BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
'Book Party' Gaya Nongkrong Siswa SMK Muhammadiyah 2 Cepu

'Book Party' Gaya Nongkrong Siswa SMK Muhammadiyah 2 Cepu

Tren book party merambah Cepu! PR IPM dan HW SMK Muhammadiyah 2 Cepu selenggarakan diskusi literasi bersama Founder Kolektif Hysteria.
Table of contents
×

Suasana kedai kopi kini tak lagi sekadar bising oleh obrolan kosong atau deretan gawai yang menyala di atas meja. Di sudut Pindah Ngopi Collective Space, Balun Sudagaran 2/VII, Balun, Cepu, Blora, Selasa (08/09/2026) siang, sekelompok anak muda tampak memegang buku bacaan masing-masing.

Pemandangan tersebut merupakan bagian dari perhelatan diskusi bertajuk "Literasi Untuk Aksi" yang digelar dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional. Acara ini diinisiasi oleh Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) dan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan SMK Muhammadiyah 2 Cepu. Dipandu oleh Assyifa Luthfi AR selaku Sekretaris Umum PR IPM SMK Muhammadiyah 2 Cepu, diskusi ini menghadirkan Yuswinardi, Founder Kolektif Hysteria & Kultur Jaringan, sebagai pembicara utama.

Di tengah gempuran disrupsi digital, acara ini berhasil memantik perbincangan hangat mengenai bagaimana literasi dapat dikemas ulang menjadi sebuah tren gaya hidup yang kasual, memikat, dan relevan dengan jiwa generasi muda masa kini.

Mengubah Wajah Perpustakaan Menjadi Ruang Kreatif Kolektif

Dalam pemaparannya, Yuswinardi menyoroti bagaimana pola pendekatan terhadap literasi konvensional sering kali menemui jalan buntu. Perpustakaan sekolah atau daerah yang kaku kerap kali gagal menarik minat kunjung siswa jika tidak diimbangi dengan terobosan kreatif.

"Nah, perpustakaan itu mungkin bisa mencoba beralih dengan acara dan kegiatan semacam ini yang berjalan konsisten," ungkap Yuswinardi di hadapan para pelajar yang memenuhi ruang diskusi. Ia mencontohkan bagaimana gerakan kreatif mampu menghidupkan kembali gairah membaca di berbagai daerah.

Salah satu model yang diangkat adalah fenomena book party, di mana kegiatan membaca tidak lagi dipandang sebagai kewajiban akademis yang membosankan, melainkan sebuah ruang temu sosial yang menyenangkan.

Anatomi Book Party: Buku, Cerita, hingga Estetika

Fenomena book party atau kegiatan membaca kolektif kini mulai menjamur tidak hanya di kota-kota metropolitan, tetapi juga merambah hingga tingkat kabupaten. Dalam praktiknya, anak-anak muda berkumpul di ruang publik seperti kedai kopi atau ruang kreatif dengan membawa buku bacaan pilihan mereka sendiri.

"Kita biasanya membaca, membawa buku bacaan sendiri, kemudian mereka menceritakan apa yang sudah dibaca," ujar Yuswinardi membedah mekanisme kegiatan tersebut.

Menariknya, aktivitas ini tidak berhenti pada kegiatan membaca dan bercerita saja. Elemen estetika visual turut melekat di dalamnya, di mana para peserta sering kali mendokumentasikan momen tersebut melalui foto-foto yang diunggah ke media sosial. Perpaduan antara hobi membaca, berbagi resensi singkat, dan atmosfer nongkrong di kedai kopi menciptakan sebuah citra diri yang segar.

"Hari ini kelihatannya model-model book party ini banyak tumbuh di kota-kota besar ya atau kota-kota kabupaten juga sudah banyak juga yang mengikut," tambahnya. Melalui tren ini, buku tidak lagi diposisikan sebagai benda antik yang berdebu di rak atau atribut akademik semata, melainkan bagian dari aksesori gaya hidup yang menaikkan citra personal seseorang.

Membangun Intelektualitas dari Kedai Kopi

Transformasi budaya literasi melalui book party membawa dampak psikologis yang positif bagi kalangan Gen Z. Membaca buku di ruang publik kini bertransformasi menjadi statement sosial.

"Jadi membaca buku adalah kegiatan menaikkan atau mungkin juga menambah nilai pribadi mereka gitu, dengan buku itu seolah-olah tetap intelektual sekaligus bisa sambil nongkrong dan ngopi," jelas Yuswinardi.

Konsep ini mematahkan stigma lama bahwa anak muda yang gemar nongkrong di kedai kopi identik dengan aktivitas yang kurang produktif. Dengan menyelipkan buku bacaan di antara secangkir kopi, ruang publik bertransformasi menjadi ruang diskursus mini yang hidup. 

Hal ini terbukti efektif menarik partisipasi aktif pelajar SMK Muhammadiyah 2 Cepu yang hadir di Pindah Ngopi Collective Space untuk berani maju, bertanya, dan menuangkan gagasan.

Diskusi Literasi Untuk Aksi dan fenomena Book Party di Pindah Ngopi Collective Space Cepu
Founder Kolektif Hysteria & Kultur Jaringan, Yuswinardi, dalam diskusi 'Literasi Untuk Aksi' yang diselenggarakan oleh PR IPM dan Hizbul Wathan SMK Muhammadiyah 2 Cepu di Pindah Ngopi Collective Space, Cepu.

Harapan Semangat Literasi untuk Terus Menyala di Cepu

Peran aktif dari Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) dan Hizbul Wathan membuktikan bahwa kesadaran literasi di tingkat akar rumput mampu digerakkan secara kolektif oleh para pelajar sendiri.

Dalam sesi penutupan, moderator acara menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya kegiatan yang bernas ini.

"Luar biasa sekali diskusi kita pada hari ini. Terima kasih banyak kepada Mas Yuswinardi yang sudah berbagi ilmu dan wawasan yang sangat berharga. Serta terima kasih untuk teman-teman IPM dan Hizbul Wathan atas partisipasi aktifnya. Semoga semangat Hari Literasi Internasional ini terus menyala dalam setiap langkah belajar dan berkarya kita," ujar Assyifa Luthfi AR menutup diskusi.


Melalui momentum Hari Literasi Internasional di Cepu ini, tersimpan sebuah pesan kuat bahwa literasi bukanlah sekadar urusan lembaran huruf di atas kertas atau tumpukan ijazah formal. Literasi adalah aksi nyata, dimulai dari membuka halaman pertama buku di atas meja kedai kopi, mendiskusikannya bersama kawan, dan merajut masa depan bangsa dengan nalar kritis yang merdeka.

0Comments