![]() |
| Ustadz Sopyan, S.H.I. memaparkan konsep kemerdekaan jiwa dan pembebasan tauhid dalam Pengajian Umum Kuliah Ahad Pagi PCM Cepu di Masjid Al-Hikmah Komplek Muhammadiyah Cepu. |
Hiruk-pikuk kemerdekaan masih terasa hingga akhir bulan Agustus tahun ini, di mana perayaannya kerap dilakukan dengan cara yang terkesan materialistis. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan mendasar yang menuntut perenungan mendalam: Apakah manusia modern yang terbebas secara politik benar-benar telah merdeka secara jiwa? Pertanyaan filosofis dan teologis inilah yang menjadi pembahasan utama dalam Pengajian Umum Kuliah Ahad Pagi yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh & Pustaka Informasi PCM Cepu di Masjid Al-Hikmah, Komplek Muhammadiyah Cepu.
Hadir sebagai penceramah utama adalah Ustadz Sopyan, S.H.I. asal Kabupaten Blora. Dalam ceramah yang disampaikannya, Ustadz Sopyan mengajak jamaah untuk melampaui sekat-sekat kebebasan fisik dan menyelami hakikat tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa. Menurutnya, Islam meletakkan fondasi kemerdekaan bukan sekadar pada terbebasnya suatu wilayah dari penjajahan kolonial seperti masa pendudukan Belanda, melainkan pada pembebasan jiwa manusia dari segala bentuk perbudakan selain kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bebas dari Belenggu “Hamba Dunia”
Perspektif Islam mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati terjadi ketika seorang hamba berhasil membebaskan dirinya dari dominasi hawa nafsu, bujukan setan, serta ketergantungan duniawi yang menyesatkan. Saat ini, banyak orang mengaku telah merdeka secara penuh, namun dalam kenyataannya batin mereka justru tersandera oleh kecemasan materi. Mereka merasa lebih nyaman dan aman bersandar pada kepemilikan uang, dompet, atau kartu ATM daripada menggantungkan rasa tawakal kepada Sang Pencipta. Ketika dompet atau akses terhadap harta benda terganggu, rasa bingung dan cemas seolah-olah mengesampingkan keberadaan Allah dalam kehidupan mereka.
Fenomena psikologis-spiritual ini merupakan manifestasi nyata dari penyakit ruhani yang diperingatkan oleh Rasulullah SAW, yaitu penyakit wahn. Ketika para sahabat bertanya mengenai hakikat penyakit wahn, Rasulullah SAW menegaskan bahwa wahn adalah hubbud dunya wa karahiyatul maut, yaitu sikap terlalu mencintai dunia secara berlebihan dan takut menghadapi kematian. Penderita penyakit ini memandang dunia sebagai tujuan utama, sehingga setiap jengkal aktivitas ruhaninya selalu diukur dari kacamata untung-rugi materi.
Mengutip pesan hadis riwayat Al-Bukhari, Ustadz Sopyan mengingatkan peringatan tajam mengenai fenomena "hamba uang". Seseorang yang jiwanya telah menjadi "hamba uang" akan senantiasa mengalami ketidakpuasan batin. Kekayaan materi yang berlimpah justru membuat lidah mereka makin lincah dalam urusan duniawi, namun tumpul dalam urusan akhirat. Kemerdekaan batin hanya akan tercapai manakala harta benda berada di genggaman tangan, bukan berkuasa di dalam hati.
Kepasrahan dan Keteguhan: Belajar Bersyukur Tanpa Batas
Ustadz Sopyan mengaitkan hal ini dengan pandangan Imam Al-Ghazali mengenai tingkatan iman tertinggi manusia. Menurut Imam Al-Ghazali, keluhuran iman seorang hamba justru tampak dari kemampuannya untuk tetap mengucapkan rasa syukur ketika menerima ujian dan musibah dari Allah. Logika tauhid memandang bahwa musibah yang menimpa seorang muslim berfungsi sebagai pelebur dosa dan penambah pahala; bahkan ketika kehilangan dompet sekalipun, rasa syukur tetap ada karena beban yang dibawa menjadi lebih ringan.
Keputusan dan takdir Allah selalu menyimpan kebaikan terbaik yang kerap tidak dipahami oleh logika dangkal manusia.
Baca Juga Artikel Terkait:
- Rahasia Bahagia dan Ridha Ilahi: Pentingnya Keseimbangan Antara Syukur dan Sabar
- Mensyukuri Kesempatan Hidup dengan Memperbanyak Amal Saleh
- Syukur Membuat Hati Bahagia dan Amal Lebih Mudah
Cemas Rezeki? Antara Kerja Keras dan Ketulusan Hati
Penyebab utama hilangnya rasa merdeka dalam batin manusia modern adalah ketakutan berlebih mengenai urusan rezeki. Mengutip muatan ajaran Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athailah As-Sakandari, Ustadz Sopyan mengkritik mindset manusia yang sering kali tidak rasional. Manusia rela pergi pagi pulang sore, memeras keringat, dan banting tulang hanya demi mencari rezeki yang sebetulnya telah dijamin secara mutlak oleh Allah SWT.
