BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Resmi Lepas Mahasiswa KKN: Dosen dan Kades Ingatkan Bahaya Kesombongan Intelektual

Resmi Lepas Mahasiswa KKN: Dosen dan Kades Ingatkan Bahaya Kesombongan Intelektual

Dosen dan Kades Mulyorejo ingatkan mahasiswa KKN STAI Muhammadiyah pentingnya kerendahan hati dan bahaya kesombongan intelektual.
Table of contents
×
Kepala Desa Mulyorejo Sugiyono dan DPL Mukhammad Syaidin memberikan arahan pada pelepasan mahasiswa KKN STAI Muhammadiyah


Penutupan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Muhammadiyah di Desa Mulyorejo diwarnai penyampaian pesan mendalam mengenai realita keras dunia kerja. Momen pelepasan tersebut dimanfaatkan oleh pimpinan desa dan pihak kampus untuk mengingatkan para mahasiswa akan pentingnya kerendahan hati serta bahaya kesombongan intelektual saat terjun ke masyarakat.

Pentingnya Skill dan Keterampilan

Kepala Desa Mulyorejo, Sugiyono, secara terbuka mengingatkan para peserta KKN agar tidak tinggi hati hanya karena menyandang gelar akademis. Menurutnya, tingginya jenjang pendidikan tidak akan memberikan dampak nyata jika seseorang malas dan tidak memiliki kompetensi eksekusi di lapangan.

"Jangan membanggakan diri bahwa Anda kuliah. D3 atau S2 percuma kalau tidak ada pelaksanaan di lapangan," tegas Sugiyono di hadapan para mahasiswa dan perangkat desa.

Sugiyono turut membagikan pengalaman pribadinya yang tidak gengsi mencari penghasilan tambahan dengan menjadi sopir truk di akhir pekan. Hal itu ia lakukan demi mencukupi kebutuhan keluarga di tengah ketidakpastian ekonomi. Ia berpesan agar generasi muda memiliki keberanian untuk beradaptasi, tidak hanya mengandalkan satu sumber penghasilan tunggal, dan siap bekerja keras tanpa mengandalkan gengsi.

Mengasah Kerendahan Hati dan Mental Pantang Menyerah

Senada dengan Kades, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Mukhammad Syaidin, M.Pd.I., menyoroti tantangan mahasiswa yang kini menjalani masa KKN lebih singkat, yakni satu bulan. Durasi yang terbatas ini menuntut mahasiswa untuk beradaptasi cepat dengan realitas sosial warga.

Syaidin membagikan kisah hidupnya mengenai pentingnya fleksibilitas ekonomi dan sikap pantang menyerah. Di samping melakoni profesi sebagai pendidik dan dosen, ia tidak malu menjalankan usaha sampingan berjualan kantong plastik dan keripik pisang.

Ia juga menceritakan pengalamannya menghadapi kegagalan tes pekerjaan berulang kali, sebelum akhirnya berhasil pada 2008. Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa ilmu dicari untuk memperluas wawasan dan membentuk mentalitas tangguh, bukan sekadar mengejar status.

Pentingnya Pendidikan Demi Bekal Karir

Dalam kesempatan itu, Syaidin juga memberikan sosialisasi kepada pemuda desa agar terus melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Menempuh studi di kampus lokal seperti STAI Muhammadiyah dinilai hemat biaya karena tidak memerlukan ongkos tempat tinggal (kos) dan transportasi yang mahal, serta didukung oleh program Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Pelepasan mahasiswa KKN ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang sarjana di dunia nyata tidak diukur dari seberapa tinggi gelar yang dimiliki. Integritas, kerendahan hati, dan kesiapan untuk terus belajar di lapangan menjadi kunci utama dalam mengarungi persaingan karir dan pengabdian masyarakat di masa depan.


0Comments