BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
PRM dan PRA Cepu Gelar Kajian Rutin Bulanan, Mengajak Jamaah Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

PRM dan PRA Cepu Gelar Kajian Rutin Bulanan, Mengajak Jamaah Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Cepu kembali menyelenggarakan kajian rutin bulanan di Masjid Taqwa Cepu. Kegi
Table of contents
×

Cepu, Rabu, 2 September 2026 — Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Cepu kembali menyelenggarakan kajian rutin bulanan di Masjid Taqwa Cepu. Kegiatan ini diikuti oleh warga Persyarikatan dan jamaah dengan penuh semangat sebagai bagian dari upaya meningkatkan keimanan, pemahaman keislaman, serta mempererat ukhuwah.

Kajian diawali dengan sambutan dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu, Drs. H. Mokh. Fathoni, M.M. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa ruh Muhammadiyah adalah kajian. Muhammadiyah dibangun dan berkembang melalui semangat menuntut ilmu, memahami Al-Qur'an dan Sunnah, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan nyata.

Beliau mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk terus menjaga semangat menghadiri majelis ilmu. Kehadiran dalam kajian hendaknya dilandasi dengan niat yang benar, yaitu mencari ilmu dan mengharapkan ridha Allah SWT. Dengan niat yang ikhlas, setiap langkah menuju majelis ilmu dapat menjadi bagian dari amal ibadah dan sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan serta kehidupan seorang muslim.

Dosa dan Jalan Kembali kepada Allah

Kajian kemudian dilanjutkan oleh pemateri, Ustadz Drs. H. Mariya, M.Pd. Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bahwa manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Namun, yang terpenting adalah bagaimana seseorang menyadari kesalahannya dan segera kembali kepada Allah SWT dengan memohon ampun.

Seorang yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Justru, manusia yang baik adalah orang yang ketika melakukan dosa, ia menyadari kesalahannya, bertaubat, dan memohon ampun kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka. Dan siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedangkan mereka mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imran: 135)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa pintu ampunan Allah selalu terbuka bagi hamba yang bersungguh-sungguh ingin kembali kepada-Nya.

Memperbanyak Sayyidul Istighfar

Dalam kajian tersebut, Ustadz Mariya juga mengajak jamaah untuk membiasakan diri memperbanyak istighfar, termasuk membaca Sayyidul Istighfar, yaitu doa memohon ampun kepada Allah SWT:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَىٰ عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada sesembahan yang benar selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku lakukan. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau.”

Dengan memperbanyak istighfar, seorang muslim senantiasa menjaga kesadaran bahwa dirinya adalah hamba yang membutuhkan ampunan dan rahmat Allah SWT.

Zikir sebagai Penjaga Diri

Selain istighfar, jamaah juga diajak untuk membiasakan berbagai zikir yang menguatkan keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Di antara zikir yang disampaikan adalah:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillāhilladzī lā yaḍurru ma‘asmihī syai’un fil-arḍi wa lā fis-samā’i wa huwas-samī‘ul-‘alīm.

Artinya:
“Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang dapat membahayakan, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Zikir berikutnya yang juga disampaikan adalah:

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا

Raḍītu billāhi rabban, wa bil-Islāmi dīnan, wa bi-Muḥammadin nabiyyan.

Artinya:
“Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku.”

Zikir-zikir tersebut menjadi bagian dari upaya seorang muslim untuk menjaga kedekatan dengan Allah SWT dan memperkuat keyakinan dalam kehidupan sehari-hari.

Menikmati Kelezatan Iman dan Ibadah

Ustadz Mariya menjelaskan bahwa orang yang telah mampu menikmati kelezatan iman akan memiliki hubungan yang berbeda dengan ibadah. Ibadah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai kebutuhan dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Ketika iman telah tertanam kuat dalam hati, seorang muslim akan terbiasa menjalankan berbagai ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT. Ketaatan dilakukan dengan penuh kesadaran dan harapan untuk memperoleh ridha-Nya.

Pada akhirnya, Allah SWT akan memberikan balasan terbaik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Kehidupan seorang muslim harus diarahkan untuk terus memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang pantas memperoleh rahmat dan surga Allah SWT.

Tingkatan Orang yang Baik

Dalam kajian tersebut juga disampaikan beberapa tingkatan dalam melakukan kebaikan.

1. Tidak Menyakiti dan Tidak Melakukan Keburukan

Tingkatan awal adalah menjaga diri agar tidak menyakiti orang lain serta tidak melakukan perbuatan buruk. Seorang muslim harus mampu menjaga lisan, sikap, dan perbuatannya agar tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

2. Berinisiatif Melakukan Kebaikan

Tingkatan berikutnya adalah seseorang yang tidak hanya menghindari keburukan, tetapi juga memiliki kesadaran dan inisiatif untuk melakukan kebaikan meskipun tidak diminta.

Kebaikan dapat dilakukan melalui bantuan, nasihat, kepedulian, pelayanan kepada masyarakat, dan berbagai amal yang memberikan manfaat kepada sesama.

3. Berlomba-lomba dalam Kebaikan

Tingkatan yang lebih tinggi adalah memiliki semangat untuk senantiasa berlomba dalam melakukan kebaikan. Seorang muslim tidak hanya menunggu kesempatan, tetapi berusaha mencari jalan untuk memberikan manfaat dan memperbanyak amal saleh.

Allah SWT berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah: 148)

Semangat berlomba dalam kebaikan harus menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam aktivitas Persyarikatan.

Kajian sebagai Sarana Memperbaiki Diri

Melalui kajian rutin bulanan ini, jamaah diajak untuk terus meningkatkan kualitas diri melalui ilmu, zikir, istighfar, dan amal saleh. Setiap manusia memiliki masa lalu dan kesalahan, tetapi Allah SWT memberikan kesempatan bagi hamba-Nya untuk senantiasa kembali dan memperbaiki diri.

Semangat Muhammadiyah yang berlandaskan pada kajian dan pengamalan ilmu diharapkan terus hidup dalam kehidupan warga Persyarikatan. Dengan menghadiri majelis ilmu dengan niat yang ikhlas, memperbanyak zikir dan istighfar, serta membiasakan diri melakukan kebaikan, diharapkan setiap muslim dapat tumbuh menjadi pribadi yang semakin dekat dengan Allah SWT.

Kajian rutin bulanan PRM dan PRA Cepu ini menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, mempererat ukhuwah, serta menumbuhkan semangat untuk terus meningkatkan amal kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.


0Comments