Cepu, 25 Juli 2026 – Rangkaian Baitul Arqam Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu terus berlanjut dengan penyampaian materi keempat yang berlangsung pada Sabtu (25/7/2026) di Aula SMK Muhammadiyah Cepu. Materi bertajuk "Peran Tauhid dalam Kehidupan: Menanamkan Teologi Amaliah di Lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM)" disampaikan oleh Ust. Ahmad Furqony, M.Pd.I.
Dalam paparannya, Ust. Ahmad Furqony menekankan bahwa tauhid bukan sekadar konsep akidah yang dipahami secara teoritis, melainkan harus menjadi kekuatan yang menggerakkan setiap amal dan pengabdian. Bagi warga Muhammadiyah, khususnya guru, karyawan, dan pengelola Amal Usaha Muhammadiyah, tauhid harus tercermin dalam etos kerja, profesionalisme, serta pelayanan terbaik kepada umat.
Beliau menjelaskan bahwa tujuan utama materi ini adalah melakukan rekonstruksi niat, yakni meluruskan kembali orientasi dalam mengabdi di Amal Usaha Muhammadiyah agar seluruh aktivitas dilandasi keikhlasan karena Allah SWT. Selain itu, materi ini juga bertujuan melakukan dekonstruksi mental, yaitu mengikis cara pandang pragmatis yang memandang pekerjaan semata-mata sebagai sarana memperoleh gaji atau keuntungan duniawi. Dari proses tersebut diharapkan lahir transformasi etos kerja, yaitu perubahan keyakinan tauhid menjadi tindakan nyata yang profesional, amanah, dan penuh tanggung jawab.
Menurut narasumber, Muhammadiyah memandang tauhid sebagai teologi amaliah, bukan teologi yang berhenti pada perdebatan konsep. Keimanan yang benar harus melahirkan amal nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Tauhid juga berfungsi membebaskan manusia dari ketergantungan kepada jabatan, kekuasaan, maupun materi, sehingga hanya Allah SWT yang menjadi pusat pengabdian dan tujuan hidup.
Dalam pembahasan mengenai tujuan hidup, Ust. Ahmad Furqony mengingatkan firman Allah SWT dalam QS. Az-Zariyat ayat 56, bahwa manusia diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Oleh sebab itu, seluruh aktivitas di Amal Usaha Muhammadiyah, baik mengajar di ruang kelas, memberikan pelayanan administrasi, maupun menjalankan tugas-tugas lainnya, merupakan bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai syariat. Amal Usaha Muhammadiyah bukan sekadar tempat bekerja, tetapi menjadi ruang pengabdian kepada Allah SWT melalui profesi masing-masing.
Beliau juga menegaskan pentingnya memadukan keikhlasan dan profesionalisme. Berdasarkan QS. Al-Bayyinah ayat 5 dan hadis tentang itqan, setiap muslim diperintahkan memurnikan ibadah hanya kepada Allah sekaligus bekerja secara sungguh-sungguh, berkualitas, dan tuntas. Dengan demikian, tauhid tidak hanya melahirkan hati yang ikhlas, tetapi juga mendorong lahirnya budaya kerja unggul dan pelayanan yang berkualitas.
Materi kemudian mengulas akar ideologi Muhammadiyah yang bersumber dari Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM), Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM), serta Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Ketiga pedoman tersebut menegaskan bahwa seluruh aktivitas Persyarikatan harus dibangun di atas akidah yang murni, bebas dari takhayul, bid'ah, dan khurafat, serta diwujudkan melalui tata kelola organisasi yang bersih, profesional, dan berorientasi pada pelayanan dakwah.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, tauhid diwujudkan melalui tiga karakter utama, yaitu muraqabah, amanah, dan ihsan. Muraqabah melahirkan kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi setiap pekerjaan sehingga seseorang tetap jujur dan disiplin meskipun tidak diawasi pimpinan. Amanah mendorong setiap kader menjaga aset, waktu, serta kepercayaan yang diberikan sebagai titipan Allah. Adapun ihsan menjadi semangat untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, berinovasi, dan memberikan yang terbaik kepada siswa, wali murid, pasien, maupun masyarakat luas.
Pada kesempatan tersebut, narasumber juga mengingatkan dua penyakit mental yang dapat merusak nilai tauhid di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah, yaitu mentalitas materialistis yang mengukur semangat kerja hanya berdasarkan imbalan materi, serta mentalitas formalitas, yaitu bekerja sekadar menggugurkan kewajiban tanpa semangat perjuangan dan kepedulian terhadap kemajuan Persyarikatan. Kedua sikap tersebut harus dihindari karena bertentangan dengan semangat dakwah Muhammadiyah.
Sebagai penutup, Ust. Ahmad Furqony menegaskan bahwa Amal Usaha Muhammadiyah bukan sekadar institusi atau perusahaan, melainkan instrumen dakwah amar ma'ruf nahi munkar. Oleh karena itu, seluruh guru, tenaga kependidikan, karyawan, dan pengelola AUM merupakan bagian dari pejuang dakwah yang memiliki tanggung jawab besar dalam memajukan Persyarikatan melalui pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Materi berlangsung dengan penuh perhatian dan antusiasme peserta. Melalui sesi ini, peserta Baitul Arqam semakin memahami bahwa keberhasilan Amal Usaha Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan manajerial, tetapi juga oleh kekuatan tauhid yang melahirkan keikhlasan, integritas, profesionalisme, serta semangat melayani umat. Dengan semangat "Murnikan Akidah, Unggulkan Kinerja, Majukan Persyarikatan", seluruh peserta diharapkan mampu menjadi kader Muhammadiyah yang menjadikan tauhid sebagai fondasi utama dalam bekerja, berdakwah, dan mengabdi kepada Allah SWT melalui Persyarikatan Muhammadiyah.

0Comments