Semarang — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Wahyudi, M.Pd., menegaskan bahwa Muhammadiyah sejak awal berdirinya dikenal sebagai gerakan Islam modern yang senantiasa membawa semangat pembaruan.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan materi dalam kegiatan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah di Semarang.
Menurut Wahyudi, karakter modern Muhammadiyah telah tampak sejak masa pendiriannya oleh Ahmad Dahlan. Pada masa itu, Ahmad Dahlan memperkenalkan sistem pendidikan yang lebih modern dan terstruktur dibandingkan model pendidikan tradisional yang berkembang saat itu.
“Sejak awal Muhammadiyah hadir sebagai gerakan tajdid atau pembaruan. Karena itu, Muhammadiyah harus tetap inovatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” ujarnya.
Teknologi dan Kecerdasan Buatan
Dalam perkembangannya, kemajuan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI), membawa berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat. Wahyudi menyebut bahwa teknologi memberikan banyak manfaat jika dimanfaatkan secara tepat.
Di antaranya adalah mempermudah akses terhadap informasi, mendukung proses pembelajaran, serta meningkatkan efisiensi layanan di berbagai bidang, termasuk kesehatan dan organisasi.
Namun demikian, perkembangan teknologi juga menghadirkan sejumlah tantangan. Di antaranya adalah meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi, menurunnya minat membaca dan berpikir kritis, serta potensi hilangnya beberapa jenis pekerjaan akibat otomatisasi.
Karena itu, menurutnya, pemanfaatan teknologi harus tetap disertai dengan sikap bijak dan etika dalam penggunaannya.
Penguatan Digitalisasi Organisasi
Wahyudi juga menekankan pentingnya digitalisasi dalam pengelolaan organisasi Muhammadiyah. Langkah ini meliputi digitalisasi administrasi, pengelolaan data organisasi, serta penguatan basis data anggota dan amal usaha.
Menurutnya, data organisasi menjadi aset penting yang perlu dikelola secara baik dan bertanggung jawab. Dalam hal ini, perhatian juga perlu diberikan pada keamanan data, terutama yang berkaitan dengan data pribadi maupun data sensitif organisasi.
Tantangan Literasi Digital
Di sisi lain, Wahyudi mengakui bahwa Muhammadiyah masih menghadapi tantangan dalam hal literasi digital di kalangan anggotanya. Ia menyebut masih ada pimpinan organisasi yang belum terbiasa menggunakan sarana komunikasi digital, seperti surat elektronik maupun sistem administrasi berbasis teknologi.
Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk meningkatkan kemampuan digital di lingkungan organisasi melalui berbagai program pelatihan, pendampingan, serta penguatan literasi teknologi.
Melalui langkah-langkah tersebut, diharapkan Muhammadiyah dapat terus berkembang sebagai gerakan Islam modern yang mampu memanfaatkan teknologi secara produktif sekaligus tetap menjaga nilai-nilai dakwah yang menjadi ruh perjuangannya.
0Comments