BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Kajian PRM & PRA Cepu: Menyikapi Problematika Umat dan Hikmah Syariat Islam

Kajian PRM & PRA Cepu: Menyikapi Problematika Umat dan Hikmah Syariat Islam

Table of contents
×

Cepu, Rabu, 3 Desember 2025 — Masjid Taqwa Cepu menjadi tempat terselenggaranya kajian keislaman yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Cepu dan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Cepu. Kajian ini menghadirkan pemateri Ustadz Drs. H. Ali Maghfur, M.Pd., yang mengupas tema penting seputar problematika umat dan hikmah diturunkannya syariat Islam.


Problematika Umat di Era Kontemporer

Dalam pemaparannya, Ustadz Ali Maghfur menyoroti beberapa problem mendasar yang dihadapi umat Islam saat ini, di antaranya:

  1. Not Action, Talking Only, yakni banyaknya ceramah dan nasihat, namun tidak diiringi dengan ajakan nyata dan keteladanan menuju kebaikan.
  2. Perjuangan umat yang tidak kokoh, baik pada level lokal, nasional, maupun internasional, sehingga umat mudah terpecah dan kehilangan arah.
  3. Pelanggaran terhadap syariat, yang pada akhirnya melahirkan krisis moral, sosial, dan spiritual dalam kehidupan bermasyarakat.

Tujuan Allah Menurunkan Syariat

Ustadz Ali menegaskan bahwa syariat Islam diturunkan bukan untuk memberatkan manusia, melainkan sebagai rahmat dan petunjuk hidup. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَٰلَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)

Selain itu, Al-Qur’an juga hadir sebagai nasihat dan penyembuh bagi hati manusia:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌۭ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌۭ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًۭى وَرَحْمَةٌۭ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Yunus: 57)


Akar Kerusakan Manusia

Beliau menjelaskan bahwa kerusakan di muka bumi terjadi karena manusia memiliki hati, mata, dan telinga, namun tidak difungsikan untuk menerima kebenaran dan petunjuk Allah.


Makna Ibadah dalam Syariat Islam

Kajian dilanjutkan dengan penjelasan hikmah dari ibadah-ibadah utama dalam Islam:

  • Shalat: apabila dilakukan dengan benar, akan mencegah perbuatan keji dan mungkar.
  • Puasa, sebagaimana firman Allah:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

  • Zakat, sebagai sarana membersihkan dan menyucikan harta:

خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةًۭ تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.”
(QS. At-Taubah: 103)

Ustadz Ali menekankan bahwa setiap syariat pasti mengandung kemanfaatan bagi kehidupan manusia, baik secara individu maupun sosial.


Lima Prinsip yang Harus Dijaga

Sebagai penutup, beliau mengingatkan pentingnya menjaga lima hal pokok dalam kehidupan (maqashid syariah), yaitu:

  1. Menjaga agama,
  2. Menjaga jiwa,
  3. Menjaga akal,
  4. Menjaga harta,
  5. Menjaga kehormatan dan keturunan.

Penutup

Kajian berlangsung dengan penuh perhatian dan antusias jamaah. Diharapkan melalui kegiatan ini, umat Islam semakin memahami hakikat syariat sebagai rahmat, serta mampu menjawab problematika umat dengan ilmu, amal nyata, dan komitmen menjaga nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.



0Comments