BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Materi Ketiga Baitul Arqam PCM Cepu: Ust. Bambang Supriyono, S.Ag., S.Pd. Tegaskan Pentingnya Memahami Ibadah Mahdhah dan Nafilah Sesuai Tuntunan Rasulullah

Materi Ketiga Baitul Arqam PCM Cepu: Ust. Bambang Supriyono, S.Ag., S.Pd. Tegaskan Pentingnya Memahami Ibadah Mahdhah dan Nafilah Sesuai Tuntunan Rasulullah

Table of contents
×

Cepu, 25 Juli 2026 – Memasuki sesi ketiga Baitul Arqam Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai Ibadah Mahdhah dan Nafilah yang disampaikan oleh Ust. Bambang Supriyono, S.Ag., S.Pd. pada Sabtu (25/7/2026) di Aula SMK Muhammadiyah Cepu. Materi ini bertujuan memperkuat pemahaman kader Muhammadiyah agar mampu melaksanakan ibadah sesuai tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan penuh keikhlasan dan istiqamah.

Dalam penyampaiannya, Ust. Bambang Supriyono menjelaskan bahwa ibadah merupakan seluruh perkataan dan perbuatan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, yang dicintai dan diridhai Allah SWT. Oleh karena itu, seorang muslim tidak hanya dituntut memperbanyak amal, tetapi juga memastikan setiap ibadah dilaksanakan sesuai petunjuk syariat.

Beliau mengawali materi dengan mengulas pengertian ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang tata cara, waktu, tempat, syarat, rukun, dan ketentuannya telah ditetapkan secara langsung oleh Allah SWT dan Rasulullah ﷺ sehingga tidak boleh diubah, ditambah, ataupun dikurangi berdasarkan pendapat manusia. Kaidah yang menjadi landasan utama adalah "Al-ashlu fil 'ibadati at-tauqif", bahwa hukum asal dalam ibadah adalah menunggu ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya.

Peserta kemudian diajak memahami berbagai contoh ibadah mahdhah, seperti syahadat, shalat, puasa Ramadan, zakat, dan haji. Seluruh ibadah tersebut harus dilaksanakan sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ. Narasumber menegaskan bahwa seorang muslim tidak diperkenankan membuat tata cara baru dalam ibadah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat." Demikian pula pelaksanaan ibadah haji harus mengikuti manasik yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Pembahasan selanjutnya berfokus pada shalat lima waktu sebagai tiang agama dan kewajiban setiap muslim. Ust. Bambang Supriyono menjelaskan bahwa shalat memiliki waktu-waktu yang telah ditentukan oleh Allah SWT sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an. Selain menjadi kewajiban, shalat juga memiliki banyak keutamaan, di antaranya sebagai cahaya bagi seorang mukmin, penghapus dosa, serta sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga shalat karena meninggalkan kewajiban tersebut merupakan perkara yang sangat besar dalam Islam.

Dalam materi ini turut dijelaskan mengenai rukhsah (keringanan) dalam ibadah shalat bagi musafir, yaitu pelaksanaan shalat jamak dan qashar. Peserta memperoleh pemahaman mengenai dasar-dasar syariat, tata cara, serta kondisi yang membolehkan seseorang menjamak atau mengqashar shalat sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Selain ibadah mahdhah, narasumber juga membahas ibadah nafilah, yaitu berbagai amalan sunnah yang berfungsi sebagai penyempurna ibadah wajib sekaligus sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dijelaskan bahwa ibadah sunnah menjadi pelengkap kekurangan dalam ibadah fardu dan merupakan salah satu sebab seseorang memperoleh kecintaan Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi bahwa seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan-amalan sunnah hingga Allah mencintainya.

Berbagai bentuk ibadah nafilah dipaparkan kepada peserta, mulai dari shalat-shalat sunnah seperti tahajud, witir, dhuha, rawatib, istikharah, hingga puasa sunnah, sedekah, infak, wakaf, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bershalawat, serta memperbanyak doa dalam berbagai kesempatan.

Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian khusus adalah qiyamul lail atau menghidupkan malam dengan ibadah. Ust. Bambang Supriyono menjelaskan bahwa qiyamul lail merupakan kebiasaan Rasulullah ﷺ dan orang-orang saleh. Shalat tahajud menjadi salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar, di antaranya menjadi sebab diampuninya dosa, dikabulkannya doa, memperoleh kedudukan mulia di sisi Allah SWT, serta menjadi jalan menuju surga.

Di penghujung materi, narasumber mengajak seluruh peserta untuk membiasakan dzikir dan doa, khususnya setelah melaksanakan shalat fardu. Dzikir menjadi sarana mengingat Allah SWT, menenangkan hati, memperkuat keimanan, memperlancar rezeki, serta menjaga seorang mukmin dari berbagai godaan setan. Dengan memperbanyak dzikir, seorang muslim akan semakin dekat dengan Allah SWT dan memperoleh ketenangan dalam menjalani kehidupan.

Melalui materi ini, peserta Baitul Arqam diharapkan mampu memahami perbedaan antara ibadah mahdhah dan ibadah nafilah, melaksanakan seluruh ibadah sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ, serta menjadikan ibadah sunnah sebagai sarana meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Semangat untuk menjaga shalat, menghidupkan malam dengan qiyamul lail, memperbanyak dzikir, serta mengamalkan berbagai ibadah sunnah diharapkan menjadi karakter yang melekat pada setiap kader Muhammadiyah dalam menjalankan dakwah Islam Berkemajuan.

Materi berlangsung dengan penuh antusias. Para peserta aktif mengikuti penjelasan dan berdiskusi mengenai praktik ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pembekalan ini, Baitul Arqam PCM Cepu semakin meneguhkan komitmennya dalam membentuk kader Muhammadiyah yang memiliki aqidah yang kokoh, ibadah yang benar sesuai sunnah, serta akhlak yang mulia sebagai bekal dalam menggerakkan Persyarikatan dan melayani umat.

0Comments