Cepu, 25 Juli 2026 – Suasana penuh kekhusyukan menyelimuti Aula SMK Muhammadiyah Cepu pada Sabtu (25/7/2026) saat peserta Baitul Arqam Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu mengikuti sesi Fathul Qulub (Membuka Hati) yang disampaikan oleh Ust. Nur Sahlul Mubarok, S.H.I., M.Pd. Materi ini menjadi sesi refleksi spiritual yang mengajak seluruh peserta untuk meluruskan niat, memperkuat keimanan, serta meneguhkan komitmen pengabdian kepada Allah SWT melalui Amal Usaha Muhammadiyah.
Mengawali penyampaiannya, Ust. Nur Sahlul Mubarok mengajak peserta merenungkan firman Allah SWT dalam QS. Az-Zumar ayat 22, yang menjelaskan tentang orang yang dilapangkan dadanya untuk menerima Islam sehingga memperoleh cahaya petunjuk dari Allah SWT. Beliau menegaskan bahwa hati yang terbuka merupakan pintu utama lahirnya keikhlasan, semangat beribadah, dan kesungguhan dalam menjalankan amanah di Persyarikatan.
Narasumber kemudian menjelaskan bahwa hati adalah pusat perubahan manusia. Mengutip hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, beliau mengingatkan bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging, yaitu hati. Apabila hati itu baik, maka baik pula seluruh perilaku manusia. Oleh karena itu, kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan sumber daya manusia, tetapi juga oleh kebersihan hati, kekuatan iman, keikhlasan, akhlak mulia, dan ketakwaan para penggeraknya.
Dalam sesi muhasabah, peserta diajak melakukan refleksi mendalam melalui pertanyaan, "Apakah saya bekerja karena Allah, atau demi penghargaan manusia?" Pertanyaan tersebut menjadi bahan renungan agar setiap insan Muhammadiyah senantiasa memperbaiki niat dan menjadikan seluruh aktivitas sebagai bentuk ibadah.
Ust. Nur Sahlul Mubarok juga mengulas berbagai penyakit hati yang dapat menghambat amal seseorang, di antaranya riya', yaitu bekerja demi pujian manusia; hasad, yakni tidak senang melihat keberhasilan orang lain; takabur, merasa diri paling benar dan menolak nasihat; serta hubbud dunya, menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan. Menurut beliau, penyakit-penyakit hati tersebut harus terus dilawan karena dapat mengurangi nilai keikhlasan dan merusak semangat dakwah.
Sebaliknya, beliau mengajak seluruh peserta untuk membangun keikhlasan sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5, yaitu beribadah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah SWT. Orang yang ikhlas akan tetap bekerja secara optimal meskipun tidak memperoleh pujian, menjaga amanah walaupun tanpa pengawasan pimpinan, serta terus memberikan manfaat kepada masyarakat tanpa mengharapkan balasan selain ridha Allah SWT.
Dalam pemaparannya, Ust. Nur Sahlul Mubarok menegaskan bahwa bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah harus dipahami sebagai perpaduan antara ibadah, dakwah, dan pengabdian. Setiap tugas yang dijalankan, baik sebagai guru, tenaga kesehatan, karyawan, maupun pengelola lembaga, memiliki nilai ibadah apabila diniatkan karena Allah SWT dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Beliau juga mengingatkan kembali semangat perjuangan KH. Ahmad Dahlan, bahwa warga Muhammadiyah hendaknya "Jangan mencari hidup di Muhammadiyah, tetapi hidup-hiduplah Muhammadiyah." Pesan tersebut mengandung makna bahwa kehadiran seseorang di Muhammadiyah bukan semata-mata untuk memperoleh keuntungan pribadi, melainkan untuk berjuang, berdakwah, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat melalui amal nyata.
Materi kemudian menyoroti peran strategis guru dan tenaga kesehatan Muhammadiyah sebagai mujahid amal. Guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga menjadi murabbi yang mendidik jiwa, muaddib yang membina adab, sekaligus teladan bagi peserta didik. Demikian pula tenaga kesehatan Muhammadiyah dituntut memberikan pelayanan yang profesional, penuh kasih sayang, serta menjadikan pelayanan kepada pasien sebagai bagian dari dakwah Islam yang berkemajuan.
Sebagai pedoman dalam menjalankan amanah di Persyarikatan, narasumber mengajak seluruh peserta mengamalkan lima komitmen Insan Muhammadiyah, yaitu ikhlas dalam setiap amal, amanah dalam menjalankan tugas, ihsan dengan memberikan pelayanan terbaik secara profesional, ukhuwah melalui saling menguatkan dalam Persyarikatan, serta istiqamah dalam menjaga konsistensi pengabdian kepada Allah SWT.
Menjelang akhir materi, peserta diajak melakukan muhasabah dengan merenungkan beberapa pertanyaan penting, di antaranya: Mengapa saya berada di Amal Usaha Muhammadiyah? Sudahkah setiap jam kerja saya bernilai ibadah? Apakah kehadiran saya telah menjadi solusi bagi umat? Dan apa kontribusi terbaik yang telah saya persembahkan untuk Persyarikatan? Renungan tersebut menjadi momentum untuk memperbarui niat sekaligus memperkuat komitmen dalam mengemban amanah.
Sebagai penutup, seluruh peserta bersama-sama memperteguh komitmen untuk bekerja dengan hati yang ikhlas, melayani secara profesional, memperjuangkan nilai-nilai Muhammadiyah, serta menjadikan setiap tugas sebagai jalan ibadah demi meraih ridha Allah SWT. Materi Fathul Qulub menjadi pengingat bahwa kekuatan Muhammadiyah tidak hanya dibangun melalui organisasi yang baik, tetapi juga melalui hati-hati yang bersih, ikhlas, dan siap mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT.
Penyampaian materi berlangsung dalam suasana penuh haru dan reflektif. Banyak peserta yang merasakan bahwa sesi ini menjadi momentum penyegaran ruhani setelah mengikuti berbagai materi organisasi dan keislaman sepanjang Baitul Arqam. Dengan terbukanya hati dan lurusnya niat, diharapkan seluruh peserta mampu menjadi kader Muhammadiyah yang tidak hanya unggul dalam kompetensi, tetapi juga memiliki spiritualitas yang kuat, akhlak yang mulia, serta komitmen tinggi dalam memajukan Persyarikatan dan melayani umat.

0Comments