BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Kajian Ahad Pagi PCM Cepu Menyelaraskan Qalb, 'Aql, dan Nafs Menuju Jiwa yang Tenang

Kajian Ahad Pagi PCM Cepu Menyelaraskan Qalb, 'Aql, dan Nafs Menuju Jiwa yang Tenang

Ustadz Budi Sudiarso menjelaskan bahwa perkembangan teknologi, meningkatnya kebutuhan hidup, derasnya arus informasi, dan berbagai tekanan kehidupan
Table of contents
×

Cepu, 2 Agustus 2026 – Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu kembali menyelenggarakan Kajian Ahad Pagi pada Ahad, 2 Agustus 2026 bertempat di Masjid Al Hikmah Cepu. Kegiatan yang rutin menjadi sarana pembinaan keislaman bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat umum ini menghadirkan Ustadz Budi Sudiarso, S.Pd., M.Pd., dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Blora, sebagai pemateri utama.

Kajian yang mendapat dukungan penuh dari LAZISMU Kantor Layanan Cepu ini mengangkat tema "Menyelaraskan Qalb, 'Aql, dan Nafs Menuju Jiwa yang Tenang", sebuah tema yang mengajak umat Islam memahami hakikat manusia secara utuh berdasarkan perspektif Al-Qur'an.

Islam Mengajarkan Keseimbangan Jiwa

Pada awal penyampaian materinya, Ustadz Budi Sudiarso menjelaskan bahwa perkembangan teknologi, meningkatnya kebutuhan hidup, derasnya arus informasi, dan berbagai tekanan kehidupan modern sering kali membuat manusia mengalami kegelisahan. Tidak sedikit orang yang tampak sukses secara materi, namun kehilangan ketenangan batin.

Beliau menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kesehatan jasmani, tetapi juga memberikan tuntunan agar manusia memiliki jiwa yang sehat, tenang, dan seimbang.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ۝ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ۝ وَادْخُلِي جَنَّتِي

"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr: 27–30)

Manusia Diciptakan Secara Utuh

Pemateri menjelaskan bahwa manusia terdiri atas tiga unsur penting yang harus berjalan secara seimbang, yaitu:

  • Qalb (Hati) sebagai pusat keimanan, ketakwaan, dan pengendali utama kehidupan.
  • 'Aql (Akal) sebagai sarana berpikir, memahami ilmu, serta membedakan antara yang benar dan yang salah.
  • Nafs (Nafsu) sebagai sumber dorongan, semangat, keinginan, dan energi dalam menjalani kehidupan.

Ketiganya merupakan karunia Allah yang saling melengkapi. Apabila salah satunya mendominasi tanpa kendali, maka akan muncul berbagai persoalan dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Qalb Sebagai Pengendali Kehidupan

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa qalb merupakan pusat kendali manusia. Apabila hati baik, maka seluruh perilaku akan baik. Sebaliknya, apabila hati rusak, maka rusak pula seluruh amal perbuatannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, hati perlu dijaga dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur'an, memperbaiki niat, dan menjauhi penyakit hati seperti riya', hasad, sombong, serta dengki.

Akal Harus Dibimbing Wahyu

Islam sangat memuliakan akal karena dengannya manusia mampu memahami ilmu pengetahuan, melakukan penelitian, dan mengambil keputusan. Namun akal memiliki keterbatasan sehingga harus dibimbing oleh wahyu Allah.

Beliau mengingatkan bahwa ilmu tanpa iman dapat membawa manusia kepada kesombongan, sedangkan semangat beragama tanpa ilmu dapat menimbulkan kesalahan dalam memahami ajaran Islam. Karena itu, keseimbangan antara ilmu dan keimanan menjadi sangat penting.

Mengendalikan Nafsu

Nafsu bukanlah sesuatu yang harus dimatikan, melainkan dikendalikan agar berjalan sesuai tuntunan syariat. Nafsu yang diarahkan dengan benar akan menjadi kekuatan untuk beribadah, bekerja, berkarya, dan memberikan manfaat kepada sesama.

Sebaliknya, apabila hawa nafsu dibiarkan tanpa kendali, maka ia dapat menjerumuskan manusia kepada berbagai bentuk kemaksiatan dan kerusakan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

"Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya." (QS. An-Nazi'at: 40–41)

Mewujudkan Jiwa yang Tenang

Menurut pemateri, jiwa yang tenang (nafs al-muthma'innah) hanya dapat dicapai apabila hati dipenuhi keimanan, akal digunakan untuk mencari ilmu yang benar, dan nafsu dikendalikan sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Keseimbangan antara qalb, 'aql, dan nafs akan melahirkan pribadi yang bijaksana, berakhlak mulia, mampu menghadapi berbagai persoalan hidup, serta menjadi rahmat bagi lingkungan sekitarnya.

Penutup

Menutup kajiannya, Ustadz Budi Sudiarso, S.Pd., M.Pd. mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa melakukan muhasabah diri serta memperbaiki kualitas hati, meningkatkan ilmu, dan mengendalikan hawa nafsu agar kehidupan menjadi lebih bermakna dan memperoleh ketenangan yang hakiki.

Beliau berharap setiap muslim mampu menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai pedoman dalam membangun keseimbangan antara dimensi spiritual, intelektual, dan emosional sehingga lahir pribadi yang kuat iman, luas ilmu, dan mulia akhlaknya.

Kajian Ahad Pagi yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi PCM Cepu ini berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme. Kehadiran jamaah dari berbagai kalangan menunjukkan besarnya semangat masyarakat dalam menuntut ilmu agama. Dukungan penuh dari LAZISMU Kantor Layanan Cepu menjadi bagian penting dalam keberlangsungan program dakwah dan pembinaan umat, sehingga diharapkan kajian rutin ini terus memberikan manfaat bagi terwujudnya masyarakat Islam yang berkemajuan, berilmu, dan berakhlak mulia.


0Comments