| Dokumentasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cepu berfoto bersama Dr. KH. Tafsir, M.Ag. dalam meramaikan arena Expo LPCR PM dan LPM PWM Jawa Tengah 2026. |
Istilah “Cah Nekat” bagi kalangan muda Muhammadiyah Cepu sejatinya bukan hal baru. Dalam cerita sejarah persyarikatan di Cepu, sebutan ini dulu disematkan untuk menggambarkan keberanian spirit muda Muhammadiyah Cepu era 1960-an, sebuah era ketika dakwah dilakukan dengan keteguhan penuh, tanpa cemas pada keterbatasan fasilitas, dan semata-mata didorong oleh gairah membesarkan syiar.
Namun, pada perhelatan Expo dan Penilaian Final Cabang Ranting serta Masjid Unggulan Muhammadiyah Jawa Tengah kali ini, definisi nekat itu mengalami pergeseran makna yang unik. Ia tak lagi melayang dalam wujud wacana dakwah praktis atau retorika filosofis, melainkan menjelma menjadi aksi-aksi lapangan yang menggungah, spionase taktik dagang, hingga keberanian menembus birokrasi demi satu misi sederhana: meramaikan perhelatan agar tidak dingin.
Berikut adalah catatan feature tentang bagaimana serombongan pemuda dari sudut timur Jawa Tengah ini mencuri panggung di ajang tingkat wilayah tersebut.
Drama Konvoi 4 Mobil dan ‘Misteri’ Cup Holder
Kisah kenekatan ini bahkan sudah dimulai beberapa jam sebelum rombongan menyentuh garis lokasi acara. Siang itu, Jumat 7 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB, empat unit mobil melaju dalam konvoi rapi menembus jalur antarkota. Semangat para kontingen dari Cepu sedang membumbung tinggi, membayangkan betapa riuhnya expo yang akan diikuti.
Namun, suasana santai dalam konvoi mendadak buyar di tengah jalan. Kira-kira pukul 16.15 WIB, sinyal bahaya berbunyi di salah satu mobil: sebuah ponsel milik salah satu dari kami menghilang!
Sontak, kepanikan menjalar cepat via sambungan telepon antar-kendaraan. Tiga dari empat mobil konvoi mendadak melakukan pengereman darurat dan berhenti di bahu jalan. Skenario terburuk membayang di kepala masing-masing penumpang: Apakah HP itu tertinggal saat transit di masjid? Terjatuh saat mengisi bahan bakar? Atau mungkin dicopet jin iseng?
Aksi pencarian kolosal pun dimulai. Bagasi dibongkar, jok mobil diangkat, saku celana digeledah ulang, hingga karpet kabin dibalik. Suasana tepi jalan yang bising oleh lalu lalang kendaraan berubah menjadi arena investigasi mendadak. Waktu berpacu, sementara hari sudah mulai gelap.
Setelah hampir setengah jam ketegangan membakar saraf rombongan, keajaiban yang condong ke arah supranatural —atau lebih tepatnya kelalaian— terjadi. Ponsel yang dicari mati-matian itu ditemukan bertengger manis-tenang tanpa dosa di cup holder (tempat botol minum) di pintu mobil si pemilik sendiri!
"HP-nya ketemu!" sebuah kabar menggelikan yang disambut gelak tawa riuh seluruh anggota konvoi. Ketegangan mencair seketika. Konvoi empat mobil kembali melaju, membawa rasa lega sekaligus bahan obroloan baru yang bertahan sepanjang perjalanan, bahkan setelah pulang.
Stan 'Semi-Ilegal' yang Bikin Panitia Lirik-Lirikan
Tiba di lokasi perhelatan Expo LPCR PM dan LPM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, gairah Pemuda Muhammadiyah Cepu untuk unjuk gigi kian tak terbendung. Bagi mereka, sebuah expo pameran bukan sekadar deretan meja yang ditata rapi dengan brosur tertata kaku. Expo adalah gelanggang energi; ia harus bising, hangat, dan dipenuhi sesakan pengunjung.
Melihat jatah area yang ada dirasa kurang merepresentasikan gairah rombongan, muncul lah gagasan nekat khas Cepu yang sudah dipersiapkan sebelumya. Tanpa koordinasi berbelit dan tanpa menunggu arahan lanjutan dari panitia, sebuah tenda tambahan milik Pemuda Muhammadiyah Cepu tiba-tiba berdiri kokoh di luar plot resmi.
Secara teknis, tentu saja pendirian tenda tambahan ini berada di garis abu-abu, alias semi-ilegal.
Tak ayal, keberadaan stan 'siluman' ini mungkin menjadi bahan perbincangan hangat di antara panitia penyelenggara. Beberapa panitia tampak melintas sambil melirik curiga, bahkan sesekali berbisik sembari memegang lembar peta layout stan. Tapi, sebelum surat teguran sempat diketik, stan nekat tersebut sudah lebih dulu diserbu oleh lautan pengunjung.
