BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Materi Khutbah Jumat MEMBERSIHKAN HATI - MAAFKAN SEMUA ORANG SEBELUM MASUK BULAN SUCI

Materi Khutbah Jumat MEMBERSIHKAN HATI - MAAFKAN SEMUA ORANG SEBELUM MASUK BULAN SUCI

Hati adalah wadah bagi cahaya Allah. Bagaimana mungkin cahaya Ramadhan atau cahaya bulan suci akan masuk dengan sempurna jika wadah tersebut masih dip
Table of contents
×

 

MAAFKAN SEMUA ORANG SEBELUM MASUK BULAN SUCI

TEMA: MEMBERSIHKAN HATI - MAAFKAN SEMUA ORANG SEBELUM MASUK BULAN SUCI BAGIAN 1: KHUTBAH PERTAMA (MUKADIMAH) إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَعَلَى الْعُلَمَاءِ وَالْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ Amma ba'du. Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, Marilah kita senantiasa membasahi lisan dan hati kita dengan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta membuktikan syukur itu dengan peningkatan takwa yang sebenar-benarnya. Takwa bukan sekadar ibadah fisik, tetapi juga kebersihan hati dari segala penyakit yang mengotorinya. Hari-hari ini, kita berada di ambang pintu bulan-bulan yang mulia. Banyak di antara kita yang sibuk mempersiapkan bekal fisik: menabung uang untuk belanja, merapikan rumah, atau menyiapkan pakaian terbaik. Namun, ada satu persiapan yang sering terlupakan, padahal ia adalah persiapan yang paling krusial, yaitu persiapan hati. Hati adalah wadah bagi cahaya Allah. Bagaimana mungkin cahaya Ramadhan atau cahaya bulan suci akan masuk dengan sempurna jika wadah tersebut masih dipenuhi oleh sampah-sampah dendam, kebencian, dan permusuhan terhadap sesama saudara Muslim? Ketahuilah, hati yang menyimpan dendam ibarat selang air yang tersumbat lumpur. Meski air rahmat Allah mengalir deras, ia tidak akan bisa masuk ke dalam jiwa kita secara maksimal. Oleh karena itu, tema khutbah kita pada hari yang mulia ini adalah "Membersihkan Hati: Maafkan Semua Orang Sebelum Masuk Bulan Suci". Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan sifat pemaaf sebagai ciri utama orang yang bertakwa dan calon penghuni surga. Perhatikanlah firman Allah dalam QS. Ali 'Imran: 133-134 berikut ini: وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” Jamaah yang dimuliakan Allah, Dalam ayat ini, Allah menyejajarkan amalan sedekah dengan amalan memaafkan orang lain. Ini menunjukkan bahwa memaafkan adalah sedekah ruhiyah yang sangat tinggi nilainya. Kata "Wal 'afina 'anin nas" (memaafkan manusia) menggunakan bentuk kata benda pelaku 4(isim fa'il), yang bermakna bahwa sifat pemaaf itu sudah menjadi karakter yang melekat, bukan sifat musiman. Sebelum kita melangkah memasuki bulan suci, pastikan tidak ada lagi api amarah yang menyala di dada kita. Mengapa kita harus segera memaafkan dan menyelesaikan sengketa sebelum bulan suci? Karena permusuhan antar sesama Muslim dapat menjadi penghalang diangkatnya amal ibadah kita. Sungguh merugi, jika kita berpuasa dan shalat malam, namun amal itu tertahan di langit hanya karena ego kita yang enggan memaafkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan peringatan keras dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim: تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ فِي كُلِّ يَوْمِ خَمِيسٍ وَاثْنَيْنِ، فَيَغْفِرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ لِكُلِّ امْرِئٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا امْرَأً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: ارْكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، ارْكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا “Amal-amal manusia diperlihatkan (kepada Allah) pada setiap hari Kamis dan Senin. Maka Allah Azza wa Jalla mengampuni pada hari itu setiap orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali orang yang di antaranya dan saudaranya terdapat permusuhan (dendam). Maka dikatakan: 'Tangguhkanlah (amal) kedua orang ini hingga keduanya berdamai, tangguhkanlah (amal) kedua orang ini hingga keduanya berdamai.'” Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, Bayangkan kalimat "Arkû hadzaini" (tangguhkan keduanya). Amal puasa kita, bacaan Quran kita, sedekah kita, semuanya ditahan statusnya oleh Allah. Bukan karena kurang ikhlas, bukan karena salah rukunnya, tapi karena hati kita masih kotor oleh kebencian kepada sesama. Apakah kita siap mengambil risiko sebesar itu hanya demi mempertahankan gengsi? Seringkali, alasan tersulit untuk memaafkan adalah karena kita merasa "Saya yang benar, dia yang salah". Ego kita berbisik bahwa memaafkan berarti kalah, memaafkan berarti lemah. Padahal, logika langit berbeda dengan logika bumi. Allah menawarkan pertukaran yang luar biasa: Maafkanlah hamba-Ku, maka Aku akan memaafkanmu. Renungkanlah firman Allah dalam QS. An-Nur: 22, yang turun berkenaan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang bersumpah tidak mau lagi menolong Misthah karena telah memfitnah putrinya (Aisyah): وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Ayat ini adalah tamparan kasih sayang bagi kita. Seolah Allah bertanya: "Wahai hamba-Ku, engkau punya dosa yang menumpuk setinggi gunung kepada-Ku, dan engkau sangat butuh ampunan-Ku di bulan suci nanti. Jika kesalahan saudaramu yang kecil saja tidak mau engkau maafkan, bagaimana engkau berharap Aku memaafkan dosa-dosamu yang besar?" Jangan takut menjadi hina karena memaafkan. Justru, kemuliaan sejati terletak pada kelapangan dada. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Muslim: وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ “Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba karena sifat pemaafnya kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” Lalu, bagaimana jika hati ini masih terasa berat? Bagaimana jika orang tersebut tidak meminta maaf? Solusinya adalah inisiatif kebaikan dari kita. Jangan menunggu orang lain berubah, tapi ubahlah respon kita. Allah mengajarkan teknik psikologi spiritual yang tinggi dalam QS. Fussilat: 34 berikut ini: وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” Balaslah keburukan dengan kebaikan. Jika dia memutus silaturahmi, kita yang menyambungnya. Jika dia menahan hak kita, kita berikan haknya. Ini memang berat, tetapi inilah jalan para Nabi dan Shalihin. Sebagai penutup khutbah pertama ini, mari kita amalkan motivasi dari Rasulullah untuk menjadi orang yang "terbaik" dalam sebuah konflik. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim: لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ: فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ “Tidak halal bagi seseorang untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya bertemu, lalu yang satu berpaling dan yang lain juga berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” Jadilah yang terbaik di mata Allah dengan memulai sapaan, memulai senyuman, dan memulai kata maaf. Bersihkan hati kita sekarang juga, agar esok hari kita menyambut bulan suci dengan jiwa yang bening. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ BAGIAN 2: KHUTBAH KEDUA اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلْقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, Sebagai ringkasan dari khutbah ini, ingatlah bahwa musuh terbesar kita bukanlah orang yang menyakiti kita, melainkan hawa nafsu dan bisikan setan yang menyuruh kita memelihara dendam. Bulan Suci sudah di depan mata. Mari kita jadikan momen Jumat ini sebagai titik balik untuk "Nol-Nol" kembali. Maafkan orang tua kita, maafkan pasangan kita, maafkan anak-anak kita, maafkan tetangga dan teman kerja kita. Lepaskan beban berat di hati itu. Biarkan hati kita terbang ringan menuju Allah. Tidak ada yang lebih melegakan jiwa selain memberi maaf yang tulus. Dengan hati yang bersih (Qolbun Salim), insyaallah ibadah kita di bulan suci nanti akan jauh lebih nikmat, khusyuk, dan diterima oleh Allah SWT. Marilah kita menundukkan kepala, mengangkat tangan dengan penuh kerendahan hati, memohon agar Allah mencabut segala akar kebencian dari dada kita. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا يُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Muliakanlah mereka yang masih hidup dan lapangkanlah kubur bagi mereka yang telah wafat. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ. اَللَّهُمَّ انْزَعْ مِنَ قُلُوبِنَا الْغِلَّ وَالْحِقْدَ وَالْحَسَدَ لِعِبَادِكَ الْمُؤْمِنِينَ Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, bersihkan amal kami dari pamer (riya'), bersihkan lisan kami dari dusta, dan mata kami dari khianat. Ya Allah, cabutlah dari hati kami rasa dengki, dendam, dan hasad kepada hamba-hamba-Mu yang beriman. Jadikanlah kami hamba-Mu yang mudah memaafkan dan berlapang dada. رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبَنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ “Ya Rabb kami, janganlah Engkau tanamkan dalam hati kami perasaan dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


0Comments