BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Wasiat Mbah Abdul Qodir untuk Muhammadiyah Cepu

Wasiat Mbah Abdul Qodir untuk Muhammadiyah Cepu

Wasiat Mbah Abdul Qodir ingatkan pentingnya dokumen sejarah Muhammadiyah Cepu dari bayi prematur 1941 hingga fondasi pergerakan modern.
Table of contents
×

Buku Selintas Perjalanan Muhammadiyah Cabang Cepu dan potret sejarah dokumentasi pergerakan Muhammadiyah Cepu
Dokumen sejarah "Selintas Perjalanan Muhammadiyah Cabang Cepu" yang memuat kata pengantar dan wasiat mendalam dari Mbah H. Abdul Qodir Ali tentang pentingnya merawat ingatan historis persyarikatan.

Ada sebuah adagium klasik yang menyebutkan bahwa bangsa atau organisasi yang besar adalah mereka yang tidak pernah mencabut dirinya dari akar sejarah. Namun dalam realitas gerakan sosial-keagamaan modern, bahaya terbesar kerap kali bukan berasal dari serangan luar, melainkan dari amnesia terhadap sejarah internal. Organisasi sering kali terlalu sibuk merencanakan program kerja masa depan hingga lupa mencatat dari mana langkah pertama itu diayunkan.

Kesadaran akan pentingnya melestarikan ingatan organisasi inilah yang melandasi lahirnya sebuah dokumen sejarah bersampul biru sederhana berjudul “Selintas Perjalanan Muhammadiyah Cabang Cepu”. Buku tersebut disahkan dan diterbitkan pada 15 Juli 2001 di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.

Meskipun disusun secara bersahaja, naskah ini menyimpan bobot filosofis dan historis yang sangat mendalam. Keutamaan dokumen ini bermuara pada lembar pembukanya, yaitu pada Kata Pengantar yang ditulis oleh mendiang Mbah Abdul Qodir, Ketua Pimpinan Muhammadiyah Cabang Cepu kala itu. Pesan yang ditinggalkan beliau melampaui zamannya, menjadi semacam "wasiat abadi" tentang betapa vitalnya penulisan sejarah persyarikatan di tingkat cabang.

Membaca Urgensi Sejarah Persyarikatan

Untuk memahami bobot historis dari karya ini, kita perlu melihat bagaimana risalah tahun 2001 tersebut lahir. Buku “Selintas Perjalanan Muhammadiyah Cabang Cepu” disusun oleh Drs. W. Qowaid Hasan, Drs. Muhammad Mastur, Drs. Subiyanto, Drs. Sa’di, dan Drs. Ngatiman. Tim penyusun saat itu berupaya mengumpulkan serpihan ingatan dan dokumen yang tersisa untuk membukukan perjalanan perserikatan di Cepu.

Akan tetapi, dalam tata kelola organisasi, sering kali timbul kesenjangan antar-generasi. Generasi penerus mendapati diri mereka menikmati fasilitas sekolah yang megah, masjid yang makmur, dan panti asuhan yang tertata. Namun, tanpa adanya catatan tertulis, banyak di antara anggota perserikatan yang tidak lagi mengetahui siapa tokoh di balik berdirinya pilar-pilar tersebut. Siapa yang berdarah-darah mempertahankan perserikatan ini saat badai politik berhembus? Siapa yang merintisnya saat warga sekitar masih asing dengan ajaran KH Ahmad Dahlan?

Penulisan sejarah cabang bukanlah sekadar dorongan romantisme masa lalu yang pasif. Ini adalah upaya untuk menyediakan “akar tunggang” bagi pergerakan organisasi. Ketika naskah tahun 2001 itu dibaca kembali, tampak jelas bahwa upaya merekam jejak perjuangan lokal adalah kewajiban sejarah yang mendesak, sebagaimana yang ditegaskan oleh Mbah Abdul Qodir.

Membedah Pesan Mbah Abdul Qodir: Empat Pilar Pentingnya Sejarah Cabang

Dalam lembar Kata Pengantar tertanggal 15 Juli 2001, Mbah Abdul Qodir menuliskan gagasan-gagasannya dengan bahasa yang bersahaja namun sarat makna teologis dan filosofis. Jika dibedah secara kritis, ada empat alasan utama mengapa penulisan sejarah cabang menurut Mbah Abdul Qodir memiliki bobot urgensi yang tinggi.