"Expo itu prinsipnya cuma satu: memang harus diramaikan. Kalau tidak ramai, bukan expo namanya," kira-kira begitulah yang dipikirkan oleh kawan-kawan muda Cepu saat itu.
'Kegaduhan' Pagi: Senam Pemantik Energi
Tak berhenti pada urusan mendirikan tenda ekstra, jiwa nekat kembali muncul dalam memecahkan kebekuan expo yang akhirnya juga merambah ke rutinitas pagi hari. Ketika stan-stan lain masih tampak lengang dan para kontingen lain baru bersiap secara perlahan, rombongan Muhammadiyah Cepu justru selalu mengawali hari expo dengan ritual wajib mereka: senam pagi bersama.
Dengan musik riang yang membahana dan gerakan-gerakan energik khas arena olahraga, aksi senam pagi ini tak pelak menciptakan kegaduhan tersendiri di lokasi expo.
Bagi peserta expo lain yang berada di sekitar area, keriuhan pagi yang diinisiasi kontingen Cepu ini mungkin sempat membuat kaget atau bahkan membuat mereka geleng-geleng kepala. Namun, dari "kegaduhan" inilah suasana dingin pagi arena expo pecah seketika. Senam pagi tersebut berhasil menularkan energi segar, membangkitkan gairah peserta lain, dan menyalakan gelora expo bahkan sebelum gerbang pengunjung umum resmi dibuka.
Announcer 'Penyihir'
Sebuah stan, terlebih yang berstatus semi-ilegal, tentu tak akan berarti apa-apa tanpa kehadiran juru panggil (announcer) yang mumpuni.
Berbekal pengeras suara dan artikulasi kata yang responsif serta jenaka, seorang announcer dengan kemampuan retorika tingkat "penyihir" mampu mengubah arus lalu lintas pengunjung expo secara dramatis. Panggilan-panggilan uniknya yang menyapa lalu lalang orang dengan candaan bernas berhasil mencuri perhatian siapa saja yang melintas.
Daya tarik sang announcer sukses menyihir kerumunan hingga memadati pelataran stan. Area yang tadinya mungkin dianggap berpotensi mengganggu ketertiban layout panitia justru berubah menjadi pusat gravitasi Expo PWM Jateng. Panitia yang tadinya mungkin hendak menertibkan, pada akhirnya hanya bisa tersenyum geleng-geleng kepala melihat betapa nekat kalangan muda dari Cepu ini.
'Kopi Kothokmu' yang Mempersatukan
Di balik riuhnya kelakar announcer, kehebohan senam pagi, dan keberanian (nekat) mendirikan tenda, ada magnet lain yang membuat para pengunjung bertahan lama di stan Pemuda Muhammadiyah Cepu: aroma harum racikan Kopi Kothokmu.
Kopi kothok merupakan identitas kultural merakyat yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat Cepu. Cara penyeduhannya yang khas, biji kopi dan gula direbus bersamaan dalam ketel hingga mendidih dan mengeluarkan buih pekat, menghasilkan tekstur rasa yang tebal, mantap, dan otentik.
Seduhan demi seduhan Kopi Kothokmu dibagikan dan dijual kepada pengunjung. Bahkan tak sekadar menyajikan kopi kothok, kawan-kawan muda Muhammadiyah Cepu juga secara khusus menyediakan fasilitas meja dan kursi di area stan. Keberadaan kursi dan meja ini membuat para pengunjung merasa sangat nyaman untuk duduk beristirahat, mengobrol santai, dan menikmati cangkir demi cangkir kopi di tengah hiruk-pikuk expo.
Mulai dari jajaran pimpinan wilayah, panitia penilaian cabang ranting, hingga pengunjung umum, semuanya luluh oleh suasana kenyamanan dan kehangatan kopi khas Cepu ini. Stan semi-ilegal itu pun bertransformasi menjadi lounge favorit di arena expo.
Dakwah Gembira ala 'Cah Nekat'
Cerita tentang drama HP hilang di cup holder, aksi nekat mendirikan tenda tambahan, "kegaduhan" senam pagi bersama, kelihaian sang announcer, fasilitas cangkir kopi lengkap dengan meja-kursi nyaman, hingga kepulan asap Kopi Kothokmu pada akhirnya merangkum satu hal mendasar, bahwa dakwah Muhammadiyah tidak selamanya harus tampil formal dan kaku.
Spirit nekat yang diusung oleh Pemuda Muhammadiyah Cepu memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana anak muda bergerak. Ada keberanian mengambil risiko, ada kemandirian ekonomi lewat produk lokal, dan yang terpenting, ada keceriaan dalam menjalankan dakwah persyarikatan.
Kini, expo telah usai dan tenda semi-ilegal pun telah dibongkar. Namun, jejak kehangatan, gelak tawa, dan suasana ngopi Kothokmu akan terus dikenang sebagai bukti bahwa di tangan 'cah-cah nekat', hal biasa bisa disulap menjadi dinamika dan cerita dakwah persyarikatan yang sulit dilupakan.
0Comments