BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Kajian Ahad Pagi: Mengamalkan Al-Qur'an Menjadi Gerakan Nyata

Kajian Ahad Pagi: Mengamalkan Al-Qur'an Menjadi Gerakan Nyata

Dalam Kajian Ahad Pagi PCM Cepu, Ustadz Ahmad Furqony mengajak umat mengamalkan Al-Qur'an menjadi aksi nyata dan gerakan sosial.
Table of contents
×
Ustadz Ahmad Furqony menyampaikan ceramah Kajian Ahad Pagi PCM Cepu di Masjid Al-Hikmah
Ustadz Ahmad Furqony, M.Pd.I. menyampaikan materi tentang pengamalan Al-Qur'an menjadi gerakan nyata dalam Kajian Umum Kuliah Ahad Pagi di Masjid Al-Hikmah, Komplek Muhammadiyah Cepu.

Membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an di dalam masjid kerap kali berhenti pada penderesan teks dan pemenuhan ritual lisan semata. Hal inilah yang menjadi sorotan utama Ustadz Ahmad Furqony, M.Pd.I., dalam Kajian Umum Kuliah Ahad Pagi yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi PCM Cepu di Masjid Al-Hikmah, Komplek Muhammadiyah Cepu.

Dalam pemaparannya, Ustadz Furqony menekankan bahwa Al-Qur'an tidak diturunkan sekadar untuk dibaca dan dihafal tanpa meninggalkan jejak perubahan sosial di tengah masyarakat. Beliau mengajak jamaah untuk menghidupkan kembali konsep memperbarui persahabatan dengan Al-Qur'an, yang menuntut umat Islam menjadikan wahyu sebagai motor penggerak aksi nyata. Tadabbur Al-Qur'an yang autentik harus melampaui lisan dan terwujud dalam gerakan sosial, kemanusiaan, serta lembaga pemberdayaan masyarakat sebagaimana yang diteladankan melalui Surah Al-Ma'un.

Pencerahan dari Kajian: Manifestasi Surah Al-Ma'un dalam Aksi Nyata

Dalam forum kajian tersebut, Ustadz Furqony mengangkat rekam jejak persyarikatan Muhammadiyah sebagai contoh konkret pembumian wahyu. Beliau menjelaskan bahwa sejak berdirinya, Muhammadiyah telah menunjukkan bentuk persahabatan dengan Al-Qur'an yang canggih dan aplikatif. Mengaji sebuah ayat dan surat dalam persyarikatan tidak dibiarkan berhenti pada penderesan teks, melainkan diiringi dengan pendalaman dan tadabur intensif yang berorientasi pada pengamalan.

Ustadz Furqony mencontohkan bagaimana pembacaan atas Surah Al-Ma'un diresapi lalu diterjemahkan secara langsung ke dalam kerja-kerja kemanusiaan. Dari tadabbur Surah Al-Ma'un inilah lahir panti asuhan, sekolah, hingga lembaga pelayanan kesehatan yang hingga kini menolong banyak lapisan masyarakat. Pencerahan dari kajian ini menegaskan bahwa pembacaan Al-Qur'an yang benar adalah pembacaan yang melahirkan daya ubah sosial dan membela kaum yang membutuhkan.

Janji Keberkahan Bagi yang Sibuk dengan Urusan Allah

Di hadapan jamaah Masjid Al-Hikmah Cepu, Ustadz Furqony juga menyampaikan landasan spiritual dari aksi nyata ini, yakni menyibukkan diri dengan Al-Qur'an dan urusan Allah. Beliau mengutip riwayat bahwa barang siapa yang disibukkan oleh Al-Qur'an dan urusan-Nya, Allah akan menganugerahkan kepadanya hal yang jauh lebih baik daripada apa yang diberikan kepada orang-orang yang sekadar memohon.

Ustadz Furqony menggarisbawahi bahwa ketika suatu komunitas atau organisasi memfokuskan energinya untuk membumikan firman Allah di tengah masyarakat, keberkahan akan menyertai setiap langkahnya. Gerakan yang berawal dari keikhlasan dan ketulusan, meski dengan modal finansial yang terbatas, akan berkembang pesat menjadi aset kemanfaatan yang luar biasa karena didasari niat lillah demi kemaslahatan bersama. Kesibukan menjalankan nilai-nilai Al-Qur'an tidak pernah mendatangkan kerugian, melainkan menjadi perniagaan spiritual yang diliputi pertolongan Allah.

Dari Ritual Pasif Menuju Kesalehan Aktif

Poin penting lain yang disampaikan dalam kajian tersebut adalah ajakan untuk mengikis pandangan sempit yang menganggap kesalehan cukup diukur dari ibadah ritual pribadi belaka. Ustadz Furqony mengingatkan pesan Rasulullah mengenai pentingnya memiliki sikap nasihah, yaitu ketulusan, kebersihan niat, dan keikhlasan, terhadap Allah, Al-Qur'an, Rasul, para pimpinan, hingga masyarakat luas.

Menurut Ustadz Furqony, ketulusan terhadap Al-Qur'an memerlukan kesadaran sosial yang diwujudkan melalui infak, sedekah, dan pelayanan publik. Beliau mengingatkan agar umat tidak merasa cukup dengan ibadah pribadi sementara abai terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Mengamalkan Al-Qur'an berarti siap mengalokasikan waktu, pikiran, dan sumber daya untuk hadir memberikan solusi atas masalah riil yang dihadapi masyarakat.


Kajian Ahad Pagi yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi PCM Cepu ini memberikan pesan kuat bahwa kekuatan Al-Qur'an baru akan dirasakan manfaatnya secara luas apabila nilai-nilai di dalamnya diwujudkan menjadi aksi nyata dan lembaga sosial yang hidup.

Melalui pemaparan Ustadz Furqony, jamaah diajak untuk memperbarui komitmen mereka dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an. Mari ubah setiap proses pendarasan dan tadabur ayat menjadi langkah konkret yang menebar maslahat di lingkungan masing-masing. Dengan demikian, Al-Qur'an tidak hanya menggema di pengeras suara masjid, tetapi benar-benar hadir sebagai rahmat yang membebaskan, memberdayakan, dan memuliakan kehidupan masyarakat.

0Comments