Sejarah Cabang Sebagai Dokumen Resmi Perserikatan (Institutional Memory)

Mbah Abdul Qodir menegaskan di awal kalimatnya bahwa buku tersebut merupakan karya yang "sangat penting untuk dijadikan salah satu dokumen perserikatan".

Dalam tata kelola organisasi modern, dokumen tidak hanya berupa laporan keuangan atau surat keputusan rapat. Dokumen tertinggi sebuah gerakan adalah “catatan historis keberadaannya”. Tanpa catatan sejarah, sebuah cabang organisasi akan kehilangan legalitas moral dan sejarahnya. Sejarah cabang adalah bukti otentik bahwa dakwah amar ma'ruf nahi munkar pernah dan terus mengepakkan sayapnya di suatu wilayah.

Penyegar Ingatan dan Bentuk Apresiasi Kepada Perintis

Beliau menuliskan, "buku tersebut tidak hanya merupakan bagian dari dokumen saja, namun juga penyegaran ingatan kita dalam mengenang jasa para tokoh perintis dan penerus perjuangan Muhammadiyah Cabang Cepu."

Di sini, Mbah Abdul Qodir menggarisbawahi sifat manusia yang pelupa (al-insanu mahallun nisyani wal khata'). Seiring berjalannya waktu, ingatan kolektif masyarakat akan mengikis nama-nama pejuang lokal. Jika pahlawan nasional dicatat dalam buku pelajaran sekolah, maka para ulama dan warga biasa yang menginfakkan tanah serta tenaganya di kampung-kampung, sering kali terancam terlupakan. Penulisan sejarah cabang adalah bentuk penghormatan moral dan rasa terima kasih (takzim) generasi penerus kepada para perintis.

Mencegah Kepunahan Informasi dan Menanamkan Keteladanan

Salah satu poin paling krusial dalam tulisan Mbah Abdul Qodir adalah peringatan beliau tentang ancaman gerusan waktu. 

Beliau berpesan, "hal-hal yang beberapa saat lagi mungkin terlupakan, baik peristiwa maupun pelaku peristiwa tersebut dapat terungkap kembali, dan akan diteladani oleh generasi selanjutnya untuk meneruskan perjuangannya."

Kalimat ini memperlihatkan pemikiran visioner seorang pemimpin. Mbah Abdul Qodir menyadari betul bahwa para saksi sejarah memiliki batas usia. Jika peristiwa dan pelaku sejarah tidak ditangkap dalam wujud wacana tertulis sebelum mereka wafat, maka informasi tersebut akan terkubur selamanya. Merekam sejarah adalah tindakan untuk menyelamatkan keteladanan agar dapat diwariskan ke masa depan.

Harapan Penyempurnaan Berkelanjutan

Mbah Abdul Qodir mengungkapkan fakta bahwa gagasan untuk menulis sejarah Muhammadiyah Cepu sebenarnya sudah muncul sejak lama (sebelum 2001), namun berulang kali tertunda karena berbagai kendala internal. Baru pada tahun 2001 gagasan itu berhasil dieksekusi oleh tim penyusun.

Oleh karena itu, di akhir pengantarnya, beliau menitipkan pesan terbuka, "aerta kami berharap penulisan sejarah ini berkelanjutan menuju kesempurnaan."

Beliau tidak pernah menganggap buku tahun 2001 tersebut sebagai titik henti (ending point), melainkan sebagai titik mula (starting point). Harapan inilah yang secara langsung menagih komitmen para kader persyarikatan di setiap generasi.

'Bayi Prematur' 1941 dan Perjuangan Tertatih 1961

Mengapa penulisan sejarah cabang ini terasa begitu dramatis? Jawabannya ada pada bagian Pendahuluan yang ditulis oleh kelima tim penyusun. Dalam naskah tersebut, terungkap betapa luar biasanya dinamika yang dialami oleh Muhammadiyah Cabang Cepu, sebuah perjalanan panjang yang penuh liku.

Para penyusun menggunakan sebuah metafora yang sangat menyentuh hati untuk menggambarkan sejarah lahirnya perserikatan di Kota Minyak ini.

Kelahiran Prematur Tahun 1941

Muhammadiyah Cabang Cepu pertama kali lahir sebagai "bayi prematur" pada tahun 1941. Tahun 1941 adalah masa-masa krusial dalam sejarah Indonesia. Perang Dunia II sedang berkecamuk di Pasifik, kekuasaan kolonial Hindia Belanda berada di ambang keruntuhan, dan pendudukan militer Jepang sudah di depan mata.

