Cepu, 26 Juli 2026 – Memasuki hari kedua pelaksanaan Baitul Arqam Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu, para peserta mengikuti materi ketujuh yang disampaikan oleh Ust. Nur Sahlul Mubarok, S.H.I., M.Pd. pada Ahad (26/7/2026) di Aula SMK Muhammadiyah Cepu. Materi bertajuk "Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM)" ini memberikan penguatan kepada peserta agar mampu mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek kehidupan, baik sebagai pribadi, anggota keluarga, warga masyarakat, maupun sebagai kader dan pengelola Amal Usaha Muhammadiyah.
Dalam pembukaannya, Ust. Nur Sahlul Mubarok menjelaskan bahwa Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) merupakan seperangkat nilai dan norma Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai pedoman dalam membentuk perilaku warga Muhammadiyah. Pedoman ini tidak hanya mengatur kehidupan pribadi, tetapi juga mencakup kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berorganisasi, mengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), menjalankan profesi, berbangsa dan bernegara, melestarikan lingkungan, hingga mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya.
Beliau menegaskan bahwa tujuan utama PHIWM adalah membentuk perilaku individu maupun kolektif yang menjadi uswah hasanah (teladan yang baik) sehingga mampu mewujudkan cita-cita Muhammadiyah, yaitu terbangunnya Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Oleh karena itu, setiap kader Muhammadiyah dituntut menjadikan PHIWM sebagai pedoman dalam setiap aktivitas kehidupan sehari-hari.
Pada pembahasan mengenai kehidupan pribadi, narasumber mengajak peserta memperkokoh aqidah yang berlandaskan tauhid murni serta menjauhi TBC (Takhayul, Bid'ah, dan Khurafat) yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Selain itu, warga Muhammadiyah harus senantiasa meneladani akhlak Rasulullah ﷺ, melaksanakan ibadah dengan penuh keikhlasan sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5, serta menyadari tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 30. Beliau juga menekankan pentingnya mengembangkan cara berpikir bayani, burhani, dan irfani agar mampu menghadapi berbagai persoalan kehidupan secara bijaksana dan sesuai tuntunan syariat.
Selanjutnya, pada aspek kehidupan keluarga, Ust. Nur Sahlul Mubarok menjelaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama pembentukan karakter Islami. Keluarga harus menjadi tempat tumbuhnya nilai-nilai sakinah, mawaddah, wa rahmah, sekaligus menjadi lahan kaderisasi bagi generasi penerus Muhammadiyah. Setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab menjaga keharmonisan rumah tangga, saling berbuat ihsan, mendidik anak-anak dengan nilai-nilai Islam, serta melindungi keluarga dari berbagai penyimpangan sebagaimana pesan Allah SWT dalam QS. At-Tahrim ayat 6.
Pada pembahasan kehidupan bermasyarakat, narasumber mengingatkan bahwa warga Muhammadiyah harus menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi sesama. Seorang muslim hendaknya menjaga lisan dan perbuatannya, menghormati tetangga, menegakkan keadilan, serta membangun hubungan sosial yang harmonis tanpa membedakan suku, golongan, maupun latar belakang. Dakwah juga harus dilakukan dengan penuh hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam QS. An-Nahl ayat 125.
Materi kemudian mengulas kehidupan berorganisasi dalam Muhammadiyah. Ust. Nur Sahlul Mubarok menegaskan bahwa setiap kader harus menjunjung tinggi amanah, mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan, membangun disiplin waktu, memperkuat budaya dakwah melalui kultum dan pengajian, serta menghindari ambisi terhadap jabatan. Organisasi harus dijalankan dengan semangat ukhuwah, pengabdian, dan jihad fi sabilillah demi kemajuan Persyarikatan.
Dalam pembahasan mengenai pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), beliau menjelaskan bahwa seluruh amal usaha merupakan amanah umat yang harus dikelola secara profesional, transparan, dan bertanggung jawab. Setiap pimpinan maupun karyawan AUM hendaknya menjadikan pekerjaannya sebagai bagian dari ibadah, memperkuat kehidupan ruhani melalui pengajian, tadarus Al-Qur'an, dan kajian keislaman, serta menjaga keseimbangan antara profesionalisme dan nilai-nilai spiritual.
Tidak kalah penting, narasumber juga memberikan penguatan mengenai pengembangan profesi. Warga Muhammadiyah dituntut menjalankan profesinya dengan menjunjung tinggi prinsip halalan thayyiban, menghindari korupsi, kolusi, nepotisme, dan kebohongan, serta senantiasa bekerja dengan penuh rasa syukur, kesabaran, dan keikhlasan. Setiap profesi dipandang sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56, sehingga pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Di akhir penyampaiannya, Ust. Nur Sahlul Mubarok mengajak seluruh peserta Baitul Arqam untuk menjadikan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah bukan sekadar dokumen organisasi, melainkan pedoman nyata dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Menurut beliau, keberhasilan dakwah Muhammadiyah sangat ditentukan oleh keteladanan setiap kader dalam menerapkan nilai-nilai Islam di rumah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, maupun dalam kehidupan berorganisasi.
Materi berlangsung dengan penuh perhatian dan antusiasme peserta. Berbagai contoh implementasi PHIWM dalam kehidupan sehari-hari membuat peserta semakin memahami bahwa menjadi warga Muhammadiyah bukan hanya memiliki identitas organisasi, tetapi juga menghadirkan akhlak, integritas, profesionalisme, dan semangat pengabdian dalam setiap aspek kehidupan.
Melalui materi ketujuh ini, peserta Baitul Arqam diharapkan mampu menjadi kader Muhammadiyah yang memiliki aqidah yang kokoh, akhlak mulia, semangat ibadah, profesional dalam bekerja, aktif dalam dakwah, serta menjadikan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah sebagai landasan dalam mengabdi kepada Persyarikatan, umat, bangsa, dan negara demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

0Comments