BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Di Hari Akhir, Bersama Siapa Kita Akan Dikumpulkan?

Di Hari Akhir, Bersama Siapa Kita Akan Dikumpulkan?

Keberpihakan dan cinta menentukan dengan siapa kita dikumpulkan di akhirat. Hindari fanatisme buta demi keadilan dan kebaikan sosial sesuai Islam.
Table of contents
×

Penulis: Abdurr

Ilustrasi penegakan keadilan dan penataan arah cinta seorang Muslim sesuai tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah
Arah keberpihakan dan cinta menentukan kualitas emosional, dampak sosial, serta tempat pengumpulan seorang manusia di akhirat kelak.

Kepada Siapa Kita Berpihak, Mengidolakan, dan Mencintai Dapat Menjadi Penentu dengan Siapa Kita Akan Dikumpulkan di Akhirat

"Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ribuan orang rela terbang melintasi benua. Jutaan lainnya begadang hingga subuh. Stadion bergemuruh oleh sorak-sorai. Media sosial dipenuhi perdebatan. Sebagian menangis karena kemenangan, sebagian lagi kecewa karena kekalahan. Seolah-olah kemenangan sebuah tim adalah kemenangan dirinya, dan kekalahan idolanya adalah luka di hatinya.

Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi dalam Piala Dunia. Kita menyaksikannya dalam pemilihan umum, Pilpres, dunia hiburan, media sosial, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia selalu memiliki kecenderungan untuk memilih siapa yang akan dibela, dikagumi, dicintai, dan diikuti.

Di era modern, perhelatan olahraga, politik, hingga media digital sering kali menjadi ruang bertemunya berbagai kepentingan: ekonomi, budaya, politik, diplomasi, dan pertarungan narasi. Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya menjadi penonton. Ia dituntut memiliki hati yang jernih dan akal sehat agar tidak hanyut dalam fanatisme yang mengaburkan kebenaran.

Pertanyaannya bukanlah siapa yang kita dukung.

Pertanyaannya adalah: mengapa kita mendukungnya?

Dan pertanyaan yang lebih dalam lagi adalah: jika hari ini Allah mengumpulkan manusia sesuai dengan siapa yang paling mereka cintai dan mereka bela, bersama siapakah kita berharap akan dikumpulkan?

Rasulullah ï·º bersabda: "Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini bukan sekadar berbicara tentang perasaan. Ia berbicara tentang arah hati. Sebab hati yang terus mencintai akan melahirkan loyalitas, loyalitas akan melahirkan pembelaan, dan pembelaan akan membentuk jalan hidup seseorang.

Mengapa Manusia Mudah Mengidolakan?

Psikologi sosial menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk merasa memiliki, diterima, dan menjadi bagian dari suatu kelompok. Melalui Social Identity Theory, Henri Tajfel menjelaskan bahwa seseorang cenderung membangun identitas dirinya melalui kelompok yang ia dukung. 

Solomon Asch juga menunjukkan bahwa banyak orang rela mengikuti pendapat mayoritas meskipun mengetahui pendapat itu keliru, hanya karena takut dikucilkan.

Penelitian lain menunjukkan bahwa manusia lebih mudah mengidolakan figur yang dianggap mewakili nilai, harapan, atau cita-cita dirinya. Setelah seseorang menentukan keberpihakan, muncul confirmation bias: kecenderungan hanya menerima informasi yang mendukung idolanya dan mengabaikan fakta yang bertentangan.

Ilmu pengetahuan menjelaskan bagaimana manusia berpihak.

Namun Islam mengajarkan kepada siapa keberpihakan itu seharusnya diberikan.

Islam Tidak Mengajarkan Fanatisme, Tetapi Mengajarkan Keadilan

Islam tidak melarang mencintai seseorang, mengagumi prestasi, ataupun mendukung sebuah perjuangan. Akan tetapi, semua itu harus berada di bawah petunjuk Allah, bukan di atasnya.

Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah... Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8)

Ayat ini mengajarkan bahwa kecintaan maupun kebencian tidak boleh menghilangkan keadilan. Seorang mukmin tidak membela karena fanatisme, tetapi karena kebenaran.