Lahir di tengah turbulensi geopolitik yang mahadahsyat, organ cabang ini tidak mampu bertahan. Ibarat bayi yang lahir sebelum waktunya, Muhammadiyah Cepu hanyut dan tenggelam oleh situasi perang dan pendudukan asing. Aktivitas organisasi lumpuh total, dan dokumen-dokumen awal tercerai-berai.


```

1941: Lahir Prematur -> Hanyut oleh Badai Perang Dunia II & Pendudukan Jepang

                               │

                               ▼ (20 Tahun Vakum & Tenggelam)

                               │

1961: Ditemukan Kembali -> Merangkak, Tertatih, Ditetah Ulama & Cendekiawan

                               │

                               ▼ (Menghadapi Isme-Isme Ideologi & Perubahan Rezim)

                               │

2001: Kodifikasi 'Embrio Sejarah' oleh Tim 5 & Wasiat Mbah H. Abdul Qadir Ali

                               │

                               ▼ (Upaya Penyempurnaan Berkelanjutan)

                               │

Proses Berkelanjutan: Penelusuran Sejarah & Digitalisasi Resonansi Dakwah

```

Merangkak di Tahun 1961

Setelah 20 tahun tenggelam dalam dinamika sejarah, "bayi" Muhammadiyah Cepu akhirnya berhasil digerakkan kembali pada tahun 1961. Namun, bangkit kembali di era Orde Lama bukanlah perkara mudah. 

Tim penyusun mencatat, "Muhammadiyah Cabang Cepu yang sejak lahir prematur pada tahun 1941 kemudian hanyut karena situasi dan akhirnya baru ditemukan kembali bayi Muhammadiyah Cepu itu pada tahun 1961 dan akhirnya bisa merangkak dan berjalan sampai sekarang..."

Tahun 1961 hingga era-era berikutnya adalah pertarungan ideologi yang sangat keras di berbagai daerah, termasuk di Blora dan Cepu. Muhammadiyah harus merangkak dan tertatih-tatih berjalan di tengah gelombang arus pemerintahan yang berubah-ubah, serta berhadapan dengan "isme-isme yang cukup kurang menguntungkan".

Siapa yang menyelamatkan organisasi ini di masa-masa sulit tersebut? Tim penyusun mencatat peran vital para ulama dan cendekiawan yang setia dan gigih hingga persyarikatan ini perlahan-lahan tumbuh besar dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Dramaturgi sejarah inilah yang menjadi bukti betapa benarnya pandangan Mbah Qadir Ali. Bayangkan jika tim penyusun tahun 2001 tidak mencatat secara tertulis fakta bahwa Muhammadiyah Cepu pernah lahir di tahun 1941 dan bangkit di tahun 1961. Niscaya generasi berikutnya akan mengira Muhammadiyah di Cepu berdiri dengan mudah tanpa pengorbanan dan perjuangan.

Keutamaan Sikap Intelektual: 'Embrio Sejarah' dan Kerendahan Hati 

Hal lain yang sangat menonjol dari naskah sejarah Muhammadiyah Cepu tahun 2001 adalah integritas dan kerendahan hati (humility) dari para penulisnya. Dalam bagian Pendahuluan, Drs. W. Qowaid Hasan dan kawan-kawan secara terbuka mengakui keterbatasan karya mereka.

Beliau tidak mengklaim buku tulisan mereka sebagai karya final yang sempurna. Sebaliknya, mereka menyebut tulisan tersebut adalah sebuah "embrio sejarah" yang wajib disempurnakan pada masa berikutnya.

Para penyusun secara bersahaja menuliskan bahwa:

  • masih banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah Cepu yang belum sempat tertulis.
  • masih banyak peristiwa-peristiwa penting yang belum tercatat dalam buku tersebut.
  • masih banyak kata-kata atau penyusunan kalimat yang kurang tepat.
  • tim penyusun tak lupa menyampaikan permohonan maaf yang mendalam dan membuka pintu seluas-luasnya bagi kritik, saran, serta perbaikan dari siapa saja demi menuju kesempurnaan.

Sikap tawadhu’ para penulis buku tersebut memberikan pelajaran penting bagi para kader persyarikatan. Penulisan sejarah bukanlah upaya untuk mematenkan kebenaran tunggal, melainkan sebuah proses dialektika yang terbuka. Konsep "embrio penulisan sejarah" yang muncul di tahun 2001 sejatinya adalah sebuah estafet terbuka yang menunggu untuk dirawat dan dikembangkan oleh generasi selanjutnya.

