Kultum Bakda Sholat Subuh Masjid Taqwa Cepu, Selasa 10 Maret 2026 bersama Ust. Nurul Mukmini, S.Pd.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Subhānahu wa Ta‘ālā yang telah melimpahkan berbagai nikmat kepada kita semua. Di pagi hari yang sejuk dan dalam suasana yang masih terasa kantuk, Allah masih memberikan kekuatan iman kepada kita sehingga hati kita tergerak dan langkah kita dimudahkan untuk datang ke masjid menunaikan shalat Subuh berjamaah. Semua ini merupakan karunia besar yang patut kita syukuri.
Sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah yang tidak terhingga, hendaknya kita senantiasa memperbanyak amal kebaikan dan meningkatkan kualitas ibadah kita, terlebih di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.
Pada hari ini, kita telah memasuki hari ke-21 bulan Ramadhan, yang berarti kita telah memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan. Sepuluh hari terakhir ini adalah waktu yang sangat istimewa karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Allah Subhānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
(QS. Al-Qadr: 1–3)
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Maksudnya:
Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Amal ibadah yang dilakukan pada malam tersebut nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Namun demikian, tidak ada seorang pun yang dapat memastikan kapan tepatnya malam Lailatul Qadar terjadi. Para ulama menjelaskan bahwa malam tersebut seringkali berada pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, sehingga umat Islam dianjurkan untuk bersungguh-sungguh beribadah pada malam-malam tersebut.
Jamaah sholat Subuh rahimakumullāh, keinginan untuk mendapatkan Lailatul Qadar tentu merupakan harapan yang sangat baik. Akan tetapi, harapan tersebut hendaknya diiringi dengan muhasabah atau introspeksi diri. Kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri: apakah puasa yang kita jalankan sudah benar? Apakah kita hanya menahan lapar dan dahaga, ataukah kita juga menahan hawa nafsu lainnya?
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
(HR. Bukhari)
Artinya:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
Maksudnya:
Puasa harus disertai dengan menjaga perilaku, lisan, dan perbuatan. Jika seseorang masih berkata dusta, menyebarkan keburukan, atau menyakiti orang lain, maka pahala puasanya bisa berkurang bahkan hilang.
Salah satu hal yang sering dianggap sepele namun dapat merusak pahala puasa adalah lisan yang tidak terjaga, seperti menggunjing (ghibah), berkata kasar, atau menyampaikan kabar yang tidak benar.
Allah Subhānahu wa Ta‘ālā berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
(QS. Al-Ahzab: 70)
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Maksudnya:
Seorang mukmin diperintahkan untuk menjaga lisannya dengan berkata jujur, baik, dan tidak menyakiti orang lain. Menjaga lisan merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman dan kesempurnaan ibadah puasa.
Oleh karena itu, di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini hendaknya kita memperbanyak muhasabah diri. Setiap amal yang kita lakukan hendaknya kita evaluasi, apakah sudah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya atau belum.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
(QS. Al-Hasyr: 18)
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.”
Maksudnya:
Setiap manusia hendaknya selalu mengevaluasi dirinya dan mempersiapkan amal terbaik sebagai bekal untuk kehidupan akhirat.
Semoga dengan memperbanyak muhasabah, menjaga lisan, memperbaiki amal, serta meningkatkan ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini, kita semua diberikan kesempatan oleh Allah untuk meraih keutamaan malam Lailatul Qadar dan memperoleh ampunan-Nya.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. Semoga apa yang disampaikan ini bermanfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua. Jika terdapat kekurangan, semata-mata berasal dari keterbatasan manusia.

0Comments