BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Tenang dalam Genggaman-Nya

Tenang dalam Genggaman-Nya

Jika kamu tidak merasa istimewa di hati siapa pun, itu bukan kerugian. Bisa jadi itu cara Allah menjaga hatimu tetap bersih.
Table of contents
×

 

Ada masa ketika kita merasa tidak menjadi siapa-siapa di hati manusia. Tidak terlalu dicari, tidak terlalu diingat, bahkan kadang terasa dilupakan. Namun ketahuilah, itu bukan kerugian. Bisa jadi, justru di situlah Allah sedang menjaga hatimu agar tetap bersih—tidak bergantung, tidak rapuh oleh harap yang berlebihan.

“Jika kamu tidak merasa istimewa di hati siapa pun, itu bukan kerugian. Bisa jadi itu cara Allah menjaga hatimu tetap bersih.”

Ketika kita tidak menggantungkan nilai diri pada penerimaan manusia, langkah hidup menjadi lebih ringan. Kita tidak lagi sibuk mengejar pengakuan, karena hati telah belajar berdiri dengan tenang.

Allah ﷻ berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak pula bersedih hati."
(QS. Yunus: 62)


Ringan Melangkah karena Tidak Berharap Berlebihan

Berharap kepada manusia sering berujung kecewa, karena manusia terbatas oleh rasa dan keadaan. Sebaliknya, ketika harapan disederhanakan dan disandarkan kepada Allah, jiwa menjadi lebih lapang.

“Tidak berharap berlebihan membuatmu lebih ringan melangkah. Tidak menggantungkan diri membuatmu lebih tenang menjalani hidup.”

Allah mengajarkan agar sandaran hati hanya satu.

Allah ﷻ berfirman:

وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

"Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman."
(QS. Al-Ma’idah: 23)


Dicintai Manusia adalah Bonus, Dicintai Allah adalah Tujuan

Cinta manusia datang dan pergi. Ia berubah oleh waktu, keadaan, dan kepentingan. Namun cinta Allah tidak pernah goyah. Karena itu, menjadikan cinta Allah sebagai tujuan hidup adalah pilihan yang paling aman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَحَبَّ ٱللَّهُ ٱلْعَبْدَ نَادَىٰ جِبْرِيلَ: إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ ٱلسَّمَاءِ: إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ ٱلسَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ ٱلْقَبُولُ فِي ٱلْأَرْضِ

"Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berkata: ‘Sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah ia.’ Lalu Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia.’ Maka penduduk langit pun mencintainya, lalu diletakkan baginya penerimaan di bumi."
(HR. Bukhari dan Muslim)


Penutup: Tujuan Tak Pernah Kalah oleh Bonus

Dicintai manusia adalah bonus. Dicintai Allah adalah tujuan.
Dan tujuan tidak pernah kalah oleh bonus.

Ketika hati sudah tenang dalam genggaman-Nya,
tidak ada lagi kegelisahan karena pengakuan,
tidak ada kecemasan karena penolakan.

Karena cukup Allah yang tahu, cukup Allah yang melihat,
dan cukup Allah yang memeluk hatimu dengan ketenangan yang tak tergantikan.

Tenanglah… engkau sedang berada di tangan yang paling aman.

0Comments