BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Berbuat Baik dengan Batas: Antara Kemuliaan dan Kebijaksanaan

Berbuat Baik dengan Batas: Antara Kemuliaan dan Kebijaksanaan

Kita perlu tahu kapan memberi, dan kapan menjaga diri. Tidak semua orang siap menerima kebaikan dengan sikap yang pantas. Kebaikan yang paling indah a
Table of contents
×

Berbuat baik adalah fitrah manusia dan ajaran utama Islam. Ia mendekatkan hati kepada Allah dan menenangkan jiwa. Namun, Islam juga mengajarkan bahwa kebaikan perlu dibingkai dengan kebijaksanaan, agar tidak berubah menjadi beban, luka, atau bahkan menjauhkan kita dari ketenangan batin.

"Berbuat baik tetaplah mulia, namun berbuat baik dengan batas adalah bentuk kebijaksanaan.
Kita perlu tahu kapan memberi, dan kapan menjaga diri.
Tidak semua orang siap menerima kebaikan dengan sikap yang pantas.
Kebaikan yang paling indah adalah kebaikan yang tetap mendekatkan hati kepada Allah, bukan menjauhkannya dari rasa tenang dan syukur."

Kebaikan yang tidak dibatasi bisa melelahkan, bahkan menyakiti. Karena itu, Islam mengajarkan keadilan terhadap diri sendiri—sebagaimana adil kepada orang lain.


Dalil Al-Qur’an: Kebaikan Harus Berimbang

Allah ﷻ berfirman:

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia; dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
(QS. Al-Qaṣaṣ: 77)

Ayat ini menegaskan bahwa berbuat baik harus tetap proporsional, tidak melupakan hak diri sendiri dan tidak melampaui batas.


Dalil Hadis: Menjaga Diri Adalah Bagian dari Kebaikan

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

"Sesungguhnya dirimu memiliki hak atasmu."
(HR. Bukhari)

Hadis ini mengajarkan bahwa menjaga diri dari kelelahan batin dan luka hati bukanlah egoisme, melainkan bagian dari amanah yang harus dijaga.


Kebaikan yang Mendekatkan kepada Allah

Kebaikan yang sejati adalah kebaikan yang:

  • Diniatkan karena Allah, bukan karena ingin diterima manusia.
  • Mendatangkan ketenangan, bukan kegelisahan yang berkepanjangan.
  • Menumbuhkan syukur, bukan penyesalan dan kekecewaan.

Allah ﷻ berfirman:

فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ

"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya)."
(QS. Az-Zalzalah: 7)

Namun, kebaikan itu bernilai sempurna ketika tidak melanggar batas syariat dan batas kemampuan diri.


Penutup: Bijak dalam Berbuat Baik

Teruslah berbuat baik, karena itu jalan mulia.
Namun, berbuat baiklah dengan kesadaran dan batas, agar kebaikan itu tetap menjadi cahaya, bukan api yang membakar diri sendiri.

Ingatlah:
Allah tidak meminta kita mengorbankan ketenangan hati untuk kebaikan yang tidak mendekatkan kepada-Nya.


0Comments