Cepu, Jumat 20 Februari 2026 — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Taqwa Cepu usai pelaksanaan sholat tarawih di bulan suci Ramadhan 1447 H. Jamaah dengan penuh antusias menyimak kultum yang disampaikan oleh Ust. Drs. Najamansah, yang mengangkat tema pentingnya jihad melawan hawa nafsu sebagai jalan menuju ketakwaan.
Dalam pembukaannya, beliau mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat iman, Islam, dan kesehatan yang Allah berikan, sehingga masih dipertemukan dengan bulan Ramadhan tahun ini. Ia juga mengingatkan bahwa umur manusia adalah rahasia Allah, sehingga setiap kesempatan hidup harus diisi dengan amal shalih.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)
Beliau menegaskan bahwa tujuan utama hidup seorang Muslim adalah meraih husnul khatimah, yakni akhir kehidupan yang baik dalam keadaan tetap beriman dan bertakwa. Tanda-tanda orang yang mendapatkan husnul khatimah di antaranya adalah senantiasa berdoa, menjaga ketakwaan, serta istiqamah dalam amal kebaikan.
Jihad Terbesar: Melawan Hawa Nafsu
Dalam kultumnya, beliau juga menyampaikan makna jihad yang sering disalahpahami. Jihad tidak hanya berarti perang, tetapi juga perjuangan melawan hawa nafsu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ
“Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.”
Ketika para sahabat bertanya tentang jihad besar tersebut, beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah jihad melawan hawa nafsu.
Hawa nafsu, menurut penjelasan beliau, merupakan ujian terbesar dalam diri manusia. Bahkan Allah ﷻ memperingatkan:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Nafsu yang Harus Dikendalikan
Dalam penjelasannya, terdapat dua nafsu utama yang sangat dominan dalam diri manusia:
- Nafsu perut (syahwat makan dan minum)
- Nafsu syahwat (seksual)
Puasa di bulan Ramadhan menjadi sarana utama untuk mengendalikan kedua nafsu tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian mampu menikah maka menikahlah, karena itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barang siapa belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu menjadi perisai baginya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu, Islam juga dengan tegas melarang perzinaan:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra: 32)
Balasan bagi Jiwa yang Tenang
Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya akan mencapai derajat nafsul muthmainnah (jiwa yang tenang). Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)
Penutup
Di akhir kultum, beliau mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum jihad melawan hawa nafsu. Dengan menjalankan puasa secara sungguh-sungguh, diharapkan setiap Muslim mampu meraih derajat takwa dan mendapatkan akhir kehidupan yang husnul khatimah.
Semoga kita semua termasuk golongan hamba Allah yang mampu mengendalikan diri, memperbanyak amal shalih, dan dipertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun-tahun mendatang.
Wallahu a’lam bish-shawab.

0Comments