![]() |
| Motivasi Doa Ibnu Atha'illah as-Sakandari |
Pernahkah Anda merasa lelah karena doa-doa yang Anda langitkan seolah belum mendapatkan jawaban? Di tengah penantian itu, sering kali muncul rasa gundah, bahkan prasangka buruk kepada Sang Pencipta. Namun, seorang ulama besar ahli makrifat, Ibnu Atha'illah as-Sakandari, memberikan obat penawar bagi jiwa yang sedang bimbang dalam kitab legendarisnya, Al-Hikam.
Introspeksi Adab Sebelum Menuntut Hasil
Banyak dari kita yang sangat rajin dalam "menuntut" hak kepada Allah agar keinginan segera dikabulkan, namun kita sering lupa untuk mengevaluasi kewajiban dan adab kita kepada-Nya. Adab bukan hanya soal tata cara berdoa, melainkan tentang bagaimana posisi hati kita saat menghadap Rabb semesta alam.
Apakah kita sudah menjaga shalat kita? Apakah rezeki yang kita makan sudah halal? Dan yang terpenting, apakah kita berdoa dengan rasa butuh yang tulus atau sekadar mendikte Allah?
ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
(QS. Al-A'raf: 55)
Lidah yang Meminta Adalah Isyarat Pemberian
Kalimat kedua dari Ibnu Atha'illah memberikan harapan yang sangat besar. Beliau menjelaskan bahwa taufik (petunjuk) untuk berdoa adalah sebuah karunia. Tidak semua orang digerakkan hatinya untuk berdoa dengan sungguh-sungguh.
Jika Allah masih mengizinkan lisan Anda basah dengan permohonan, itu adalah tanda bahwa pintu pemberian-Nya sebenarnya sudah terbuka. Allah ingin memberi, namun Ia sedang memproses diri kita agar siap menerima pemberian tersebut pada waktu yang paling tepat menurut-Nya.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits shohih mengenai jaminan bagi orang yang berdoa:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيْعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ
"Tidaklah seorang muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya satu dari tiga perkara: dikabulkan segera, disimpan di akhirat, atau dijauhkan dari keburukan yang semisal."
(HR. Ahmad)
Kesimpulan
Berhenti lah fokus pada "kapan" doa itu terjawab, dan mulailah fokus pada "bagaimana" kita menghamba. Saat kita memperbaiki adab, ketenangan akan masuk ke dalam hati. Dan dalam ketenangan itulah, kita akan menyadari bahwa Allah tidak pernah menunda, Ia hanya memberikan yang terbaik di saat yang paling indah.
Keywords: Hikmah Al-Hikam, Ibnu Atha'illah as-Sakandari, Motivasi Doa Belum Dikabulkan, Adab Berdoa, Tasawuf, Islam.
Tags: #MotivasiIslam #IbnuAthaillah #AlHikam #Doa #SelfImprovement #Adab


0Comments