Pergantian Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sering kali kita lalui sebatas ritual kalender semata. Banyak umat muslim terjebak pada kemeriahan fisik, tanpa meresapi esensi spiritual yang terkandung di dalamnya. Padahal, momen hijrah menyimpan cetak biru yang komprehensif untuk mengubah kualitas hidup manusia secara total. Jika kita selami lebih dalam, hijrah adalah momentum emas untuk memperbaiki hubungan kita dengan Sang Pencipta dan sesama manusia.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu, Ustadz H. Mokh. Fathoni, MM., mengupas tuntas bekal-bekal spiritual ini. Dalam pengajian rutin di Masjid TK ABA 1, Balun Srikaton Gang 1 pada 18 Juni 2026 yang lalu, beliau mengajak jamaah melakukan refleksi batin yang mendalam. Beliau menyampaikan bahwa kunci utama untuk membuka pintu kebahagiaan di tahun yang baru tertuang dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 218. Ayat suci tersebut merangkum tiga pilar utama kehidupan: iman, hijrah, dan jihad.
Tiga Pilar Utama dalam Surah Al-Baqarah 218
Ustadz Fathoni menjelaskan bahwa ketiga pilar tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak boleh terpisah. Fondasi pertamanya adalah iman yang kokoh di dalam dada. Tanpa keimanan yang lurus, segala bentuk amal perbuatan manusia akan kehilangan nilai spiritualnya di hadapan Allah SWT. Iman menjadi motor penggerak utama bagi setiap muslim untuk berani melangkah ke arah yang lebih baik.
Pilar kedua adalah hijrah, yang berarti berpindah atau bermigrasi menuju kebaikan. Dalam konteks modern, makna hijrah dan jihad tidak selalu berwujud perpindahan fisik antarkota atau peperangan bersenjata. Hijrah sejati adalah komitmen kuat untuk meninggalkan segala bentuk kebiasaan buruk, kemaksiatan, serta kemalasan batin. Kita harus bergegas menuju ketaatan, produktivitas, serta kesalehan sosial yang lebih tinggi di lingkungan tempat tinggal kita.
Sedangkan pilar ketiga adalah jihad, yaitu perjuangan yang sungguh-sungguh dan konsisten di jalan Allah. Jihad dalam kehidupan sehari-hari mewujud dalam bentuk kesabaran mengendalikan hawa nafsu, kedisiplinan beribadah, serta kedermawanan sosial. Seseorang yang berhasil menyatukan iman, hijrah, dan jihad dalam kesehariannya secara otomatis sedang berjalan untuk menggapai rahmat Allah yang melimpah.
Mengubah Kegelapan Menjadi Cahaya Ampunan
Sebagai manusia biasa, kita tentu tidak pernah luput dari kekeliruan selama satu tahun ke belakang. Ustadz Fathoni mengingatkan jemaah agar tidak berkecil hati atau berputus asa dari ampunan-Nya. Beliau menegaskan bahwa Allah SWT senantiasa membuka pintu maghfirah yang sangat luas bagi hamba-hamba-Nya yang tulus memperbaiki diri.
"Artinya apa, Bapak, Ibu? Berarti apa yang kita lakukan itu banyak kekeliruannya, banyak salah benar tapi mungkin ada yang salah. Tapi percaya Allah akan mengampuni karena itu hanya Allah," ungkap Ustadz Fathoni dengan penuh keteduhan. Beliau menambahkan bahwa ketika Allah sudah mencintai hamba-Nya, maka perlindungan mutlak akan menyertai setiap embusan napas hidup hamba tersebut.
Spiritualitas yang matang akan mengubah orientasi hidup seseorang secara drastis. Allah akan menuntun manusia keluar dari kegelapan ego menuju cahaya kebenaran yang benderang. Sebaliknya, orang yang enggan berhijrah dan justru mengkufuri nikmat akan terjerembab ke dalam kegelapan batin yang menyengsarakan. Momen Tahun Baru Islam 1448 H ini menjadi waktu paling tepat untuk membersihkan hati dari noda masa lalu.
Harapan untuk Kedamaian Bangsa
Refleksi spiritual yang diajarkan dalam Islam tidak pernah berhenti pada kesalehan individu belaka. Nilai-nilai luhur yang tertanam kuat dalam diri umat harus menjelma menjadi ketenteraman sosial di tengah kehidupan bermasyarakat. Ustadz Fathoni mengajak seluruh jemaah untuk memperluas cakupan doa mereka di awal tahun baru ini, terutama demi keselamatan seluruh rakyat Indonesia.
Beliau berharap agar dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara dapat berjalan dengan penuh kedamaian serta keharmonisan.
"Mudah-mudahan di awal tahun hijriah ini, pikiran kita dan hati kita terbuka untuk menatap satu tahun yang akan datang," harap beliau.
Suasana pengajian menyambut Tahun Baru Islam 1448 H tersebut ditutup dengan pengharapan yang menyentuh. Harapan agar masyarakat Indonesia bisa hidup makmur, sehat, aman, dan tenteram tanpa didera penderitaan. Kesalehan kolektif yang lahir dari aktivitas memakmurkan masjid diyakini mampu menjadi modal utama bagi kemajuan peradaban bangsa.
Pada akhirnya, menyambut pergantian tahun hijriah adalah tentang berani mengambil keputusan untuk berubah. Pelajaran berharga dari Surah Al-Baqarah ayat 218 ini memberikan panduan praktis bagi kita semua. Rahmat Allah bukanlah sesuatu yang ditunggu secara pasif, melainkan harus dijemput melalui pembuktian iman, aksi nyata hijrah, dan konsistensi jihad.
Mari jadikan tahun baru ini sebagai lembaran bersih untuk mengukir kontribusi terbaik bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Dengan hati yang lapang dan pikiran yang terbuka, kita melangkah optimistis menyongsong masa depan yang lebih berkah.
0Comments