Cepu, 25 Juli 2026 – Rangkaian Baitul Arqam Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu pada Sabtu (25/7/2026) di Aula SMK Muhammadiyah Cepu ditutup dengan penyampaian materi keenam oleh Ust. Drs. H. Mokh. Fathoni, M.M. Materi bertajuk "Cerita (Sejarah) Perkembangan Muhammadiyah Cabang Cepu" mengajak seluruh peserta memahami perjalanan panjang Muhammadiyah di Cepu sebagai bekal untuk melanjutkan estafet perjuangan dakwah Persyarikatan.
Dalam paparannya, Ust. H. Mokh. Fathoni menjelaskan bahwa memahami sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menjadi sarana mengambil hikmah agar generasi penerus mampu menjaga, mengembangkan, dan memajukan Muhammadiyah sesuai tuntutan zaman. Sejarah perjuangan para pendahulu menjadi sumber inspirasi untuk menumbuhkan semangat berkhidmat dan berjuang di Persyarikatan.
Beliau memaparkan bahwa Muhammadiyah Cabang Cepu secara resmi berdiri berdasarkan Surat Keputusan Hoofdbestuur Moehammadijah Nomor 898 tanggal 25 Juli 1941. Pada masa itu, Muhammadiyah berada dalam periode kepemimpinan KH Mas Mansur yang dikenal dengan pengembangan konsep Masalah Lima dan Langkah Dua Belas sebagai pedoman gerakan dakwah dan pembinaan umat.
Setelah masa perjuangan dan dinamika bangsa, Muhammadiyah Cepu mengalami kebangkitan kembali pada 22 Desember 1962. Peresmian kebangkitan tersebut dilaksanakan di Gedung SOOS Cepu dengan susunan pimpinan yang dipimpin oleh H. Dimyati sebagai ketua. Momentum tersebut menjadi tonggak penting dalam menghidupkan kembali aktivitas dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial Muhammadiyah di wilayah Cepu.
Narasumber kemudian mengulas perjalanan kepemimpinan PCM Cepu dari masa ke masa, mulai dari H. Dimyati, M. Syadzali, BA, H. Abdul Qodir, Ir. H. Suparno, Drs. H. Bisri Mustofa, M.Pd., Drs. H. Mariya, M.Pd., hingga kepemimpinan Drs. H. Mokh. Fathoni, M.M. Perjalanan kepemimpinan tersebut menunjukkan kesinambungan estafet perjuangan yang terus menjaga eksistensi dan kemajuan Muhammadiyah Cabang Cepu.
Dalam materi ini juga dipaparkan perkembangan berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang lahir dari semangat dakwah para pendahulu. Dimulai dengan berdirinya TK ABA pada tahun 1963, kemudian SMP Muhammadiyah, SMEA, SMA Muhammadiyah, STM Muhammadiyah, SD Muhammadiyah, SLB Muhammadiyah, Pondok Pesantren Al Hikmah, Klinik PKU Muhammadiyah, koperasi, hingga berbagai amal usaha lainnya. Seluruh perkembangan tersebut menjadi bukti nyata bahwa Muhammadiyah tidak hanya bergerak dalam dakwah lisan, tetapi juga dakwah melalui pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial kepada masyarakat.
Menurut Ust. H. Mokh. Fathoni, kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah tidak terlepas dari semangat keikhlasan para wakif dan tokoh-tokoh Muhammadiyah yang mewakafkan tanah, harta, serta tenaga demi kemajuan Persyarikatan. Semangat berkorban inilah yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus agar Muhammadiyah tetap mampu berkembang dan memberikan manfaat yang luas bagi umat.
Beliau juga menjelaskan hakikat Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam, Gerakan Dakwah Amar Makruf Nahi Mungkar dan Tajdid yang bertujuan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah harus senantiasa menjadi organisasi yang dinamis, aktif melakukan pembaruan, memperbanyak persaudaraan, menjaga ukhuwah Islamiyah, serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Selain mengulas sejarah, narasumber mengajak peserta melihat berbagai tantangan Muhammadiyah di era Revolusi Industri 4.0. Dunia pendidikan menghadapi perubahan yang sangat cepat akibat perkembangan teknologi digital, otomatisasi, dan kebutuhan keterampilan baru. Oleh sebab itu, sekolah dan Amal Usaha Muhammadiyah dituntut terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat kemampuan digital, membangun kolaborasi dengan dunia usaha dan industri, serta menyesuaikan kurikulum agar mampu melahirkan generasi yang unggul dan berdaya saing.
Di akhir penyampaiannya, Ust. H. Mokh. Fathoni mengajak seluruh peserta merenungkan pertanyaan penting mengenai masa depan Persyarikatan: "Apa yang akan kita perbuat selanjutnya?" Beliau menegaskan bahwa tugas kader Muhammadiyah bukan sekadar mempertahankan apa yang telah diwariskan, melainkan melanjutkan perjuangan, mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah, memperkuat dakwah, serta menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Materi berlangsung dengan penuh antusias dan mendapat perhatian besar dari seluruh peserta. Banyak kisah perjuangan para tokoh Muhammadiyah Cepu yang menggugah semangat peserta untuk semakin mencintai Persyarikatan dan berkomitmen melanjutkan perjuangan dakwah yang telah dirintis para pendahulu.
Melalui materi penutup ini, peserta Baitul Arqam PCM Cepu memperoleh pemahaman bahwa sejarah Muhammadiyah bukan hanya catatan masa lalu, melainkan sumber inspirasi untuk membangun masa depan. Dengan meneladani keikhlasan, pengorbanan, dan semangat tajdid para pendiri, diharapkan lahir kader-kader Muhammadiyah yang berakidah kokoh, berilmu, berintegritas, serta siap memajukan Persyarikatan dalam menjawab tantangan zaman demi terwujudnya Islam yang berkemajuan.

0Comments