Langkah Konkret Melanjutkan Wasiat Sejarah Cabang

Pertanyaan besar yang harus dijawab oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA), serta seluruh Organisasi Otonom (Ortom) seperti Pemuda Muhammadiyah, IMM, IPM, hingga Tapak Suci dan Hizbul Wathan adalah: Apa yang harus dilakukan untuk menunaikan wasiat Mbah Abdul Qodir dan menyempurnakan 'embrio' dari tim penyusun 2001?

Maka, upaya menelusuri kembali jejak sejarah tidak boleh berhenti menjadi sekadar perbincangan belaka. Harus ada langkah rekayasa kebudayaan dan dokumentasi yang sistematis.

1. Kodifikasi Digital

Naskah ketikan tahun 2001 yang tersimpan dalam wujud fisik harus diselamatkan melalui digitalisasi arsip. Lebih dari itu, organisasi mungkin perlu merencanakan penerbitan Buku Sejarah Muhammadiyah Cepu Edisi Revisi dan Perluasan Publikasi.

2. Melacak Jejak Para Tokoh

Sesuai dengan kegelisahan para penyusun tahun 2001 yang merasa masih banyak tokoh belum tercatat, generasi penerus harus bergerak melacak keturunan, keluarga, atau dokumen-dokumen veteran perserikatan. Metodologi oral history (sejarah lisan) melalui wawancara mendalam dengan para senior yang masih hidup harus segera dilakukan sebelum saksi-saksi sejarah tersebut wafat.

3. Mengintegrasikan Sejarah Lokal ke dalam Pengkaderan

Sejarah dan Perjalanan Muhammadiyah Cepu tidak boleh hanya menjadi konsumsi akademis atau menjadi hanya sekedar wawasan. Kisah tentang "bayi prematur 1941" dan perjuangan "merangkak 1961" baiknya dimasukkan ke dalam materi Baitul Arqam, Darul Arqam, atau agenda sejenis lain di tingkat lokal. Dengan demikian, para kader baru akan memiliki kebanggaan dan rasa memiliki yang kuat terhadap daerahnya.

4. Membaca Sejarah untuk Menjawab Tantangan Masa Depan

Mengetahui bahwa Muhammadiyah Cepu dahulu mampu bertahan dari tekanan "isme-isme yang kurang menguntungkan" di era 1961 dapat memberikan imunitas psikologis dan ideologis bagi kader era modern. Jika para pendahulu mampu membesarkan organisasi di tengah kemiskinan dan keterbatasan fasilitas pasca-kemerdekaan, maka tidak ada alasan bagi kader era modern untuk mengeluh dan bermalas-malasan.

Api Sejarah yang Tak Padam

Tepat pada 15 Juli 2001, Mbah Abdul Qodir membubuhkan tanda tangannya dalam buku Selintas Perjalanan Muhammadiyah Cabang Cepu. Beliau telah merumuskan prinsip dasar betapa pentingnya dokumentasi sejarah persyarikatan di tingkat lokal.

Dokumen Kata Pengantar H. Abdul Qodir Ali dalam buku Selintas Perjalanan Muhammadiyah Cabang Cepu
Dokumen Kata Pengantar H. Abdul Qodir Ali dalam buku Selintas Perjalanan Muhammadiyah Cabang Cepu.

Mbah H. Abdul Qadir Ali dan para penyusun, Drs. W. Qowaid Hasan, Drs. Muhammad Mastur, Drs. Subiyanto, Drs. Sa’di, dan Drs. Ngatiman, telah menunaikan tugas sejarah mereka dengan baik pada zamannya. Mereka telah menyelamatkan "bayi" sejarah itu agar tidak hilang ditelan zaman.

Kini, pena estafet itu ada di tangan generasi penerus. Menulis sejarah cabang bukan sekadar merekam masa lalu, melainkan sebuah tindakan untuk memastikan bahwa jalan dakwah Muhammadiyah di Cepu akan terus terang, berakar kuat, dan meluas manfaatnya hingga masa-masa mendatang.

Sebagaimana pesan Mbah Abdul Qodir untuk tidak membiarkan perjuangan para pendahulu lapuk di dalam ingatan, sebab dari jejak merekalah kita belajar cara melangkah hari ini.”

0Comments