BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Menentukan Angle Jadi Kunci Penulisan Berita di Era AI

Menentukan Angle Jadi Kunci Penulisan Berita di Era AI

Table of contents
×
Agung S. Bakti menyampaikan materi tentang pemanfaatan AI dan pentingnya menentukan angle dalam penulisan berita pada pelatihan jurnalistik MPI PWM Jawa Tengah di Semarang.

Semarang — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan membawa perubahan dalam cara kerja jurnalistik. Namun demikian, peran jurnalis tetap tidak tergantikan. Hal itu disampaikan oleh Agung S. Bakti dalam materi bertajuk AI Prompt Engineering untuk Jurnalistik pada kegiatan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.

Menurutnya, di era Society 5.0, teknologi Artificial Intelligence (AI) sebaiknya dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti jurnalis. Ia mengibaratkan AI sebagai co-pilot, sementara jurnalis tetap menjadi pilot utama yang mengendalikan arah narasi dan keputusan editorial.

“AI pada dasarnya hanyalah mesin prediksi bahasa atau ‘tukang susun kata’. Karena itu, jurnalis tetap harus menjadi arsitek narasi yang menentukan sudut pandang berita,” ujarnya.

Menghindari Jebakan Berita Seremonial
Dalam paparannya, Agung juga menyoroti kecenderungan media, terutama di tingkat lokal, yang masih terjebak pada penulisan berita seremonial. Judul-judul seperti “Pelantikan Berjalan Lancar”, menurutnya, sering kali tidak menarik perhatian pembaca.

Ia menjelaskan bahwa berita semacam itu biasanya tidak memiliki hook yang kuat, tidak menyentuh kepentingan publik luas, serta tidak menjawab pertanyaan mendasar pembaca: apa manfaat informasi tersebut bagi mereka.

Karena itu, jurnalis perlu lebih cermat dalam menentukan angle atau sudut pandang berita agar informasi yang disampaikan relevan dan menarik.

Kembali pada Dasar Jurnalistik
Agung menegaskan bahwa di tengah perkembangan teknologi digital, jurnalis tetap perlu kembali pada prinsip dasar jurnalistik. Hal itu mencakup pemahaman terhadap nilai berita seperti aktualitas, signifikansi, kedekatan dengan pembaca, serta unsur ketokohan.

Selain itu, struktur piramida terbalik juga tetap penting digunakan, terutama dalam penulisan berita digital. Dengan menempatkan fakta paling penting di paragraf awal, pembaca dapat segera memahami inti informasi.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan human interest. Menurutnya, cerita yang menyentuh sisi kemanusiaan dan menawarkan solusi terhadap masalah masyarakat cenderung lebih mudah menarik perhatian pembaca.

Strategi Prompt Engineering
Dalam sesi tersebut, Agung memperkenalkan metode S-U-P-E-R sebagai strategi memberikan instruksi kepada AI agar menghasilkan draf tulisan yang lebih berkualitas.

Metode ini meliputi penyampaian situasi atau konteks informasi, penentuan target pembaca, penetapan peran AI, pengaturan langkah eksekusi, serta pemberian restriksi atau batasan agar AI tidak menghasilkan informasi yang keliru.

Selain itu, ia juga memperkenalkan alur kerja tiga tahap dalam memanfaatkan AI untuk jurnalistik. Tahap pertama adalah menemukan angle berita dan melakukan riset kata kunci. Tahap kedua adalah penulisan draf berita. Sedangkan tahap ketiga adalah pengemasan judul serta distribusi konten melalui media sosial.

Menurut Agung, tahap pertama merupakan bagian paling krusial dalam proses tersebut. “Jika kita sudah menemukan angle yang tepat, maka proses penulisan berikutnya akan jauh lebih mudah,” jelasnya.

Melalui pemanfaatan teknologi yang tepat, ia berharap para jurnalis dapat memproduksi berita yang lebih menarik, relevan, sekaligus mampu menjangkau pembaca yang lebih luas di era digital. 

0Comments