Menampilkan identitas keislaman secara tegas dan autentik di tengah masyarakat bukanlah perkara formalitas belaka. Dalam Al-Qur'an seurat Ali Imran ayat 64, terekam satu ketegasan sikap yang memuat pesan mendalam:
اشۡÙ‡َدُÙˆۡا بِاَÙ†َّا Ù…ُسۡÙ„ِÙ…ُÙˆۡÙ†َ
—"Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim."
Ayat ini menegaskan bahwa keberadaan seorang Muslim tidak cukup sekadar diakui, melainkan harus dibuktikan lewat karya, sumbangsih, dan keberanian tampil di garis depan peradaban.
Pesan teologis ini menjadi titik pijak refleksi mendasar yang disampaikan oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu, Drs. Mokh Fathoni, M.M., saat menatap arah gerak persyarikatan Muhammadiyah di Cepu yang disampaikan dalam agenda rapat pada tanggal 21 Juli 2026 dalam rangka persiapan Penilaian Cabang dan Ranting Unggulan yang diselenggarakan LPCR PWM Jawa Tengah.
Menurut Fathoni, untuk mencapai derajat kesaksian iman yang nyata, para penggerak Muhammadiyah tidak bisa bergerak secara pasif atau sekadar menjalankan rutinitas organisasi tanpa jiwa perjuangan. "Untuk menuju ke sana, ternyata dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh dan penuh pengorbanan. Tidak bisa hanya sekadar jalan," tegas Fathoni. Ia menambahkan bahwa mempertahankan konsistensi perjuangan tersebut adalah tantangan besar yang harus terus-menerus menjadi perhatian dan dirawat bersama.
Kelakar 'Lansia-Muda' dan Realitas Regenerasi
Di tengah dinamika organisasi saat ini, salah satu tantangan terpenting yang mengemuka adalah persoalan regenerasi kepemimpinan. Fathoni menceritakan sebuah momen menarik saat membaca pesan di grup percakapan Pimpinan Cabang, yang mendorong agar kepengurusan Muhammadiyah di Cepu lebih masif melibatkan potensi kaum muda.
Merespons dorongan tersebut, Fathoni sempat melontarkan seloroh segar yang penuh daya sentil otokritik. "Kemarin saya sempat ngambil guyonan: wong pengurus PCM Cepu itu semuanya muda kok, yaitu terdiri dari 'pasca-muda' dan 'lansia-muda'," kenang Fathoni sembari tersenyum.
Meski kelakar tersebut memancing tawa hangat, makna di baliknya menyimpan keprihatinan dari realitas yang ada. Istilah "pasca-muda" dan "lansia-muda" adalah cermin atas realitas struktur kepengurusan persyarikatan yang kini didominasi oleh tokoh-tokoh senior. Ada kerinduan mendalam akan hadirnya sosok-sosok pemuda yang benar-benar belia dalam arti usia untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dakwah di Cepu.
Jejak Muhammadiyah Cepu 1960-an: Keberanian Mbah Badji dkk
Untuk memicu kembali semangat regenerasi tersebut, Fathoni mengajak jajaran pengurus dan warga persyarikatan untuk memutar balik jarum sejarah menuju dekade 1960-an. Sejarah mencatat bahwa perjuangan Muhammadiyah di Kecamatan Cepu justru dihela oleh tangan-tangan dingin para pemuda yang saat itu rata-rata masih berusia 30 hingga 40 tahunan.
Para tokoh persyarikatan di Cepu kala itu, seperti Mbah Badji dan Mbah Abdul Qadir, merupakan representasi kaum muda yang energik dan progresif. Fathoni mencontohkan almarhum Mbah Badji yang lahir pada 1915, ketika aktif meletakkan pilar-pilar pergerakan Muhammadiyah di Cepu pada era 1960-an, usia beliau baru berusia sekitar 45 tahunan.
