad Pagi di Masjid Al-Hikmah Komplek Muhammadiyah Cepu, Ustadz Mokh Fathoni menyajikan sebuah contoh konkret mengenai bagaimana passion bekerja dalam tindakan nyata. Beliau menggambarkan contoh seseorang yang masih sibuk menggosok-gosok benda atau batu hingga pukul 12 malam.

Menggosok sebingkah batu hingga larut malam merupakan pekerjaan yang secara fisik sangat melelahkan, membutuhkan ketelitian tinggi, kesabaran ekstra, serta gerakan tangan yang konstan dan berulang-ulang. Dalam kondisi normal, tubuh manusia pada pukul 12 malam sudah menuntut istirahat karena keletihan setelah beraktivitas seharian. Namun, bagi seseorang yang memiliki gairah dan semangat terhadap benda tersebut, waktu seolah berjalan cepat dan rasa kantuk terkalahkan.

Mengapa seseorang rela dan telaten menggosok-gosok batu hingga pukul 12 malam? Ustadz Mokh Fathoni menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena orang tersebut didorong oleh gairah, semangat, dan rasa cinta yang mendalam terhadap apa yang ditekuninya.

Ketika gairah, semangat, dan rasa cinta telah meresap ke dalam jiwa manusia, batas-batas kelelahan fisik dapat dilampaui dengan penuh kesadaran dan sukacita. Setiap gesekan pada batu tersebut bukan dirasakan sebagai pekerjaan kasar yang membosankan, melainkan sebagai proses penciptaan karya yang menghadirkan kepuasan batin. Rasa cinta terhadap apa yang ditekuninya mengubah keletihan fisik menjadi kenikmatan emosional. Inilah bukti otentik bagaimana passion mampu menggerakkan potensi manusia melampaui batas-batas kebiasaan umum.

Internalisasi Passion untuk Menuntut Ilmu dan Ibadah

Pemaparan mendalam yang disampaikan oleh Ustadz Drs. Mokh Fathoni, M.M. dalam Kajian Umum Kuliah Ahad Pagi di Masjid Al-Hikmah Komplek Muhammadiyah Cepu ini bermuara pada sebuah pertanyaan reflektif yang sangat menusuk jiwa jamaah: Mengapa gairah, semangat, dan rasa cinta yang begitu luar biasa, sebagaimana ditunjukkan oleh seseorang yang sanggup menggosok batu hingga pukul 12 malam, sering kali justru absen atau tidak terlihat dalam aktivitas menuntut ilmu agama dan beribadah?

Ini merupakan pesan inti yang ingin ditanamkan oleh Ustadz Mokh Fathoni. Jika untuk urusan duniawi seperti batu akik seseorang sanggup mengerahkan ketekunan, daya tahan, gairah, dan rasa cinta yang begitu membara hingga tengah malam, maka betapa ironisnya ketika urusan akhirat dan pencarian ilmu syar'i dilakukan dengan setengah hati, tergesa-gesa, dan sekadar memenuhi formalitas belaka.

Fenomena jamaah yang naik bus berombongan ke luar kota namun hanya sibuk berfoto-foto tanpa menyerap atau memahami isi pengajian adalah bukti bahwa keterlibatan masyarakat dalam majelis ilmu masih sebatas hobi sosial atau rutinitas luar semata. Mereka menikmati suasana keramaian dan status sosial sebagai peserta pengajian, namun belum merasakan passion atau gairah cinta yang mendalam terhadap kebenaran ilmu agama itu sendiri.

Seandainya antusiasme menuntut ilmu dan beribadah dibangun di atas fondasi passion sejati, maka perilaku jamaah akan berubah secara drastis. Jamaah yang didorong oleh passion keagamaan akan mendengarkan setiap patah kata penceramah dengan konsentrasi penuh, mencatat poin-poin penting kajian, memikirkan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari, serta berjuang keras untuk mengamalkannya. Kehadiran mereka di majelis ilmu bukan lagi untuk mencari dokumentasi foto, melainkan untuk menyerap ilmu dan menggembleng rohani di dalam dada mereka agar semakin mantap keimanannya.

Membangun Umat yang Digerakkan oleh Passion

Kajian Umum Kuliah Ahad Pagi yang diselenggarakan Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi PCM Cepu pada Ahad, 23 Agustus 2026 di Masjid Al-Hikmah Komplek Muhammadiyah Cepu ini memberikan pelajaran bernilai bagi umat. Melalui retorika yang bernas dan kaya analogi, Ustadz Drs. Mokh Fathoni, M.M. mengajak seluruh komponen masyarakat muslim untuk bertransformasi dari sekadar pelaku hobi menjadi pribadi yang digerakkan oleh passion sejati.

Sebagai catatan penutup, pesan yang disampaikan Ustadz Mokh Fathoni hendaknya menjadi momentum otokritik bagi seluruh elemen umat Islam. Sudah saatnya kita mengevaluasi seluruh niat dan kadar kesungguhan dalam setiap amalan yang kita kerjakan. Menuntut ilmu, memakmurkan masjid, menyokong kegiatan persyarikatan Muhammadiyah, hingga mengabdi di tengah masyarakat harus dilandasi oleh gairah internal, rasa cinta yang tulus, dan ketekunan pantang menyerah.

Ketika nilai passion ini berhasil diintegrasikan ke dalam seluruh sendi kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan, maka umat Islam tidak hanya akan unggul secara kuantitas di permukaan, tetapi juga kokoh secara kualitas di kedalaman. Antusiasme yang melimpah tidak akan lagi terbuang sia-sia menjadi buih formalitas, melainkan menjelma menjadi energi perubahan yang nyata, mencerahkan kehidupan pribadi, memperkokoh persyarikatan, serta membawa kemanfaatan yang meluas bagi masyarakat.

0Comments