Kajian Ahad pagi yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu kembali terlaksana dengan khidmat pada Ahad, 19 April 2026, bertempat di Masjid Al-Hikmah Cepu. Kajian kali ini menghadirkan pemateri Ustadz Ahmad Furqony, S.Ag., M.Pd., yang menyampaikan materi bertema “Ulil Albab”.
Kegiatan diawali dengan tahsin Al-Qur’an yang dipimpin oleh Ustadz Zaenal Arifin, S.Ag., M.M., serta didukung penuh oleh Lazismu KLC Cepu.
Makna Kata “Ulū / Ulī” dalam Al-Qur’an
Dalam pemaparannya, Ustadz Ahmad Furqony menjelaskan bahwa istilah أُولُو (ulū) dan أُولِي (ulī) memiliki makna penting dalam bahasa Al-Qur’an.
- أُولُو (ulū) digunakan dalam حالت rafa’ (subjek)
- أُولِي (ulī) digunakan dalam حالت nashab dan jar
Kedua kata tersebut bermakna:
“orang-orang yang memiliki / أصحاب (pemilik)”
Secara bahasa, kata ini termasuk isim jamid (kata benda tetap) dan memiliki kedekatan makna dengan kata ذُو / ذَوُو yang berarti “yang memiliki”.
Sehingga:
- أُولُو الْعِلْمِ → orang-orang yang memiliki ilmu
- أُولُو الْأَلْبَابِ → orang-orang yang memiliki “albab”
Makna “Ulul Albab”
Secara bahasa, أُولُو الْأَلْبَابِ (Ulul Albab) berarti:
“orang-orang yang memiliki akal yang murni (inti akal)”
Yang dimaksud bukan sekadar orang yang pintar atau banyak ilmu, tetapi:
- Memiliki akal yang jernih
- Mampu menangkap kebenaran
- Tidak tertutup oleh hawa nafsu
Dengan demikian, Ulil Albab adalah orang-orang yang tidak hanya berpikir, tetapi juga merenung (tafakkur) dan mengambil hikmah (tadabbur) dari setiap tanda-tanda kebesaran Allah.
Dalil tentang Ulil Albab dalam Al-Qur’an
1. Surah Ali ‘Imran Ayat 190
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ulil Albab).”
(QS. Ali ‘Imran: 190)
Ayat ini menunjukkan bahwa Ulil Albab adalah mereka yang mampu membaca tanda-tanda kekuasaan Allah melalui alam semesta.
2. Surah Ar-Ra’d Ayat 19
أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanya orang-orang yang berakal (Ulil Albab) saja yang dapat mengambil pelajaran.”
(QS. Ar-Ra’d: 19)
Ulil Albab adalah mereka yang mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
3. Surah Al-Baqarah Ayat 269
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa dianugerahi hikmah, sungguh dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal (Ulil Albab).”
(QS. Al-Baqarah: 269)
Ayat ini menegaskan bahwa Ulil Albab adalah mereka yang mendapatkan hikmah dan mampu mengambil pelajaran dari kehidupan.
Ciri-Ciri Ulil Albab
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa ciri-ciri Ulil Albab antara lain:
- Memiliki akal yang jernih dan bersih
- Mampu berpikir dan merenung secara mendalam
- Selalu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa
- Tidak dikendalikan oleh hawa nafsu
- Dekat dengan dzikir dan tadabbur Al-Qur’an
Penutup
Kajian Ahad pagi ini memberikan pemahaman mendalam bahwa menjadi Ulil Albab bukan hanya tentang kecerdasan intelektual, tetapi tentang kejernihan hati, kedalaman berpikir, dan kesungguhan dalam mengambil hikmah dari setiap ayat dan peristiwa kehidupan.
Diharapkan melalui kajian ini, jamaah semakin termotivasi untuk menjadi bagian dari golongan Ulil Albab, yaitu hamba-hamba Allah yang senantiasa berpikir, berdzikir, dan bertindak berdasarkan kebenaran.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki akal yang jernih dan hati yang bersih dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam.

0Comments