BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Mewaspadai Risiko “Halusinasi” AI dalam Praktik Jurnalistik

Mewaspadai Risiko “Halusinasi” AI dalam Praktik Jurnalistik

Table of contents
×
Semarang — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan membawa peluang sekaligus tantangan bagi dunia jurnalistik. Dalam sesi materi bertajuk Mindset Jurnalistik di Era Digital dan AI, Dr. Edi Santoso, mengingatkan para jurnalis untuk memahami risiko “halusinasi” pada teknologi Artificial Intelligence (AI).

Menurutnya, AI generatif tidak bekerja seperti mesin pencari yang menampilkan daftar sumber informasi. Sebaliknya, AI menyusun jawaban berdasarkan prediksi statistik kata yang paling mungkin muncul. Karena itu, AI dapat menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan, tetapi sebenarnya keliru atau bahkan tidak memiliki sumber yang jelas.

“AI bisa saja membuat kutipan tokoh atau referensi jurnal yang sebenarnya tidak pernah ada. Inilah yang disebut sebagai halusinasi AI,” ujarnya.

Karena itu, Edi menekankan bahwa jurnalis tidak boleh memperlakukan AI sebagai sumber kebenaran. Setiap informasi yang dihasilkan AI tetap harus diverifikasi melalui sumber primer.

AI sebagai Asisten, Bukan Pengganti
Dalam paparannya, Edi menjelaskan bahwa keberadaan AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran jurnalis. Ia mengibaratkan AI sebagai co-pilot, sementara jurnalis tetap menjadi pilot utama yang memegang kendali penuh atas proses jurnalistik.

Menurutnya, jurnalis tetap bertanggung jawab menentukan sudut pandang berita, melakukan peliputan di lapangan, serta memastikan kebenaran informasi yang disampaikan kepada publik.

“AI dapat membantu proses awal seperti mencari ide atau membuat draf tulisan. Namun keputusan editorial tetap berada di tangan jurnalis,” jelasnya.

Liputan Lapangan Tetap Dibutuhkan 
Edi juga menegaskan bahwa ada aspek penting dalam kerja jurnalistik yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Salah satunya adalah kegiatan peliputan di lapangan.

Menurutnya, AI tidak mampu merasakan atmosfer peristiwa, membangun hubungan dengan narasumber, ataupun menangkap nuansa emosional yang sering kali menjadi elemen penting dalam sebuah laporan jurnalistik.

Selain itu, tanggung jawab etik dan hukum juga tetap berada pada jurnalis manusia. Jika sebuah berita menimbulkan dampak negatif atau merugikan pihak tertentu, maka yang dimintai pertanggungjawaban adalah penulisnya, bukan mesin.

Prinsip Penggunaan AI
Dalam kesempatan tersebut, Edi juga mengingatkan beberapa prinsip penting dalam penggunaan AI bagi jurnalis. Di antaranya menjadikan AI hanya sebagai titik awal dalam proses kerja, bukan sebagai hasil akhir.

Ia juga menekankan pentingnya menandai setiap output AI serta melakukan verifikasi terhadap semua informasi yang dihasilkan. Kutipan narasumber, menurutnya, tidak boleh berasal dari hasil generasi AI, tetapi harus diperoleh melalui wawancara langsung.

“Jurnalis harus terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Namun prinsip dasar jurnalistik—verifikasi, akurasi, dan tanggung jawab—tetap harus dijaga,” tegasnya.

Dengan pemahaman tersebut, para jurnalis diharapkan dapat memanfaatkan teknologi AI secara bijak sekaligus tetap menjaga integritas profesi di tengah perkembangan era digital. 

0Comments