Rasulullah ï·º juga mengingatkan:
"Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada 'ashabiyah (fanatisme golongan), berperang karena 'ashabiyah, atau mati karena 'ashabiyah." (HR. Abu Dawud)

Fanatisme membuat seseorang sulit mengakui kesalahan idolanya, mudah memaklumi kezaliman kelompoknya, dan enggan menerima kebenaran yang datang dari pihak lain. Padahal, ukuran seorang mukmin bukanlah "siapa yang berbicara", melainkan "apakah yang disampaikan sesuai dengan kebenaran".


Cinta Tertinggi Hanya Milik Allah dan Rasul-Nya

Allah SWT mengingatkan:
"Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya." (QS. At-Taubah: 24)

Ayat ini mengajarkan bahwa tidak boleh ada kecintaan yang mengalahkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Karena itu, teladan utama seorang Muslim hanyalah Rasulullah ï·º.

"Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21)

Artis, atlet, ulama, pemimpin, maupun tokoh politik dapat kita hormati dan ambil kebaikannya. Namun tidak satu pun layak diikuti secara mutlak. Mereka semua adalah manusia yang dapat benar dan dapat pula keliru.

Muhasabah bagi Kader Muhammadiyah

Muhammadiyah sejak awal berdiri mengajarkan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Karena itu, ukuran keberpihakan seorang muslim, kader dan warga Muhammadiyah bukanlah popularitas, tekanan kelompok, ataupun arus media sosial.

Ketika menyaksikan berbagai peristiwa dunia—baik olahraga, politik, maupun konflik kemanusiaan—pertanyaan pertama yang harus muncul bukanlah, "Siapa yang lebih hebat dan saya sukai?", tetapi di manakah posisi saya di akhirat nanti dengan pilihan ini? Di manakah keadilan ditegakkan? Di manakah kemanusiaan dihormati? Di manakah nilai-nilai Islam dijaga?

Jika tokoh yang kita kagumi berbuat baik, kita dukung kebaikannya. Jika ia keliru, kita tidak membela kekeliruannya. Loyalitas kita bukan kepada manusia, melainkan kepada kebenaran yang Allah wahyukan.

Jangan sampai algoritma media sosial lebih menentukan arah hati kita daripada Al-Qur'an. Jangan sampai popularitas lebih kita ikuti daripada petunjuk Rasulullah ï·º.

Bersama Siapa Kita Akan Dikumpulkan?

Suatu hari nanti, tidak ada lagi bendera yang berkibar. Tidak ada lagi stadion yang bergemuruh. Tidak ada lagi kampanye politik. Tidak ada lagi gelar juara dunia. Tidak ada lagi pagelaran musik yang spektakuler. Semua yang pernah membuat manusia saling membela akan berakhir.

Yang tersisa hanyalah amal, iman, dan arah hati.

Maka mari kita renungkan. 

Jika hari ini Allah mengumpulkan manusia sesuai dengan siapa yang paling mereka cintai dan mereka bela, bersama siapakah kita berharap akan dikumpulkan?

Jika hati lebih bangga membela manusia daripada membela kebenaran, saatnya kita meluruskan arah hati.

Jika lebih mengenal tokoh dunia daripada mengenal Rasulullah ï·º, saatnya kita memperbaiki cinta.

Jika lebih marah ketika idola kita dihina dan kelompok kita diremehkan daripada ketika Rasulullah ï·º dihina dan syariat Allah diremehkan, saatnya kita bertaubat. 

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai karena-Nya, dan membela karena-Nya.

Insya Allah kita ditakdirkan untuk selalu menjadikan Al-Qur'an serta Sunnah sebagai kompas dalam setiap keberpihakan. 

Saya do'akan semoga kelak Allah mengumpulkan kita bersama Rasulullah ï·º, para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Itulah sebaik-baik teman. Aamiin.


Tentang Penulis
Abdurr adalah nama pena dari seorang warga Muhammadiyah Cepu yang mengagumi perjuangan K.H. Ahmad Dahlan. 

0Comments