"Para pendiri Muhammadiyah di Cepu pada tahun 60-an itu rata-rata usianya masih sekitar 30 sampai 40-an tahun. Mbah Badji saat itu baru usia 40-an tahun, namun sudah membanting tulang untuk persyarikatan ini," ungkap Fathoni. Keberanian sosok-sosok muda era 60-an inilah yang membuktikan bahwa pemuda adalah motor utama penggerak perubahan sosial-keagamaan.
Shalat Id 12 Orang: Romantisme 'Cah Nekat' di Lapangan Terbuka
Salah satu potongan sejarah paling heroik yang melukiskan keteguhan para pemuda tersebut terjadi saat pelaksanaan Shalat Idul Fitri pertama di lapangan terbuka. Pada masa itu, merintis Shalat Id di lapangan merupakan sebuah terobosan dakwah yang tidak lazim dan membutuhkan keberanian mental yang luar biasa di tengah masyarakat yang belum terbiasa. Fathoni mengisahkan, Shalat Idul Fitri di lapangan kala itu hanya diikuti oleh 12 orang jamaah saja. “Komposisinya terdiri dari 7 jamaah pria dan 5 jamaah wanita,” ungkap Fathoni berdasarkan kisah yang ia peroleh dari keterangan almarhum Mbah Abdul Qodir. Jumlah yang sangat bersahaja untuk sebuah agenda ibadah di area terbuka.
"Kalau bukan “cah nekat” (anak-anak yang nekat dan berani), tidak akan ada yang mau dan berani melaksanakannya (salat Ied di lapangan)," ujar Fathoni melukiskan keteguhan para perintis tersebut. Atmosfer saat itu sungguh penuh ujian mental. Area lapangan tempat Shalat Id berlangsung sama sekali belum bertembok atau berpagar. Akibatnya, keberadaan 12 orang jamaah yang sedang menjalankan shalat di tengah lapangan terbuka tersebut terlihat sangat jelas dari jalan raya. Setiap orang yang melintas dengan mudah menyaksikan sekumpulan anak muda tersebut.
Bagi warga yang melintas kala itu, mungkin pemandangan sekelompok "cah-cah nekat" yang menggelar shalat di lapangan mungkin mengundang tatapan heran. Namun, tatapan heran publik tidak sedikit pun meruntuhkan nyali para pionir muda Muhammadiyah Cepu saat itu. Mereka tetap berdiri tegak, memimpin shalat, dan menancapkan tonggak sejarah baru bagi gerak dakwah islam yang berkemajuan.
Melampaui Formalitas, Menatap Masa Depan
Nilai historis dari kisah “cah-cah nekat” tersebut memuat pelajaran berharga bagi warga Muhammadiyah masa kini. Fathoni menekankan bahwa menggelorakan persyarikatan tidak bisa dilakukan dengan setengah hati atau sebatas melepas kewajiban.
Fathoni mengingatkan agar dakwah jangan sampai berjalan sebagai sekadar formalitas tanpa memedulikan mutu dan dampak. Sebaliknya, mempertahankan dan membesarkan persyarikatan membutuhkan perhatian, kesungguhan, dan strategi yang tertata rapi. "Merawat perjuangan itu harus menjadi perhatian bersama dan harus dibuat perencanaan yang matang," tegasnya.
Pada periode ini, PCM Cepu merefleksikan kembali spirit dekade 1960-an tersebut. Kehadiran para pimpinan senior yang berkelakar sebagai "lansia-muda", tidak boleh menjadi alasan mandeknya alih generasi. Justru, para senior siap membimbing dan membukakan jalan agar anak-anak muda hari ini mengambil porsi tanggung jawab yang lebih besar.
Sejarah telah membuktikan bahwa dari 12 orang yang “nekat” sholat Ied di lapangan terbuka, Muhammadiyah Cepu mampu tumbuh menjadi pilar keumatan yang berkelanjutan. Kini, tantangan itu kembali dilemparkan kepada generasi hari ini: maukah mereka mewarisi keberanian tersebut, ataukah mereka hanya puas menjadi penghuni di “rumah” yang didirikan oleh keringat perjuangan para pemuda Cepu dekade 60-an?
0Comments