Menjadi bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bukanlah sekadar perkara menunaikan rutinitas pekerjaan harian atau sekadar menyandang identitas persyarikatan. Lebih dari itu, setiap insan yang beraktivitas di dalam ekosistem Muhammadiyah membawa amanah dakwah yang besar. Nilai-nilai Islam Rahmatan lil 'Alamin dituntut untuk menyatu dalam setiap hela napas, tutur kata, dan tindakan profesionalismenya, bukan hanya saat berada di tempat kerja, melainkan melekat secara utuh selama 24 jam penuh.
Pesan mendasar dan mendalam tersebut menjadi benang merah utama dalam pembukaan Baitul Arqam 2026 yang diselenggarakan oleh Majelis Kader dan Pembinaan Sumber Daya Insani Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu, 25-26 Juli 2026. Agenda ini kembali digelar untuk memperkuat fondasi ideologi, mempererat tali silaturahmi, serta menyelaraskan pemahaman seluruh elemen pegawai Muhammadiyah di wilayah Cepu.
Antusiasme Melonjak: Kehadiran Peserta Melampaui Target
Pelaksanaan Baitul Arqam tahun ini menunjukkan grafik peningkatan yang positif. Ketua Panitia Pelaksana, Aang Sudaryanto, S. Pd., mengungkapkan bahwa antusiasme para peserta untuk mengikuti proses Baitul Arqam ini melampaui ekspektasi awal panitia. Dari target kuota yang disiapkan sebanyak 40 orang, jumlah peserta yang terdaftar dan hadir mengikuti rangkaian kegiatan secara penuh mencapai 47 orang.
Para peserta tersebut merupakan perwakilan yang berasal dari berbagai sektor Amal Usaha Muhammadiyah, termasuk masjid, di Cepu. Komposisi peserta tahun ini adalah peserta perempuan sebanyak 33 orang dan laki-laki sebanyak 14 orang.
Di samping jumlah peserta yang menggembirakan, Aang menyoroti aspek ketertiban dan kedisiplinan perkaderan yang diterapkan secara konsisten. Panitia menerapkan aturan terkait penerbitan sertifikat kelulusan. Sertifikat tidak akan diberikan kepada peserta yang melewatkan sesi materi tanpa alasan yang sah, kecuali jika yang bersangkutan bersedia melengkapi kekurangan materi tersebut pada Baitul Arqam di tahun berikutnya.
"Komitmen terhadap aturan ini benar-benar kami jaga. Sebagai buktinya, pada pelaksanaan Baitul Arqam 2026 ini terdapat dua orang peserta susulan dari angkatan 2025 yang hadir secara khusus untuk melengkapi sesi materi mereka yang sempat tertunda tahun lalu," ujar Aang.
Seluruh rangkaian perkaderan dirancang secara efektif dan efisien, sehingga seluruh materi dapat diselesaikan secara tuntas pada hari Minggu, lebih cepat dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya tanpa mengurangi kedalaman materi yang disampaikan.
Satu Visi di Ber-Muhammadiyah
Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu, Drs. Mokh Fathoni, M.M., dalam sambutannya menekankan hakekat dan orientasi mendasar dari penyelenggaraan Baitul Arqam secara berkelanjutan. Menurutnya, perkaderan ini penting bagi seluruh jajaran pegawai, baik pegawai baru maupun pegawai yang telah lama mengabdi, agar pemahaman keislaman tetap berada pada koridor yang benar sesuai Al-Qur'an dan As-Sunnah.
"Baitul Arqam ini diselenggarakan rutin agar kita memastikan bahwa Islam yang kita jalankan adalah Islam yang sebenar-benarnya sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Jangan sampai kita ber-Islam hanya sebatas formalitas di KTP atau sekadar mengikuti pemahaman subjektif masing-masing," tegas Fathoni.
Guna memberikan gambaran yang mudah dipahami, Fathoni menggunakan analogi Muhammadiyah sebagai sebuah kendaraan besar. Muhammadiyah diibaratkan sebagai satu armada kendaraan yang sedang bergerak menuju satu titik tujuan mulia yang telah ditetapkan persyarikatan.
"Seluruh elemen di dalam sebuah kendaraan, mulai dari pengemudi, kernet, hingga para penumpang yang dalam hal ini adalah para pegawai AUM, harus memiliki pemahaman yang sama dan berada dalam satu frekuensi. Jika semua satu arah dan satu visi, maka kendaraan organisasi ini akan sampai ke tujuan dengan selamat dan lancar," tambahnya.
Ia juga mengingatkan fungsi utama manusia sebagai khalifatul fil ardh (pengelola di muka bumi). Oleh karena itu, setiap pegawai di AUM harus siap menjadi agen kedamaian dan kemajuan yang senantiasa menjaga ketertiban lingkungan kerja, bukannya memicu keretakan atau perselisihan. Prinsip ber-Islam di Muhammadiyah juga tidak boleh dibatasi oleh jam kerja formal 8 jam di kantor, melainkan harus tercermin selama 24 jam penuh dalam tutur kata, pandangan mata, ibadah ritual, hingga kepedulian sosial di masyarakat.
Penguatan Regulasi dan Kebanggaan Ber-AUM
Selain peneguhan ideologi, sambutan Ketua PCM Cepu juga menyoroti aspek tata kelola organisasi yang tertib. Ketaatan pada sistem protokoler ini dinilai penting untuk menjaga marwah dan profesionalisme persyarikatan dalam setiap kegiatan. Di samping itu, pegawai AUM juga didorong untuk senantiasa memelihara rasa bangga dan syukur dapat berikhtiar di Amal Usaha Muhammadiyah. Meski secara materi gaji terbilang relatif, bekerja di AUM membawa nilai tambah berupa keberkahan hidup dan nilai ibadah yang berkelanjutan.
Guna menginternalisasi nilai-nilai persyarikatan secara utuh, para pegawai juga diimbau untuk aktif berpartisipasi dalam gerakan ranting dan menghadiri Pengajian Ahad Pagi. Sinergi yang kokoh antara PCM Cepu, Pimpinan Cabang 'Aisyiyah (PCA) Cepu, serta Majelis, menjadi fondasi utama dalam menjaga denyut nadi persyarikatan di tingkat lokal.
Menutup arahannya, Fathoni menyampaikan sebuah kabar membanggakan sekaligus memohon doa restu dari seluruh peserta yang hadir. PCM Cepu telah resmi ditunjuk untuk mewakili Kabupaten Blora dalam ajang Lomba Cabang Unggulan tingkat Wilayah Jawa Tengah yang akan berlangsung pada tanggal 8–9 mendatang.
Melalui penyelenggaraan Baitul Arqam 2026 ini, PCM Cepu optimistis untuk mengembangkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara profesional dalam pekerjaannya, tetapi juga memiliki keteguhan akidah, kepatuhan organisasi, dan semangat pengabdian yang memberikan dampak positif nyata bagi masyarakat luas.
0Comments