Momen pergantian Tahun Baru Hijriah 1448 H membawa pesan perubahan yang mendalam bagi seluruh umat Muslim. Di zaman modern seperti sekarang, esensi hijrah tentu tidak lagi sekadar berpindah tempat secara fisik dari satu daerah ke daerah lain. Tantangan terbesar yang sesungguhnya kini justru berada di dalam genggaman tangan kita masing-masing, yaitu gawai atau handphone (HP).
Arus informasi media sosial yang datang tanpa henti kerap menjebak kita dalam aktivitas scrolling yang melelahkan hingga melalaikan waktu ibadah. Menanggapi fenomena digital tersebut, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu, Ustadz H. Mokh. Fathoni, MM., memberikan refleksi penting dalam kajian di Masjid TK ABA 1 Balun Srikaton Gang 1. Beliau mengingatkan jemaah bahwa gawai di tangan kita bisa menjadi sarana penguat iman atau justru sebaliknya, tergantung dari bagaimana cara kita memilih konten.
Menjaga Iman di Balik Layar Gawai
Dunia digital saat ini menawarkan kebebasan tanpa batas bagi para penggunanya. Namun, di balik segala kemudahan tersebut, ada risiko spiritual yang cukup besar bagi umat Islam. Menurut Ustadz Fathoni, HP memuat potensi luar biasa yang bisa memengaruhi kualitas keimanan seseorang secara langsung.
Beliau menyoroti bahwa HP bisa menjadi penentu unsur keimanan kita. Jika layar gawai lebih sering kita gunakan untuk melihat hal-hal negatif atau sekadar membuang waktu dengan tontonan yang tidak bermanfaat, maka keimanan kita perlahan-lahan akan ikut terkikis.
Langkah utama dalam melakukan hijrah digital adalah dengan menerapkan penyaringan informasi yang ketat. Kita harus memiliki kesadaran penuh untuk membatasi diri dari ekosistem digital yang melalaikan, demi menjaga ketenangan jiwa dan kekhusyukan ibadah sehari-hari.
Bahaya "Mengaji Dangkal" dan Solusi Pustaka Digital
Fenomena lain yang disoroti dalam pengajian tersebut adalah kecenderungan masyarakat untuk mempelajari agama secara instan melalui potongan video pendek di internet. Ustadz Fathoni memberikan peringatan keras agar jemaah tidak terjebak ke dalam kebiasaan "mengaji lewat HP" secara dangkal tanpa kejelasan sumber keilmuannya. Belajar agama secara asal-asalan dari internet tanpa rujukan yang tepercaya berisiko memicu kesalahpahaman yang merusak pemahaman keagamaan.
Sebagai jalan keluar, beliau mengajak umat Islam untuk memanfaatkan gawai mereka guna mengakses platform edukasi Islam yang resmi dan terverifikasi. Ustadz Fathoni menjelaskan bahwa di dalam HP sebetulnya sudah tersedia Al-Qur'an dan hadis. Beliau memberikan contoh kepada jemaah untuk membuka mesin pencari Google, lalu mengakses platform milik persyarikatan, seperti website PCM Cepu.
Melalui platform digital tersebut, pengguna gawai dapat menemukan berbagai fitur keagamaan yang sangat kaya. Salah satunya adalah menu perpustakaan digital. Melalui fitur pustaka digital ini, jemaah cukup mengeklik layar untuk membaca berbagai literatur keislaman yang sahih dan mendalam. Dengan cara ini, gawai benar-benar beralih fungsi menjadi sarana menuntut ilmu yang produktif dan mendatangkan pahala.
Jihad Modern Generasi Muda
Tantangan pengelolaan gawai ini tidak hanya berlaku bagi orang dewasa, melainkan juga menyasar anak-anak dan remaja. Jika pada masa lalu perjuangan atau jihad diidentikkan dengan konfrontasi fisik, maka di era kemajuan teknologi informasi ini, makna jihad telah bertransformasi ke ranah intelektual dan spiritual.
Ustadz Fathoni menegaskan bahwa generasi muda saat ini memiliki medan jihadnya sendiri yang tidak kalah berat. Wujud nyata dari jihad modern bagi para pelajar adalah kesungguhan serta kerajinan dalam menuntut ilmu, baik saat berada di lingkungan sekolah maupun ketika belajar di rumah.
Di samping itu, tantangan terbesar yang harus mereka taklukkan adalah godaan online game yang kerap menyita waktu produktif. Melatih disiplin diri untuk membatasi waktu bermain gawai merupakan bentuk perjuangan nyata di hadapan Allah SWT. Ketika generasi muda mampu mengendalikan diri demi masa depan dan ibadah, di sanalah rahmat dan rida Allah akan mengalir dalam kehidupan mereka.
Pada akhirnya, gawai hanyalah sebuah alat atau instrumen teknologi. Penggunanyalah yang memegang kendali penuh apakah teknologi ini akan membawa mereka mendekat kepada rahmat Allah atau justru menjauhkan dari cahaya-Nya.
Mari kita jadikan momentum Tahun Baru Hijriah 1448 H ini sebagai langkah awal untuk melakukan pembersihan digital (digital detox) dari kebiasaan-kebiasaan yang tidak bermanfaat. Mari kita jemput rahmat Allah SWT melalui bijaknya jemari kita mengoperasikan gawai.
0Comments