Kepercayaan sebagian masyarakat terhadap mitos bulan Suro sebagai bulan sial mendapat sorotan tajam pada Kajian Umum Kuliah Ahad Pagi di Masjid Al-Hikmah Cepu edisi 21 Juni 2026.
Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Ustadz H. Muhammad Al Amin, S.Kom., M.Pd. yang menyayangkan fenomena di mana masyarakat memilih menunda urusan penting hanya karena ketakutan yang tidak rasional.
"Islam tidak pernah mengenal adanya bulan sial atau hari pembawa malapetaka. Mengambinghitamkan bulan Suro sama saja dengan mencela ketetapan dan kekuasaan Sang Pencipta," ujar Ustadz H. Muhammad Al Amin, S.Kom., M.Pd. kepada jemaah yang hadir.
Fenomena KUA Nihil Pendaftar dan Penjualan Otomotif Anjlok
Menurut Ustadz Al Amin, mitos seputar bulan Suro bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan sudah menjadi fenomena sosial yang merugikan baik secara sosial maupun ekonomi. Data menunjukkan penurunan drastis pada angka pendaftaran pernikahan di KUA sepanjang bulan Suro. Bahkan, tidak jarang jumlah pendaftar menyentuh angka nihil dalam satu bulan penuh.
Banyak calon pengantin sengaja menghindari bulan ini karena takut rumah tangga mereka dirundung nasib buruk. Mereka khawatir kehidupan pernikahan akan dipenuhi konflik atau berakhir dengan perceraian tragis. Ketakutan yang tidak berdasar ini akhirnya menghentikan rencana sakral banyak pasangan.
Dampak negatif dari mitos budaya ini juga merembet ke sektor ekonomi lokal. Pengusaha dealer sepeda motor, misalnya, kerap mengeluhkan penurunan omzet musiman yang cukup tajam saat memasuki bulan Suro.
Masyarakat merasa khawatir jika kendaraan yang dibeli pada bulan Suro akan sering mengalami kecelakaan atau membawa sial bagi pemiliknya.
"Urusan jodoh, keselamatan, rezeki, dan usaha harus disandarkan sepenuhnya pada kemurnian akidah Islam, bukan ramalan primbon," ujar Ustadz Al Amin menekankan pentingnya menjaga kemurnian tauhid.
Muharram Adalah Bulan Mulia, Bukan Pembawa Sial
Ustadz Al Amin meluruskan kekeliruan berpikir tersebut dengan memaparkan kedudukan bulan Muharram dalam Islam. Beliau menjelaskan bahwa dalam kalender Hijriah, Suro atau Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang sangat mulia.
Pada bulan mulia ini, umat Islam justru dilarang keras untuk berbuat zalim dan aniaya. Sebaliknya, setiap muslim sangat dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal saleh. Hal itu karena Allah SWT akan melipatgandakan pahala dari setiap kebaikan yang dilakukan di bulan ini.
Sungguh menjadi hal yang ironis ketika bulan penuh berkah dan kemuliaan justru dijauhi oleh sebagian masyarakat. Anggapan bahwa bulan Muharram membawa kesialan merupakan kekeliruan nyata yang bertolak belakang dengan syariat Islam.
Bahaya Teologis Mencela Waktu
Lebih lanjut, Ustadz Al Amin mengungkapkan adanya bahaya teologis yang sangat besar di balik kebiasaan buruk mengambinghitamkan waktu. Beliau mengangkat landasan dalil yang bersumber dari sebuah Hadis Qudsi sahih yang wajib dipahami oleh setiap Muslim.
Dalam hadis tersebut, Allah SWT menegaskan bahwa manusia telah menyakiti-Nya ketika mereka berani mencela waktu. Larangan ini mencakup kebiasaan menyematkan predikat sial pada bulan-bulan tertentu seperti Suro. Secara akidah, Allah-lah Sang Pengatur tunggal atas seluruh waktu, pergantian malam, serta siang di alam semesta.
"Dalam Hadis Qudsi, Allah menegaskan bahwa anak Adam telah menyakiti-Nya karena mereka mencela waktu. Padahal, Allahlah yang memutar malam dan siang serta mengendalikan seluruh takdir makhluk di muka bumi," ujar Ustadz Al Amin.
Oleh karena itu, menganggap suatu bulan sebagai pembawa malapetaka secara tidak langsung telah mempertanyakan otoritas takdir Allah. Tindakan tersebut dapat merusak fondasi keimanan seorang Muslim karena menyekutukan kekuasaan Allah dengan hitungan kalender.
Memutus Rantai Mitos dengan Pola Pikir Produktif
Ustadz Al Amin mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berani memutus rantai keyakinan terhadap mitos ini. Edukasi umat dinilai menjadi kunci utama agar masyarakat terbebas dari belenggu ketakutan tidak logis yang diwariskan secara turun-temurun.
Umat Islam diminta untuk mengubah pola pikir lama menjadi pola pikir yang lebih produktif dan penuh optimisme. Momentum pergantian tahun baru Hijriah harus dijadikan motivasi untuk menggenjot aktivitas positif, baik dalam urusan ibadah maupun pekerjaan sehari-hari.
"Sebagai solusinya, masyarakat perlu mengubah pola pikir menjadi produktif. Aktivitas ekonomi, perdagangan, transaksi bisnis, serta hajatan pernikahan harus tetap berjalan normal tanpa bayang-bayang ketakutan," ujar Ustadz Al Amin sebagai penutup khotbahnya.
Dengan kemurnian akidah dan pemahaman agama yang benar, masyarakat diharapkan tidak lagi ragu untuk melaksanakan kegiatan produktif di bulan Suro. Roda ekonomi dan urusan sosial umat Muslim harus tetap bergerak maju demi mencapai kemaslahatan bersama.
0Comments