Kultum Ba’da Sholat Subuh Masjid Taqwa Cepu – Ahad, 8 Maret 2026
Ahad pagi, 8 Maret 2026, jamaah Masjid Taqwa Cepu mengikuti kultum ba’da sholat Subuh yang disampaikan oleh Ust. Meinar Yuari Salsabil, S.Pd., M.Pd. Dalam tausiyahnya, beliau menjelaskan tentang fenomena keberagaman praktik keagamaan di bulan Ramadhan serta pentingnya memahami tingkatan ibadah puasa agar dapat mencapai kualitas puasa yang lebih baik.
Fenomena Keberagaman Ibadah di Bulan Ramadhan
Ust. Meinar menyampaikan bahwa bulan Ramadhan menghadirkan berbagai fenomena yang menarik dalam kehidupan umat Islam, khususnya di Indonesia. Ada orang yang mengaku beriman namun belum melaksanakan sholat maupun puasa. Ada pula yang melaksanakan sholat tetapi belum berpuasa, atau sebaliknya berpuasa namun belum menjaga sholatnya dengan baik.
Di sisi lain, ada pula kaum muslimin yang mampu menjalankan sholat dan puasa secara baik dan konsisten. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman dan pengamalan agama di tengah masyarakat masih beragam.
Oleh karena itu, dakwah dan saling mengingatkan dalam kebaikan sangat diperlukan, agar umat Islam dapat terus memperbaiki diri dan menuju kesempurnaan dalam menjalankan ajaran Islam.
Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya:
"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung."
(QS. Ali ‘Imran: 104)
Maksud ayat:
Umat Islam diperintahkan untuk saling mengajak kepada kebaikan serta mengingatkan satu sama lain agar semakin dekat kepada ajaran Allah.
Puasa Memiliki Berbagai Tingkatan
Dalam kultum tersebut, Ust. Meinar juga menjelaskan bahwa ibadah puasa memiliki beberapa tingkatan. Tidak semua orang yang berpuasa memperoleh nilai puasa yang sama.
Ada orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga karena tidak mampu menjaga amarah, lisan, maupun perilakunya.
Rasulullah SAW bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
Artinya:
"Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga."
(HR. Ibnu Majah)
Maksud hadits:
Puasa tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perbuatan dosa, amarah, serta hal-hal yang merusak nilai ibadah puasa.
Puasa sebagai Perisai
Orang-orang yang sholeh tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadikan puasa sebagai perisai dari berbagai perbuatan yang dapat merusak hati dan amal.
Rasulullah SAW bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ
Artinya:
"Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan berbuat gaduh."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maksud hadits:
Puasa berfungsi sebagai pelindung diri dari perbuatan buruk. Orang yang berpuasa seharusnya mampu menjaga pandangan, lisan, pendengaran, serta seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang tidak diridhai Allah.
Tingkatan Puasa Orang-Orang Sholeh
Ust. Meinar menjelaskan bahwa para ulama menggambarkan adanya tingkatan puasa yang lebih tinggi, yaitu puasa yang tidak hanya dilakukan oleh anggota tubuh, tetapi juga oleh hati.
Pada tingkatan ini, seseorang mampu menjaga pikirannya dari hal-hal yang melalaikan, menjaga hatinya dari penyakit seperti iri dan dengki, serta memfokuskan diri sepenuhnya kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS. Al-Baqarah: 183)
Maksud ayat:
Tujuan utama puasa adalah membentuk manusia yang bertakwa, yaitu orang yang mampu menjaga diri dari segala perbuatan yang dilarang oleh Allah.
Penutup
Di akhir kultum, Ust. Meinar mengingatkan jamaah agar tidak berputus asa dalam memperbaiki kualitas ibadah puasa. Setiap muslim memiliki kesempatan untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas amalnya dengan memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Semoga ibadah puasa yang kita jalankan tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mampu membersihkan hati, menjaga perilaku, serta mengantarkan kita menjadi hamba yang lebih bertakwa. Aamiin.

0Comments