Islam tentu tidak melarang umatnya untuk berikhtiar dan bekerja. Tugas utama manusia di bumi adalah berikhtiar dan beribadah, bukan menetapkan keterjaminan kekayaan diri sendiri. Namun, timbul kekeliruan ketika manusia meyakini bahwa makin keras ia bekerja secara fisik, maka hasilnya pasti makin melimpah. Dalam kenyataannya, bekerja keras yang dipenuhi kecemasan dan keraguan teologis sering kali hanya mendatangkan hasil yang terbatas dan rasa lelah. Sebaliknya, orang yang bekerja dengan landasan ikhlas dan tawakal akan mendapatkan hasil serta keberkahan yang tak terbatas.
Ketidakpahaman akan konsep rezeki ini juga menimbulkan mentalitas membanding-bandingkan kehidupan (sawang-sinawang). Banyak orang merasa gelisah hanya karena melihat kendaraan mewah seperti mobil Alphard atau harta tetangganya. Padahal harta itu bukan miliknya dan justru kepemilikan harta tersebut bisa jadi malah membawa beban pikiran serta pajak yang tinggi. Harta duniawi pada hakikatnya hanyalah titipan bergantian yang tidak akan dibawa mati. Harta, rumah, bahkan pasangan hidup yang kita cintai saat ini kelak akan berpindah tangan dan dimanfaatkan oleh orang lain manakala ajal telah menjemput. Oleh karena itu, kecemasan materi adalah belenggu tirani yang harus dihancurkan melalui kebenaran tauhid.
Doa untuk Para Pemimpin
Pembahasan mengenai kemerdekaan dalam ajaran Islam tidak terbatas pada ranah kejiwaan individu, melainkan merambah pada dimensi keadilan sosial dan politik negara. Ustadz Sopyan menyinggung relasi penting antara rakyat dan para pejabat publik.
Di tengah kecenderungan masyarakat modern yang mudah mencaci maki dan menghujat para pejabat penguasa, Islam menawarkan pendekatan etis yang jauh lebih konstruktif. Ustadz Sopyan mengutip ucapan monumental dari ulama tabi'in kenamaan, Fudail bin Iyadh. Fudail bin Iyadh pernah menegaskan:
"Seandainya aku tahu bahwa aku memiliki satu doa yang pasti diijabah oleh Allah, niscaya doa itu akan aku gunakan seluruhnya untuk mendoakan para pemimpin, bukan untuk mendoakan diriku sendiri."
Ketika murid-muridnya bertanya mengenai alasan di balik pernyataan tersebut, Fudail bin Iyadh menjelaskan bahwa doa kebaikan yang dipanjatkan untuk diri sendiri manfaatnya hanya terbatas pada pribadi orang tersebut. Namun, jika doa kebaikan itu dikabulkan untuk seorang pemimpin, maka kesalehan, keadilan, dan hidayah yang diterima oleh pemimpin tersebut akan membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi seluruh rakyat dan negara. Oleh sebab itu, Umat Islam diajarkan untuk tidak pernah berhenti mendoakan para pemimpin bangsa agar dianugerahi hidayah, sifat amanah, dan keadilan dalam menjalankan roda pemerintahan.
Teladan Model Kepemimpinan
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Sopyan juga menekankan bahwa esensi pimpinan dalam Islam adalah pelayan bagi pihak yang dipimpinnya. Keteladanan utama ditunjukkan oleh sahabat Nabi, Khalifah Umar bin Khattab RA. Dalam sebuah peristiwa terkenal, Umar rela mengangkut sendiri karung gandum di atas punggungnya untuk diberikan kepada sebuah keluarga janda yang anak-anaknya tengah kelaparan di pinggiran kota.
Saat pengawalnya menawarkan diri untuk memikul beban tersebut, Khalifah Umar menolak keras seraya bertanya apakah pengawalnya sanggup memikul beban dosa kepemimpinannya di hadapan Allah pada hari kiamat kelak. Model servant leadership inilah yang harus diresapi oleh para pejabat modern, dari kepala sekolah hingga kepala negara. Pemimpin yang merdeka adalah mereka yang tidak menjadikan jabatan sebagai alat minta dilayani, melainkan sebagai sarana pengabdian demi kesejahteraan rakyat.
Kesadaran Ekologis dan Budaya
Pesan penting berikutnya yang tertuang dalam kajian Ahad Pagi ini adalah tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan hidup sebagai wujud kesyukuran atas nikmat kemerdekaan tanah air. Bangsa Indonesia dilimpahi kekayaan alam yang amat berlimpah, mulai dari hutan kayu jati, nikel, batu bara, minyak bumi, hingga emas. Namun, pengolahan alam yang serakah tanpa memperhatikan kelestarian ekosistem dapat mengundang murka Allah.
