BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Kajian Tarjih PRM Nglanjuk: Apakah Manusia Bisa Hidup Kembali?

Kajian Tarjih PRM Nglanjuk: Apakah Manusia Bisa Hidup Kembali?

Table of contents
×

Bagi para pencinta drama Korea (drakor) atau drama Asia lainnya, tema reinkarnasi tentu sudah tidak asing lagi. Sutradara sering kali mengisahkan tokoh utama yang mati lalu hidup kembali di lini masa berbeda. Mereka juga kadang menjelma menjadi sosok baru dengan ingatan masa lalu yang tetap utuh. Alur cerita fiksi seperti ini selalu sukses memikat emosi penonton dan menjadi tren populer di media sosial.

Namun, bagaimana Islam memandang fenomena hidup setelah kematian yang sering muncul di layar kaca ini? Kajian Tarjih PRM Nglanjuk episode 18 Juni 2026 yang lalu membedah perbedaan mendasar antara mitos reinkarnasi dalam pop kultur dengan konsep keimanan hakiki Muslim. Umat Islam mengenal konsep kebangkitan yang sejati dengan sebutan Yaumul Ba'ats.

Tren Cerita Reinkarnasi dalam Pop Kultur l
Saat ini, industri hiburan Asia memang sedang gencar memproduksi narasi kehidupan kedua. Fenomena drakor hingga drama Cina banyak sekali mengangkat cerita bertema reinkarnasi sebagai daya tarik fiksi utama mereka. Tokoh yang menderita di masa lalu diberi kesempatan untuk memperbaiki takdirnya di masa depan.

Fantasi romantis dan kisah balas dendam ini dikemas begitu rapi. Akibatnya, banyak penonton muda larut dan hanyut dalam imajinasi tersebut. Kisah cinta lintas waktu selalu berhasil merajai tangga popularitas tontonan hari ini. Hal ini kemudian memicu diskusi hangat di kalangan netizen mengenai eksistensi hidup setelah mati. Oleh karena itu, kita perlu menyaring tren pop kultur ini dengan kacamata akidah yang benar.

Antara Mitos dan Penolakan tentang Hari Akhir
Kepercayaan tentang jiwa yang berpindah ke wujud makhluk lain sebenarnya lahir dari sebuah tradisi tertentu. Keberadaan mitos reinkarnasi ini sejalan dengan cara berpikir orang-orang yang tidak beriman kepada Allah. Orang-orang kafir pada dasarnya tidak meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan kembali oleh Allah setelah mati.

Bagi mereka, kematian adalah akhir dari segalanya, atau justru awal dari siklus perputaran fisik yang baru. Mereka menganggap kehidupan dunia ini berjalan begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban kelak. Jika pun mereka memercayai konsep hidup lagi, wujudnya adalah reinkarnasi menjadi manusia lain atau hewan. Pandangan inilah yang kemudian banyak diadopsi menjadi komoditas cerita fiksi dalam drama-drama populer modern.

Konsep Yaumul Ba'ats: Kebangkitan Hakiki dalam Islam
Islam memberikan penjelasan yang sangat tegas, mutlak, dan rasional mengenai fase setelah kematian. Setiap umat Islam wajib mengimani Hari Akhir (Yaumul Akhir) beserta seluruh peristiwa teologis di dalamnya. Salah satu pilar keimanan yang krusial adalah memercayai adanya hari kebangkitan atau Yaumul Ba'ats. Islam menegaskan bahwa manusia sama sekali tidak akan bereinkarnasi menjadi sosok baru di dunia ini.

Setelah kematian menjemput, setiap jiwa akan menetap di alam barzakh hingga hari kiamat tiba. Manusia kelak akan Allah bangunkan dari tempat tidurnya atau kuburnya. Kita akan bangkit dengan tubuh dan identitas yang sama untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan masa lalu. Tidak ada kesempatan kedua untuk memperbaiki diri di bumi seperti kisah-kisah fiksi di drakor.

Dahsyatnya Hari Akhir Saat Semua Manusia Terbangun
Kajian Tarjih PRM Nglanjuk juga mendiskusikan tentang bagaimana Al-Qur'an menggambarkan kengerian momen kebangkitan tersebut. Ketika Hari Akhir tiba, Allah akan menggoncangkan bumi dengan guncangan yang sangat hebat. Kehancuran alam semesta ini menandai berakhirnya dunia dan mulainya fase akhirat yang kekal.

Saking dahsyatnya peristiwa tersebut, gunung-gunung yang kokoh akan hancur dan beterbangan seperti kapas ditiup angin. Seluruh manusia dari zaman Nabi Adam hingga manusia terakhir akan terbangun dalam kondisi penuh kecemasan. Pesan visual dari Allah ini tentu jauh lebih megah dan menggetarkan hati daripada efek visual komputer (CGI) dalam drama fiksi mana pun.


Daripada sekadar terhanyut dalam imajinasi fiksi drakor tentang kesempatan hidup kedua lewat reinkarnasi, Islam mengajarkan realitas yang lebih penting. Dunia ini adalah satu-satunya ladang tempat bagi kita untuk menanam amal salih. Tidak ada sistem "mengulang hidup" dari nol jika kita gagal di dunia ini. Maka, mari kita persiapkan bekal terbaik kita dari sekarang demi menghadapi Hari Kebangkitan yang sesungguhnya.

0Comments