Ustadz Sopyan memberikan analogi peringatan dari kisah Negeri Saba' yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Negeri Saba' pada mulanya adalah wilayah yang amat subur dan makmur, di mana hasil panen melimpah dan lingkungan sangat bersih. Akan tetapi, ketika penduduknya kufur terhadap nikmat Allah dan mengeksploitasi alam tanpa memedulikan amal kebaikan, Allah mencabut kenikmatan tersebut dan menggantinya dengan "pakaian" kelaparan serta ketakutan.
Otokritik juga disampaikan terhadap kondisi lingkungan lokal di wilayah Blora dan Cepu. Hutan-hutan jati yang dulunya rindang kini banyak mengalami pembalakan hingga tersisa tunggak-nya, sementara sungai-sungai tercemar limbah. Ustadz Sopyan membandingkan kesadaran ekologis ini dengan tradisi masyarakat di Bali yang sangat merawat tanaman. Meskipun mayoritas penduduk Bali bukan muslim, mereka memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga pohon agar tetap rindang dan tidak ditebang secara destruktif.
Selain aspek ekologis, keprihatinan budaya juga disuarakan terkait maraknya perayaan Karnaval Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI di akar rumput. Banyak anak-anak muda dan peserta karnaval yang sibuk merias diri dengan gaun dan tata rias tebal sejak sebelum waktu Subuh. Akibat khawatir merusak riasan atau terkendala rute peragaan, tidak sedikit di antara mereka yang berani meninggalkan ibadah salat Fardu. Fenomena ini menjadi fakta menyedihkan di mana pesta peringatan kemerdekaan justru menggugurkan kemerdekaan paling mendasar seorang muslim, yaitu kebebasan dan kepatuhan dalam beribadah kepada Allah.
Pemurnian Pemahaman Syariat: Menghidupkan Tradisi Ilmiah
Kemerdekaan berpikir dan berakidah menuntut Umat Islam untuk tidak terjebak dalam tradisi keagamaan yang semata-mata bersifat ikutan tanpa dasar dalil yang jelas. Syarat utama seorang muslim untuk dapat melangkah menuju surga adalah keimanan yang lurus, sementara untuk menikmati keindahan fasilitas surga diperlukan amal saleh yang sesuai petunjuk syariat.
Ustadz Sopyan menguraikan konsep al-mautu tuhfatul mukmin, yaitu kematian pada hakikatnya merupakan hadiah dan sarana rehat yang indah bagi orang-orang beriman. Di dalam alam barzakh, orang beriman yang beramal saleh akan memperoleh nikmat kubur yang menjadikannya betah dan tidak ingin kembali ke dunia.
Dalam konteks amaliyah keagamaan, Ustadz Sopyan mengajak umat untuk mengkaji secara langsung kitab-kitab induk ulama mazhab, seperti Kitab Al-Umm karangan Imam Syafi'i. Banyak orang mengaku sebagai pengikut Mazhab Syafi'i, namun belum pernah membaca pemikiran asli Imam Syafi'i dalam Kitab Al-Umm mengenai hakikat Al-Qur'an yang diturunkan untuk memberikan peringatan bagi manusia yang masih hidup (li yundzira man kaana hayyan). Pemurnian pemahaman ini sangat penting agar masyarakat tidak beragama secara formalistik semata, melainkan didasari oleh pemahaman literatur yang mumpuni.
Prinsip istiqamah dalam beribadah juga ditekankan melalui hadis Rasulullah SAW: ahabbul 'amali ilallah adwamuhu wa in qalla, bahwa amal ibadah yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang dikerjakan secara terus-menerus (konsisten) meskipun jumlahnya sedikit. Ustadz Sopyan turut menyoroti ironi sosial di mana bangunan tempat ibadah atau masjid sering kali dimatikan penerangannya saat malam hari, sementara kawasan pemakaman justru diberi lampu penerangan 24 jam. Kemerdekaan ibadah sejati adalah ketika masjid-masjid Allah senantiasa dihidupkan, makmur, dan menjadi pusat peradaban batin bagi masyarakat di sekitarnya.
Merajut Kemerdekaan Sejati dalam Dekapan Tauhid
- Kemerdekaan Ibadah: Bebas dari ketakutan dan halangan sosial dalam menjalankan perintah Allah secara istiqamah, serta senantiasa menghidupkan majelis ilmu dan masjid sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
- Kemerdekaan Sosial dan Politik: Terwujudnya tata kelola kepemimpinan yang berkesadaran sebagaimana keteladanan Khalifah Umar bin Khattab RA, yang diimbangi dengan kepedulian rakyat untuk mendoakan kebaikan para pemimpinnya.
- Kemerdekaan Kehidupan Sehari-hari: Bebas dari belenggu hawa nafsu, penyakit wahn (cinta dunia berlebihan), serta kecemasan rezeki, dengan menyadari sepenuhnya bahwa setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya (lahaa maa kasabat wa 'alaihaa mak tasabat).
Dengan merawat kesadaran tauhid, menjaga kelestarian alam ciptaan-Nya, serta memurnikan amaliyah sesuai syariat yang shahih, umat Islam akan mampu tampil sebagai pribadi-pribadi yang merdeka secara sejati, jiwa yang tenang, batin yang lapang, serta meraih kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat.

0Comments